Wandering & Wondering

Haruskah Ibu-Ibu Menulis?

12/12/2022

 

Menjadi seorang ibu adalah anugerah. Kita dianugerahi anak yang memanggil kita Ibu (atau apapun panggilannya). Namun, tak banyak yang membahas bahwa anugerah itu datang dengan sederet kekhawatiran, beribu-ribu kegelisahan dan pikiran yang menghantui.

 

Apakah aku sudah jadi ibu yang baik? kapan luka melahirkan ini sembuh dan aku kembali ke tubuhku semula? bagaimana kalau anakku sakit? apa yang harus aku lakukan jika ia sulit menyusu? temanku sudah mencapai posisi karir tertentu, apakah aku ketinggalan? anak tetangga sudah bisa berlari, anakku gimana? makananku enak enggak, ya? setrikaan kapan bisa kukerjakan? suamiku kecewa enggak ya sama aku? Aku lelah, kapan aku bisa me time? kapan aku bisa ngobrol sama temanku? dan jutaan pikiran lainnya.


Kadang, luka yang kita rasakan baik fisik setelah melahirkan atau luka-luka inner child yang muncul tiba-tiba akan semakin bising di kepala.


Sebenarnya dari pasca melahirkan, ingin sekali menuliskan ini itu, tapi rasanya sudah lelah mengurus newborn, dan pikiran yang kebingungan bikin membuat aku makin lelah juga. Keinginan menulis ditunda saja terus sampai akhirnya menumpuk di kepala, tidak kemana-mana, tetap di sana, menatap dan menunggu kapan untuk dituliskan. Maka, ya aku menulis di sini.


Jika ditanya, apakah ibu-ibu harus menulis? jawabanku, tidak harus. Tapi, kalau mungkin ingin suara dalam kepala ini terurai, menulis bekerja baik untukku.


Kalau kamu juga seorang ibu, dan merasakan hal yang sama denganku, itu artinya tulisan ini bisa membuatku dan kamu sebagai pembaca di luar sana, tidak merasa sendiri. Bisa jadi tulisanmu juga begitu.


Apakah ibu-ibu harus menulis? tidak harus. Tapi, aku akan sangat senang jika kamu, seorang ibu, mau. Jika tidak, kamu bisa tetap di sini dan membaca ceritaku.


Kalau kamu menemukan tulisan ini, selamat datang, silakan masuk. Semoga kamu bisa jadi temanku bercerita tentang bagaimana ibu baru ini mengarungi hari-hari yang sebenarnya ya bisa jadi biasa saja.


Meski biasa saja, bukankah tetap bisa jadi anugerah?

Post Comment
Post a Comment