Wandering & Wondering

Thursday, 4 October 2018

Cinta yang Cukup


Hati-hati berbagai bentuk lewat dibawah badai. Wajahnya rupa-rupa, senyum, murung, penuh amarah tapi berhati hujan atau pada sudut-sudut dan ruang tersembunyi penuh badai tiada yang tahu.

Dengan hati yang juga sama-sama hujan, aku menyurati Sang Pemilik Semua Hati, meminta untuk diberikan cinta yang cukup untuk setiap wajah-wajah berbagai bentuk dan hati yang sama-sama hujan.

Tangan selemah aku tak akan sanggup menahan semua beban dan tak akan sanggup memayungi semua hati satu satu agar hujan tak lagi mengenai mereka. Hati yang juga kecil dan rapuh ini tak cukup untuk dibagikan untuk menambal semua hati yang robek sana-sini, maka apa yang bisa aku lakukan selain menulis surat pada Sang Pemilik Cinta untuk memberikan cinta yang cukup pada mereka.

Cinta yang cukup untuk menemani mereka berteduh sekali-kali, dan menemani menari kala hujan tak kunjung usai. Cinta yang cukup untuk menambal celah-celah hati mereka agar kembali utuh, meski hidup akan meluluhlantakannya lagi. Cinta yang cukup untuk mereka dan cukup untuk mereka bagikan pada tubuh-tubuh lainnya. Cinta yang cukup untuk mereka mencintai-Mu, Wahai Maha Cinta.

Berikan aku cukup cinta, agar yang keluar dari mulutku adalah cinta bukan caci. Meski mungkin aku bisa lupa dan malah menyakiti, maka berikanlah aku cukup cinta untuk mampu menyembuhkan yang tersakiti oleh tubuh yang ringkih ini.

Beri aku cinta yang cukup, untuk mencintai-Mu dan membagikan cinta karena-Mu.


Friday, 6 July 2018

Ngobrol Film: Tabula Rasa (2014)

Sumber gambar: https://www.behance.net


Tabula Rasa (2014) merupakan film Indonesia yang menghadirkan masakan-masakan khas rumah makan Padang sebagai benang merah cerita. Film ini disebut-sebut sebagai food film pertama di Indonesia. Meski berlatar di sebuah rumah makan padang, tokoh utamanya adalah Hans, pemuda dari Papua. Menarik, bukan? Indonesia Barat dan Timur bertemu di Ibu kota, di sebuah rumah makan Padang.

Obrolan film kali ini sepertinya akan sangat subjektif (Padahal sepertinya postingan tentang ngobrol film akan selalu subjektif, haha). Karena, sumpah saya sangat suka film ini!

Baiklah, kita mulai dari sinopsis cerita dulu saja. Film ini menceritakan tentang seorang lelaki dari Serui, Papua, yang bernama Hans. Hans yang tinggal di Panti Asuhan di Papua ini diundang untuk bergabung dengan klub Sepak Bola di Jakarta. Sayangnya, ketika sudah meninggalkan Papua, ia harus menelan pil pahit. Kakinya cedera dan ia didepak dari klubnya, sehingga ia hidup menggelandang di Ibu kota. Nasibnya berubah arah ketika ia bertemu dengan Mak, seorang pemilik rumah makan padang. Mak berbaik hati mengajak Hans ke Rumah makan padangnya. Kehadiran Hans dalam rumah makan padang yang sepi pelanggan itu menimbulkan konflik-konflik dengan Natsir dan Parmanto (Saudara Mak yang sama-sama bekerja di Rumah Makan Padang). Cerita berlanjut dengan Hans yang nantinya belajar cara memasak masakan padang dari Mak.

Film bergenre drama keluarga ini seriusan bagus! Bagus banget! (Lebay haha). Saya merasa menyesal baru menontonnya tahun ini (Andai saja film ini bisa tayang ulang di bioskop lagi, saya mau nonton! wajib!). Pertama kali saya tahu tentang film ini adalah ketika saya mengikuti kelas filmmaker di Salman Academy pada tahun 2015, saat itu kami hanya menonton sekilas behind the scene dari Tabula Rasa untuk mempelajari penataan artistik dari film. Saat itu kami dibuat takjub dengan bagaimana kru film merancang set film yang sangat realistis dari sebuah rumah makan padang dan dapurnya. Tidak hanya itu, aktor-aktor dalam film ini juga belajar bagaimana berbahasa minang dengan baik, sehingga bahasa minang yang menjadi bahasa utama dalam film bukan bahasa Indonesia yang 'diminang-minangkan'. Saya kadang suka kesal kalau lihat bagaimana film-film, FTV, dan sinetron di Indonesia menampilkan suatu bahasa dan budaya setengah-setengah, kadang aktor yang berbahasa sunda hanya berupa bahasa Indonesia yang disunda-sundakan, yang sebenarnya kalau orang sunda asli tidak begitu-begitu amat. Atau misalnya kalau menghadirkan orang jawa, cuman asal 'medok' saja. Aish... (Oke, ini cuman curcol sekilas saja, haha). Dalam film ini, kru film yang mendapatkan direksi dari sutradara Adriyanto Dewo ini, menghadirkan film yang terasa dekat dengan penonton Indonesia pada umumnya yang terbiasa melihat rumah makan padang di mana-mana. Ketika itu saja, saya sudah sangat penasaran dengan filmnya, dan baru kesampean tahun 2018 ini. Kini, setelah saya menonton film ini, saya melihat rumah makan padang dengan rasa yang berbeda (Hazeeek....).

Film ini bukan sekedar film masak memasak, lebih dari itu film ini menyampaikan begitu banyak pesan kebaikan. Premis film tentang seorang pesepak bola yang menjadi gelandangan dan diselamatkan oleh sebuah keluarga yang memiliki rumah makan padang tentunya unik dan menarik. Bagaimana Hans melanjutkan hidup dengan impiannya yang kandas di tengah jalan? Bagaimana Mak bisa bertahan untuk 'menyelamatkan' Hans sedangkan ia dan keluarganya saja perlu mati-matian menghidupkan rumah makan padang yang sepi pengunjung? Pertanyaan-pertanyaan itu yang berputar di kepala saya dan membuat saya penasaran dengan ending film. Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat saya menikmati setiap scene-scene film yang berisi drama konflik manusia lengkap dengan shoot-shoot cara membuat masakan padang yang menggiurkan.

Film yang menghadirkan budaya Indonesia barat dan timur ini juga menampilkan bagaimana tokoh-tokoh yang berbeda budaya dan agama bisa berdampingan. Film ini mengajarkan bagaimana niat dan perbuatan baik kita sebagai manusia akan dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik, bagaimana kita bisa bertahan dengan kehidupan yang bisa meninggikan kita dan menjatuhkan di detik selanjutnya, bagaimana makna sebuah keluarga, bagaimana perbuatan baik itu adalah hal sulit yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang kuat, karena perbuatan baik selalu akan menemukan halangan yang memaksa kita untuk berhenti memikirkan orang lain, dan pesan-pesan lainnya. Oh iya, di sela-sela skenario yang apik, diselipkan juga fakta-fakta kuliner di Indonesia loh. Pokoknya sangat menarik sekali.

Dari berbagai stereotip negatif tentang Indonesia, film ini bagi saya menghidupkan lagi makna Indonesia sebagai sebuah negara dengan bangsa yang ramah dan baik hati, bangsa yang berbeda-beda namun saling toleransi, dan tentunya bangsa dengan kekayaan kuliner dengan cita rasa tinggi. Bagi saya, Tabula Rasa adalah Indonesia.


***

Catatan:
Berikut trailer dari film Tabula Rasa, silakan tonton.
Ah ya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada seluruh kru film Tabula Rasa telah menghadirkan film yang baik dan apik dalam layar kaca Indonesia. Maaf saya tidak menonton langsung (Telat tahunya, hiks).Cukup sedih juga jadinya, karena film-film baik seperti ini kurang terdengar gaungnya dibandingkan film-film yang 'asal laku' lainnya.
Selanjutnya, saya akan lebih memperhatikan film-film Indonesia dan mendukung film-film Indonesia yang berkualitas baik. Film-film yang 'bagus' harus juga terkenal dan mengemuka, agar masyarakat tahu bahwa film-film Indonesia juga ada yang memiliki cerita yang menarik, eksekusinya baik dan tidak kalah dari film-film luar negeri lainnya. Hidup perfilman Indonesia!


Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza