Wandering & Wondering

Saturday, 22 June 2019

Kau Tidak Bisa Mencintai Orang Lain, Sebelum Kau Mencintai Dirimu Sendiri, Kata Mereka.


Entah di mana aku pertama kali menemukan kalimat itu. Kalimat yang rasa-rasanya sulit untuk kutelan utuh. Karena, bagaimana bisa aku menyayangi orang lain? Sedangkan mencintai diriku adalah hal yang kurasa paling sulit kulakukan sejak dulu.

Seseorang pernah bertanya padaku tentang apa yang kucintai dari diriku, kelebihan apa yang aku miliki menurutku. Tapi aku bergeming. Aku berusaha mencari-cari kata-kata baik untuk menggambarkan diriku, tapi tidak pernah bisa aku temukan. Dan semua kata-kata yang orang lain susun tentang hal-hal apa yang mesti aku cintai dari diriku terasa asing di dalam telingaku sendiri.

Jika kita kembali pada kalimat bijak kata mereka tentang ketidakbisaan untuk mencintai orang lain, sebelum mencintai diri sendiri, maka kesimpulannya adalah aku tidak pernah bisa mencintai orang lain. Begitu, kan?

But, guess what?

I did it anyway. And I hope I’ll do it again over and over.

Dalam ketidakbisaanku mencintai diri sendiri, aku menemukan cinta pada wajah teman-temanku; atas kebaikan apapun yang mereka lakukan, terlebih sahabat-sahabat yang bertahan berada di sisiku hingga sekarang. Mereka yang secara tiba-tiba memberi kejutan-kejutan kecil yang membahagiakan, yang mendoakan, yang menyemangati, atau yang berbagi perhatian dengan berbagai bentuk berbeda. God, I love them so much!

Melanjutkan pendidikan ke dunia pendidikan pun membawaku untuk sukarela memberikan hatiku pada tiap jiwa yang ada di dalam kelas. Pada setiap anak yang kutemui di dalam atau di luar kelas, pada setiap anak yang menyeretku ke sudut lain di sekolah untuk mereka bagikan sedikit kisah tentang hidup mereka, pada setiap anak yang bahkan tidak suka dengan pelajaran yang aku bawa ke hadapan mereka. Tapi ujungnya, aku memutuskan mundur seutuhnya saja dari dunia pendidikan itu, karena aku tidak bisa mengendalikan rasa sayang yang terlalu berlebihan ini. Tapi tetap saja, doa untuk mereka selalu aku sematkan.

Dan tidak perlu waktu lama bagiku untuk terharu dan berkaca-kaca setiap kata tentang keluarga muncul ke permukaan. Betapa aku harap mereka memiliki seluruh kebahagiaan di dunia.

Belum lagi guru, dosen, senior-senior yang mau membimbingku hingga saat ini. Bagaimana aku tidak mencintai mereka? Mereka adalah orang-orang yang berilmu yang ketika ilmunya semakin bertambah, justru semakin tercemin perilaku yang rendah hati.

Bagaimana bisa aku tidak mencintai mereka, meski aku belum bisa mencintai diriku secara utuh?

Dalam perjalanan panjang hidup ini, akhirnya aku menemukan cara untuk mencintai diriku sendiri, bersamaan dengan perjalanan aku mencintai orang lain. Sekarang akhirnya aku menyadari bahwa Yang Maha Menguasai Semesta saja begitu mencintai diriku dengan mengirimkan orang-orang baik dalam hidupku, kenapa aku yang tidak memiliki apa-apa ini dan bukan siapa-siapa ini begitu angkuh untuk tidak memaafkan dan tidak mencintai diriku sendiri? Kenapa aku seangkuh itu ya dulu?

Gelombang kesyukuran itu membasuh tubuhku seutuhnya. Aku belajar mencintai diriku sebagai bukti aku begitu mencintai Pencipta yang menciptakanku.

Aku berterima kasih juga pada diriku yang dulu atas tindakan berani untuk mencintai orang lain, meski di saat aku kesulitan mencintai diriku sendiri. Banyak yang menunggu untuk dicintai, namun tidak semua orang cukup berani dan cukup kuat untuk berusaha mencintai orang lain. Kini, yang aku lakukan adalah untuk tidak lagi membeda-bedakan cinta mana yang untuk orang lain, cinta yang mana untuk diriku sendiri. Kini aku belajar melakukan keduanya, seutuhnya.

Jika kau masih belum mencintai dirimu sendiri, tidak ada salahnya tetap menebar kasih dan sayang pada sesama, kan? Tidak ada salahnya berbuat baik, meski kau rasa dirimu belum baik. Tidak ada salahnya untuk tersenyum, meski hatimu masih terluka. Tidak ada salahnya menyalakan cahaya bahagia pada diri orang lain, meski kau rasa bahagiamu sendiri saja belum utuh adanya. Tidak ada salahnya melakukan urutan-urutan kehidupan berbeda dengan orang lain. Tidak ada salahnya.

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza