Wandering & Wondering

Tuesday, 26 December 2017

Alergi Kebaikan Kah Kita?



Perbincangan yang lalu-lalang dalam perjalanan kita sehari-sehari penuh dengan berbagai masalah-masalah yang terasa menyesakkan, jangan ditanya lagi apa yang ada di media sosial. Berita-berita bertebaran yang meresahkan dan membuat dada menjadi tak enak. Sayangnya hal itu terasa biasa dan telah menjadi makanan sehari-hari, tak bisa rasanya jika tidak menyerang pendapat yang berbeda dengan kita. Dahi kita telah terbiasa berkerut dan mulut kita terbiasa mengerucut. Meme dijadikan alat untuk menyindir dan kita tersenyum ketika melihat sindiran berbalut gambar. Komentar berisi saling serang dan kita sudah biasa. Benarkah kita sudah biasa dengan kekalutan yang tersebar? Apakah hal-hal baik sudah jadi hal asing?

***

Kita beralih sebentar pada curhatan saya. Saya baru saja menonton film Ayat-Ayat Cinta 2, sebenarnya saya belum membaca novelnya yang kedua, terakhir saya baca Ayat-Ayat Cinta yang pertama adalah ketika saya SMP dan saya suka. Kemudian, AAC tiba-tiba meledak dan begitu banyak novel yang mengikuti dengan kata 'cinta' dan sampul novel yang serupa. Bahkan, isi tokohnya terkesan selalu sama, seorang lelaki serba sempurna yang diincar oleh banyak wanita. Akhirnya saya jadi muak sendiri. Tapi, saya tetap saja menonton Ayat-Ayat Cinta 2 karena saya penasaran juga apa yang akan diangkat oleh kisah kali ini. 

Ketika saya mengikuti jalan filmnya, saya sudah siap-siap untuk 'menghakimi' tokoh Fahri, mencari kesempurnaan apa lagi yang ditampilkan dan seberapa banyaknya wanita yang mengejar sosoknya. Dan benar saja hal itu terjadi (Spoiler Alert telat). Tapi, ketika saya sampai pada pertengahan film, saya melihat begitu banyak pesan yang disampaikan tentang toleransi, keberagaman, memilih berbuat baik pada berbagai situasi, tentang ikhlas, tentang kerja keras terlepas dari sosok Fahri yang 'terlalu' sempurna menurut saya. Saya akhirnya bertanya-tanya sendiri, apakah semua kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam film tersebut begitu buram di mata saya hanya karena saya tidak 'sreg' dengan tokohnya? Apakah pikiran saya begitu tertutup sehingga tidak menerima pesan-pesan kebaikan universal hanya karena menurut saya kisahnya dapat ditebak begitu saja? 

Terhentak, saya jadi malu sendiri. Sebegitukah alerginya saya pada kebaikan hanya karena pikiran-pikiran menghakimi?

Saya kemudian melihat ke penonton lain yang sedang menonton film tersebut, banyak dari mereka yang berkaca-kaca, mengusap matanya berkali-kali, tersenyum, atau menutupi kesedihan dengan berlindung dari telapak tangan mereka yang menutupi wajah. Ah, film ini sudah berbuat banyak. Film ini telah menyentuh banyak orang dan siapa tahu ketika keluar dari studio ada yang terinspirasi untuk berbuat kebaikan yang sama. Urusan plot dan tokoh biarkan masuk pada ranah kritik sisi lain tanpa harus menolak kebaikannya. Toh, saya yang hanya bisa menghakimi ini, bisa apa? punya karya pun tidak. Jangankan menginspirasi, urusan dengan diri saja rasanya belum tuntas. 

Saya jadi teringat, dulu saya pernah bilang bahwa saya tidak suka seorang penceramah karena gaya berceramahnya terlalu keras dan tidak lembut. Saya berpikiran bahwa ceramah harus disampaikan dengan penuh kelembutan dan menyentuh. Tapi, hal itu justru membuat saya menutup pesan-pesan kebaikan yang ingin disampaikan, hanya karena penceramahnya tidak sesuai dengan saya. Siapa lu, Sar? 

Sungguh saya malu. 

Alergi kah saya dengan kebaikan?

Atau mungkin orang lain juga? apalagi alasan dari munculnya kata-kata yang terkenal, "Kamu terlalu baik untuk aku" haha, meski sebenarnya itu hanya kata-kata akal-akalan. Tapi, ya kalau seseorang terlalu baik justru pantas dijauhi, terus yang didekati ingin seperti apa? Yang tidak membawa kebaikan? sebegitukah kita alergi dengan kebaikan? 

Orang yang berbuat baik dikatakan palsu dan munafik. Biarlah soal palsu dan asli itu urusan niat yang melakukan, urusan kita bukanlah menghakimi niatnya seolah kita paling tahu, kan? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga setiap melihat kebaikan kita sindir sebagai sesuatu hal yang sok suci? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga kita lebih baik memilih menyakiti dan menyebar rasa sakit?

Dalam perenungan, saya mencoba membuka pikiran saya seluas-luasnya. Pesan-pesan kebaikan bisa jadi bertebaran di sekeliling saya, dari seorang anak kecil, dari teman-teman yang berbeda pendapat dengan saya, dari orang-orang berbagai karakter yang lembut hingga yang tegas, dari media apapun. Dan bisa jadi saya melewatkan semua itu. Ah, akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa pesan-pesan kebaikan bisa jadi hadir dari arah yang tidak disangka-sangka sekalipun dari orang-orang yang tidak kita suka, atau menurut kita belum berkapasitas untuk menyampaikan kebaikan itu karena usia atau faktor lainnya, dan apabila kita tidak membuka pikiran dan hati kita, bagaimana cahaya kebaikan itu bisa masuk ke dalam jiwa kita? 

Saya tidak ingin jadi seseorang yang alergi kebaikan. Saya ingin merengkuh kebaikan-kebaikan yang bertebaran di tengah dunia dan semoga saja saya bisa melihat pesan kebaikan itu dari kebaikan itu sendiri, melepaskan segala atribut orang yang menyampaikannya terlebih dulu dan fokus pada kebaikannya. 

Dalam dunia yang di mana berita buruk bertebaran, perdebatan ditumbuh suburkan, saling sindir jadi pilihan, maukah kita sama-sama bersepakat untuk berhenti sejenak dari segala keriuhan dan sama-sama mengobati diri kita dari berbagai jenis alergi, termasuk alergi kebaikan? Saya percaya manusia pada dasarnya semua baik dan ingin menjadi lebih baik. Maka, mari kita sama-sama mengecap secangkir cahaya-cahaya kebaikan. Semoga saja kita tidak alergi kebaikan lagi lantaran sudah terlalu lama hidup dalam dunia penuh caci maki.



Friday, 1 December 2017

Titik Nol



Pesawat mengudara dan melayang menghiasi langit dini hari di Bandara Soekarno-Hatta yang mendung itu. Pada raga yang masih menempel di kursi pesawat, saya menghela napas-napas kesyukuran. Betapa, saya yang kampungan dan baru pertama kali naik pesawat ini bisa berada di udara. 

Hari itu saya berangkat ke Aceh dan segera menuju pulau Weh. Sebuah pulau paling barat Indonesia. Saya tak menyangka betapa harapan kecil saya dipeluk oleh semesta dan dikabulkan oleh Pemilik Semesta itu sendiri. 

Bagi banyak orang, naik pesawat dan pergi ke pulau ini adalah suatu hal yang biasa. Ah, jangankan pulau ini, belahan dunia lain pun mungkin telah disambangi. Namun, betapa bagi saya yang belum banyak kemana-kemana dan belum punya pengalaman menaiki burung besi ini menjadi sebuah pengalaman yang menjadi ramai dalam kepala saya.

 Dada saya tidak hanya sesak oleh rasa bahagia. Tapi, ada rasa lain yang menyelinap perlahan sepanjang perjalanan. Sebuah rasa yang menjadikan saya kerdil sekerdil-kerdilnya. Bagaimana tidak? Setelah saya melihat rumah dan gedung di bawah saya yang semakin lama semakin mengecil, saya tidak hanya membayangkan manusia lain dengan sosok hebatnya, hartanya, gedung-gedung yang dibangunnya juga menjadi sesuatu yang kecil. Tapi, saya sendiri yang mengangkasa ini adalah sosok yang juga kecil dalam pandangan mereka yang menjejak di bumi. Betapa pesawat yang saya dulu idam-idamkan untuk dinaiki hanyalah suatu benda lewat di udara, dan manusia yang berada di dalamnya seperti saya bahkan lebih kecil dari titik itu sendiri. Keberuntungan saya mendapat hadiah perjalanan ini, ilmu yang saya punya, uang, dan berbagai hal yang melekat pada diri saya sebagai--yang katanya--milik saya adalah suatu hal yang tidak tampak dan bukanlah apapun sama sekali. Bahkan bukan setitik debu sekalipun.

Perjalanan ini tidak hanya mengantarkan saya untuk menyelami laut di Iboih, berfoto di berbagai tempat indah, memakan berbagai hidangan khas Aceh, dan tidak hanya mengantarkan saya pada monumen kilometer nol Indonesia. Tapi, perjalanan ini juga mengantarkan saya pada titik nol. Sebuah penyadaran bahwa Jika Sang Pemilik Semesta ini mau, Dia bisa memindahkan diri saya ke manapun dan merasakan keindahan apapun. Dia bisa membolak-balikan hati saya sesuai kehendak. Lantas, saya ini patut membanggakan apa dari nolnya diri saya? manusia yang hakikatnya nol. Berasal dari titik nol, selalu berada dalam kondisi titik nol, dan berakhir kelak pada titik nol pula. 
Dan jika Sang Pencipta Semesta ini mau, maka ketidakmungkinan dapat diubah menjadi kemungkinan, begitu pun dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat Dia ubah menjadi ketidakmungkinan. Maka, kegelisahan dan kekhawatiran saya selama ini hanyalah buah dari saya yang kurang yakin dengan itu semua dan saya tidak ingin tidak meyakini ini semua. Saya yang nol ini ingin sepenuhnya yakin bahwa semua hal akan baik-baik saja selama kita punya cinta dari Sang Pencipta. 


Sara Fiza, 13 November 2017.
Dalam perjalanan udara melewati pulau Sumatera.

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza