Wandering & Wondering

Sunday, 30 December 2018

Anyer, Suatu Hari


Suatu hari, 2 tahun lalu, saya mengunjungi dua sahabat baik saya di Banten. Menengok satu orang di Serang--namanya Syifa--kemudian "menculiknya" ke Anyer untuk menemui satu orang lagi yaitu Aam. Perjalanan dari Serang ke Anyer butuh waktu tidak cukup lama, sepertinya kurang dari satu jam dengan mengendarai sepeda motor. Aam mengajak seorang saudaranya untuk bergabung dengan perjalanan kami. Saya saat itu ingin pergi ke Pantai Karang Bolong, dan ketiga orang Banten itu mengiyakan keinginan saya. Beruntung sekali punya mereka.

Ketika kami sampai di tempat parkiran motor Pantai Karang Bolong, kami kaget dengan biaya parkir yang mahal, kalau tidak salah 15ribu rupiah atau lebih ya. Saya lupa. Belum lagi biaya masuk pantai Karang Bolong yang juga mahal (Lagi-lagi saya lupa berapa harganya). Lumayan itu ongkosnya bisa dipakai jajan saya selama berkunjung di sana. Hehe. Akhirnya setelah masuk ke parkiran dan menanyakan harga parkir, kami pergi dari parkiran tersebut dan tidak jadi parkir. Haha. Sekere itu saya.

Teman saya yang bahkan orang Anyer juga tidak bisa menawar cantik, jadilah kami pergi ke pantai lain di sebelah pantai Karang Bolong, yang tidak banyak dikunjungi orang. Bahkan lebih tepatnya, tidak ada yang mengunjungi. Di pantai itu, ada satu warung dan dermaga yang belum jadi. Kamipun memutuskan untuk menghabiskan waktu di pantai gratis dan sepi itu. Yang penting saya bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman saya, pemandangan indah ya bonus.

Ketika kami sampai di pantai itu, saya melihat anak-anak bergelantungan di atas pohon. Saya berteriak ke arah mereka, "Nujuuu naooon?" ("Lagi ngapain?")
"Biasa teh! Ulin!" (Biasa aja, Teh. Main.)
Ketika saya mengarahkan kamera ke arah mereka, mereka semakin cari perhatian dan heboh.



Tidak lama kemudian, mereka turun dari pohon. Masih cekakak-cekikik. Saya masih terus mengajak mereka mengobrol dan mereka semakin bersemangat. Akhirnya mereka melepas baju mereka seluruhnya (Ya! Seluruuuuhnya!) dan melompat ke dalam air laut.

"Teh, poto atuh teeeeh!" (Teh, poto dong teh!)

Mereka semakin heboh menunjukkan atraksi-atraksi di dalam air. Tapi, tidak bisa saya tampilkan semua. Karena tidak lulus sensor. Hahahaha. Lalu saya izin untuk berfoto di tempat lain, dan mereka masih melanjutkan renang asyik mereka.


Sebuah Jalan Pintas

Ada beberapa spot foto menarik di pantai sepi itu. Kami berfoto sana-sini. Lalu, karena masih penasaran dengan pantai Karang Bolong yang mahal itu, saya bertanya pada anak-anak itu ada tidak jalan pintas ke Karang Bolong tanpa harus bayar.

"Ayaaaa, teh!" (Ada, Teh!)

Kemudian, mereka memakai baju mereka dengan badan yang masih basah, satu orang membawa sebuah bola dan berkata, "Asal engke kudu maen bola" (Asal nanti harus main bola)

"Ah, gampang eta mah" kataku

Kemudian mereka mengajak kami berjalan dan melewati suatu jalan rahasia yang sepertinya tidak boleh saya sampaikan di sini. Karena itu rahasia kami. Haha Semoga kenekatan ini diampuni dan dimaafkan. Ketahuan kan jadinya kami ini penyelundup kere (Diposting pula di Internet, Sar!)

Setelah kami tiba di pantai Karang Bolong dengan selamat dan tidak ketahuan petugas setempat, kami berfoto sana-sini. Sepanjang bermain dan berfoto di area Pantai Karang Bolong, anak-anak pemandu itu terus meminta kami untuk bermain bola. Ya, mereka mengingat janji saya sejak awal. Janji bermain bola itu yang membuat mereka mau menunjukkan jalan pintas nan berbahaya ke dalam pantai Karang Bolong. Akhirnya saya dan teman-teman saya menyanggupi. Permainan bola di pinggir pantai itu adalah permainan bola paling epik. Bukan karena tim saya dan teman-teman lain kalah, tapi juga karena saya tidak menyangka, bermain bola dengan kami saja sudah membuat mereka sebahagia itu.

Iya, senyuman mereka secandu itu!

Candu senyuman itu yang membuat saya selalu berusaha mencari anak-anak di setiap perjalanan. Selalu ada keajaiban-keajaiban kecil yang membuat perjalanan saya menjadi menarik jika mengikuti anak-anak.





Tsunami Selat Sunda pada Desember 2018

Ketika berita tentang tsunami menghantam Anyer, saya langsung teringat dengan teman-teman saya di sana. Syukurlah mereka aman, karena memang rumah mereka jauh dari pantai dan berada di dataran tinggi. Lalu, saya juga teringat pada anak-anak itu. Dua tahun memang sudah berlalu, saya juga sudah lupa dengan nama-nama anak itu, tapi kebahagian saya hari itu nampaknya tidak juga meluruh. Kebahagiaan dari kenangan itu kemudian berbuah kekhawatiran akan kondisi mereka.

Saya juga membayangkan begitu banyak anak-anak yang bahagianya mungkin terenggut seketika, orang tua-orang tua yang kehilangan anaknya, atau anak-anak yang kehilangan orang tuanya, atau masyarakat lain yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Saya melayangkan doa banyak-banyak untuk mereka, juga untuk seluruh masyarakat yang terkena bencana tsunami, baik di Anyer maupun Lampung. Saya berharap mereka dalam keadaan yang baik, jikapun ternyata kemalangan menghampiri mereka, saya berharap mereka diberi kekuatan untuk melalui bencana ini dengan ikhlas. Dan saya harap menemui senyum mereka lagi, antusias mereka lagi, semangat mereka lagi, kebahagiaan mereka lagi.

Stay Strong, Anyer dan Lampung.
Thursday, 4 October 2018

Cinta yang Cukup


Hati-hati berbagai bentuk lewat dibawah badai. Wajahnya rupa-rupa, senyum, murung, penuh amarah tapi berhati hujan atau pada sudut-sudut dan ruang tersembunyi penuh badai tiada yang tahu.

Dengan hati yang juga sama-sama hujan, aku menyurati Sang Pemilik Semua Hati, meminta untuk diberikan cinta yang cukup untuk setiap wajah-wajah berbagai bentuk dan hati yang sama-sama hujan.

Tangan selemah aku tak akan sanggup menahan semua beban dan tak akan sanggup memayungi semua hati satu satu agar hujan tak lagi mengenai mereka. Hati yang juga kecil dan rapuh ini tak cukup untuk dibagikan untuk menambal semua hati yang robek sana-sini, maka apa yang bisa aku lakukan selain menulis surat pada Sang Pemilik Cinta untuk memberikan cinta yang cukup pada mereka.

Cinta yang cukup untuk menemani mereka berteduh sekali-kali, dan menemani menari kala hujan tak kunjung usai. Cinta yang cukup untuk menambal celah-celah hati mereka agar kembali utuh, meski hidup akan meluluhlantakannya lagi. Cinta yang cukup untuk mereka dan cukup untuk mereka bagikan pada tubuh-tubuh lainnya. Cinta yang cukup untuk mereka mencintai-Mu, Wahai Maha Cinta.

Berikan aku cukup cinta, agar yang keluar dari mulutku adalah cinta bukan caci. Meski mungkin aku bisa lupa dan malah menyakiti, maka berikanlah aku cukup cinta untuk mampu menyembuhkan yang tersakiti oleh tubuh yang ringkih ini.

Beri aku cinta yang cukup, untuk mencintai-Mu dan membagikan cinta karena-Mu.


Friday, 6 July 2018

Ngobrol Film: Tabula Rasa (2014)

Sumber gambar: https://www.behance.net


Tabula Rasa (2014) merupakan film Indonesia yang menghadirkan masakan-masakan khas rumah makan Padang sebagai benang merah cerita. Film ini disebut-sebut sebagai food film pertama di Indonesia. Meski berlatar di sebuah rumah makan padang, tokoh utamanya adalah Hans, pemuda dari Papua. Menarik, bukan? Indonesia Barat dan Timur bertemu di Ibu kota, di sebuah rumah makan Padang.

Obrolan film kali ini sepertinya akan sangat subjektif (Padahal sepertinya postingan tentang ngobrol film akan selalu subjektif, haha). Karena, sumpah saya sangat suka film ini!

Baiklah, kita mulai dari sinopsis cerita dulu saja. Film ini menceritakan tentang seorang lelaki dari Serui, Papua, yang bernama Hans. Hans yang tinggal di Panti Asuhan di Papua ini diundang untuk bergabung dengan klub Sepak Bola di Jakarta. Sayangnya, ketika sudah meninggalkan Papua, ia harus menelan pil pahit. Kakinya cedera dan ia didepak dari klubnya, sehingga ia hidup menggelandang di Ibu kota. Nasibnya berubah arah ketika ia bertemu dengan Mak, seorang pemilik rumah makan padang. Mak berbaik hati mengajak Hans ke Rumah makan padangnya. Kehadiran Hans dalam rumah makan padang yang sepi pelanggan itu menimbulkan konflik-konflik dengan Natsir dan Parmanto (Saudara Mak yang sama-sama bekerja di Rumah Makan Padang). Cerita berlanjut dengan Hans yang nantinya belajar cara memasak masakan padang dari Mak.

Film bergenre drama keluarga ini seriusan bagus! Bagus banget! (Lebay haha). Saya merasa menyesal baru menontonnya tahun ini (Andai saja film ini bisa tayang ulang di bioskop lagi, saya mau nonton! wajib!). Pertama kali saya tahu tentang film ini adalah ketika saya mengikuti kelas filmmaker di Salman Academy pada tahun 2015, saat itu kami hanya menonton sekilas behind the scene dari Tabula Rasa untuk mempelajari penataan artistik dari film. Saat itu kami dibuat takjub dengan bagaimana kru film merancang set film yang sangat realistis dari sebuah rumah makan padang dan dapurnya. Tidak hanya itu, aktor-aktor dalam film ini juga belajar bagaimana berbahasa minang dengan baik, sehingga bahasa minang yang menjadi bahasa utama dalam film bukan bahasa Indonesia yang 'diminang-minangkan'. Saya kadang suka kesal kalau lihat bagaimana film-film, FTV, dan sinetron di Indonesia menampilkan suatu bahasa dan budaya setengah-setengah, kadang aktor yang berbahasa sunda hanya berupa bahasa Indonesia yang disunda-sundakan, yang sebenarnya kalau orang sunda asli tidak begitu-begitu amat. Atau misalnya kalau menghadirkan orang jawa, cuman asal 'medok' saja. Aish... (Oke, ini cuman curcol sekilas saja, haha). Dalam film ini, kru film yang mendapatkan direksi dari sutradara Adriyanto Dewo ini, menghadirkan film yang terasa dekat dengan penonton Indonesia pada umumnya yang terbiasa melihat rumah makan padang di mana-mana. Ketika itu saja, saya sudah sangat penasaran dengan filmnya, dan baru kesampean tahun 2018 ini. Kini, setelah saya menonton film ini, saya melihat rumah makan padang dengan rasa yang berbeda (Hazeeek....).

Film ini bukan sekedar film masak memasak, lebih dari itu film ini menyampaikan begitu banyak pesan kebaikan. Premis film tentang seorang pesepak bola yang menjadi gelandangan dan diselamatkan oleh sebuah keluarga yang memiliki rumah makan padang tentunya unik dan menarik. Bagaimana Hans melanjutkan hidup dengan impiannya yang kandas di tengah jalan? Bagaimana Mak bisa bertahan untuk 'menyelamatkan' Hans sedangkan ia dan keluarganya saja perlu mati-matian menghidupkan rumah makan padang yang sepi pengunjung? Pertanyaan-pertanyaan itu yang berputar di kepala saya dan membuat saya penasaran dengan ending film. Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat saya menikmati setiap scene-scene film yang berisi drama konflik manusia lengkap dengan shoot-shoot cara membuat masakan padang yang menggiurkan.

Film yang menghadirkan budaya Indonesia barat dan timur ini juga menampilkan bagaimana tokoh-tokoh yang berbeda budaya dan agama bisa berdampingan. Film ini mengajarkan bagaimana niat dan perbuatan baik kita sebagai manusia akan dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik, bagaimana kita bisa bertahan dengan kehidupan yang bisa meninggikan kita dan menjatuhkan di detik selanjutnya, bagaimana makna sebuah keluarga, bagaimana perbuatan baik itu adalah hal sulit yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang kuat, karena perbuatan baik selalu akan menemukan halangan yang memaksa kita untuk berhenti memikirkan orang lain, dan pesan-pesan lainnya. Oh iya, di sela-sela skenario yang apik, diselipkan juga fakta-fakta kuliner di Indonesia loh. Pokoknya sangat menarik sekali.

Dari berbagai stereotip negatif tentang Indonesia, film ini bagi saya menghidupkan lagi makna Indonesia sebagai sebuah negara dengan bangsa yang ramah dan baik hati, bangsa yang berbeda-beda namun saling toleransi, dan tentunya bangsa dengan kekayaan kuliner dengan cita rasa tinggi. Bagi saya, Tabula Rasa adalah Indonesia.


***

Catatan:
Berikut trailer dari film Tabula Rasa, silakan tonton.
Ah ya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada seluruh kru film Tabula Rasa telah menghadirkan film yang baik dan apik dalam layar kaca Indonesia. Maaf saya tidak menonton langsung (Telat tahunya, hiks).Cukup sedih juga jadinya, karena film-film baik seperti ini kurang terdengar gaungnya dibandingkan film-film yang 'asal laku' lainnya.
Selanjutnya, saya akan lebih memperhatikan film-film Indonesia dan mendukung film-film Indonesia yang berkualitas baik. Film-film yang 'bagus' harus juga terkenal dan mengemuka, agar masyarakat tahu bahwa film-film Indonesia juga ada yang memiliki cerita yang menarik, eksekusinya baik dan tidak kalah dari film-film luar negeri lainnya. Hidup perfilman Indonesia!


Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza