Wandering & Wondering

Wednesday, 13 September 2017

Proses Memulihkan Diri


Hidup adalah rangkaian ujian. Kita sangat mengenal kata-kata itu, bukan? dan tentu kita sudah sangat mengenal kata "Masalah" dan "Ujian". Oh, Tidak hanya mengenal, dua kata itulah yang menemani kita bercengkerama. Merekalah teman hidup kita yang menguntit dan memeluk kita kemudian membanting kita tanpa ampun.

Pernah kita pikir bahwa kata-kata itu telah pergi dengan tenaga habis terkuras. Lemah. Selemah-lemahnya. Tapi, kemudian mereka datang lagi, jauh lebih kuat dari terakhir kita melihatnya. Mereka tidak mengucap salam, terlebih menanyakan kabar. Mereka langsung menghantam tubuh kita hingga kita terpelanting dan patah-patah. Seketika. Kita bahkan belum menyiapkan pelindung terbaik kita.
Hancurlah kita. Sehancur-hancurnya.

Memang begitulah hidup. Kalau mau mencari bahagia selama-lamanya, nampaknya kita salah tempat. Bukan dalam dunia ini dan bukan dalam kehidupan satu ini. Meski hal itu sudah kita telan bagai pil pahit, tapi kita tak pernah benar-benar siap dengan masalah yang datang tanpa permisi dan membawa teman-temannya bernama kehilangan, kesepian, keterputusasaan, ketakutan, kekecewaan, keresahan, kemalangan, dan kematian. Kita tak pernah benar-benar siap dikeroyok oleh rasa-rasa yang memuakkan dan membuat bernapas jadi satu satu.

Tubuh kita--Ya, tubuhku, tubuhmu, tubuh mereka, bukan tubuhmu saja, atau tubuhku saja--sudah patah-patah, memar-memar, atau hancur sehancur-hancurnya. Dengan seluruh rasa yang menyesakkan dada, membuat kita lupa bernapas, mengaduk-aduk isi perut kita, membuat mata air air mata kita meluap dan tumpah hingga bukan lagi berupa mata air, namun air terjun yang tak berkesudahan. Atau bagi sebagian orang, air mata itu kering sekering-keringnya, menyerap kebagian lain dan menghujani hati hingga lapuk. Tidak meluap. Tidak terlihat oleh banyak orang, tapi diri mereka menjadi semakin rapuh. Lantas apa yang kita lakukan? Kita bertahan.

Tidak mudah. Tidak pernah mudah sejak dulu. Tapi, kita masih bisa berlari dengan tubuh yang telah kita rekatkan seadanya. Kita dengan berbagai cara yang berbeda-beda belajar untuk pulih. Kita mengambil perban seadanya. Tapi, kita benar-benar memulihkan diri. Sebagian berkata karena orang tercinta, sebagian hanya butuh waktu. Tapi, sebenarnya kitalah yang berani memulihkan diri kita sendiri. Atas bimbingan Tuhan tentunya. Ia tidak akan mengubah kita langsung pulih, Ia menyerahkan pada kita, apakah kita ingin berubah atau tidak, kita ingin pulih atau tidak. Kemudian saat kita memilih untuk memulihkan diri, Ia mendekap kita erat-erat. Kemudian, kita belajar untuk kembali berjalan. Kali ini berjalan dengan arti buat sesiapa yang mengerti makna dari hadirnya setiap masalah.

Hidup adalah rentetan masalah. Setelah yang satu, muncul yang lain. Tapi, tidak ada cara lain selain untuk memulihkan diri kita sendiri. Maka, hidup adalah sehat-sakit-pulih-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih-pulang.

Jika kita sadar bahwa hidup adalah sarangnya kesakitan dan hanya kesakitan. Maka kita akan jatuh dalam jurang keputusasaan dan bertanya-tanya untuk apa hidup, sedang kita lelah dan tak mampu lagi menahan segala jerih dan perih.

Jadi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan. Bahwa selain hidup ini rangkaian sakit, ia juga adalah rangkaian proses kita memulihkan diri. Dan tentu harus kita yakini bahwa meminum obat sakit kepala saat kepala kita berdenyut, tak seperti abrakadabra. Butuh waktu obat itu masuk ke dalam pencernaan, butuh waktu kita istirahat memejamkan mata, kemudian kita pulih. Dan kita harus yakini ketika kita terjatuh, obat merah, kassa, perban, dan plester tak membuat sakit kita hilang seketika tanpa luka. Butuh waktu sel baru tumbuh, dan bekas luka jatuh kita sulit hilang. Tapi kita akan pulih dan bisa berjalan kembali. Maka kemudian, kita sadar bahwa luka hidup kita pun butuh proses. Setiap orang memiliki proses yang berbeda, dan itu tidak mengapa.

Hidup adalah proses memulihkan diri. Hidup adalah proses kita menutup luka-luka. Bekas akan tetap ada, tapi bekas itulah yang membuat kita mengingat bahwa kita adalah manusia-manusia yang berhasil bertahan sejauh ini.

Sudah puluhan, ratusan, ribuan luka. Kita sudah lelah. Tapi, kita bisa memulihkan diri. Suatu saat jika luka itu kembali, tarik napas dalam-dalam dan katakan pada tubuh kita bahwa luka ini memang sakit, memang lelah, memang perih, tapi tidak mengapa. Kita akan belajar untuk pulih. Tidak usah menghina diri yang terlalu lambat pulih karena melihat orang lain begitu cepat kembali pulih dan berlari. Diri kita akan pulih dengan cara kita sendiri, dengan terpincang-pincang, dengan menyeret diri untuk dibawa berlari.

"Tapi sulit" otak kita yang sudah lelah berbisik.

Karena sulitnya, kita akan belajar untuk pulih. Kita tidak tahu caranya pulih, tapi kita akan belajar. Kita ditemani oleh waktu yang akan meneteskan obat merah sedikit-sedikit pada luka-luka di sekujur tubuh. Waktu akan mempertemukan kita dengan bahagia, dengan manusia-manusia lainnya, dan tentunya suatu saat ia akan membawa kita pada masalah yang menjegal di persimpangan. Tapi, tak mengapa. Kita akan siap untuk dibanting dan dihancurkan. Kemudian, kita sudah terbiasa untuk memulihkan diri. Kita akan belajar pulih lagi terus menerus, hingga kita benar-benar berpulang.

Mari kita bersepakat untuk meyakinkan diri bahwa kita lahir bukan hanya terlatih untuk patah hati, tapi juga terlatih untuk memulihkan diri.





Friday, 8 September 2017

Palsu

Palsu

Pada dunia yang menilai kebaikan sebagai palsu, yang menyindir kala senyuman dibalik luka adalah palsu, pada tingkah sopan yang dikatakan sebagai hal palsu, pada yang ingin menjadi baik sebagai manusia-manusia palsu, pada dunia yang menilai orang-orang yang mencoba peduli sebagai palsu. Tak heran, ketika orang lebih memilih hati yang beku. Karena menjadi baik dan lebih baik hanya akan dilabeli palsu dan munafik. Banyak yang akhirnya menyingkir dan memilih jalan untuk memuntahkan kata-kata menyakitkan sebagai kejujuran yang mereka sebut sebagai obat kepalsuan. Menghukum setiap orang yang terluka oleh ‘kejujuran’ tersebut dengan sebutan manusia ‘lemah’ dan tak patut ditangisi kematiannya.
Kebaikan sudah dijajakan dan diobral murah, tapi mereka selalu memandang jijik pada kebaikan-kebaikan di emperan. Di katakanlah, lebih baik tidak bermoral daripada harus memilih kebaikan yang menurut mereka menjijikkan.
Jika dunia sudah jadi sekejam ini, lantas dimana orang-orang yang dikatakan palsu itu berkumpul? apakah mereka berada dalam ruangan penuh dengan orang patah hati namun tetap ingin tersenyum untuk membuat dunia sekitarnya lebih baik? apakah mereka berkumpul dengan orang-orang yang ingin mencintai namun selalu berakhir makan hati? apakah manusia-manusia palsu yang katanya bertopeng itu tidak boleh menampakkan keindahan sisi hati mereka yang pulih dan mengobati sisi hati mereka yang borok dengan simpuh panjang di depan wajah Tuhan tanpa harus dikoar-koar?
Apakah setiap orang yang berusaha memberikan hati dengan hati-hati harus bebas dan bersih dari berbagai jenis patah hati, kekurangan, kesalahan, kebodohan, kesialan, ketidakmampuan, kekesalan, kesedihan, dan kemarahan agar tidak dikatakan palsu?
Padahal tiap-tiap manusia memiliki banyak sisi. dan setiap manusia pasti mengecap setiap emosi yang entah baik entah buruk, dan tiap-tiap jiwa berhak memilih apakah mereka akan belajar dan akan membagikan hal-hal baik atau hal-hal yang menyakiti pada orang di luar diri mereka.
Siapa yang berhak menilai perilaku tiap-tiap jiwa adalah palsu? bukankah tiada yang tahu setiap desiran hati manusia melainkan pemiliknya? Lantas mengapa ada yang siap menyaingi Sang Pemilik Hati untuk meramal dan mengoarkan kata-kata palsu dengan begitu garangnya pada orang yang tengah mengulurkan tangannya meski penuh luka?
Ah, dunia yang gegap gempita, akankah kebaikan masih menjadi pilihan yang memesona banyak orang?

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza