Wandering & Wondering

Sunday, 6 August 2017

Memanusiakan Manusia (Bagian Dua)


Sudah mulai bisa melihat sisi-sisi manusia banyak orang? Sip, syukurlah.

Yap, selain orang-orang lain, nampaknya kadang kita luput untuk memanusiakan orang-orang terdekat kita seperti keluarga, sahabat, atau mungkin pasangan kita.
Misal, kita merasa ibu kita sudah biasa dengan sikap kita yang menyebalkan jadi tidak apa-apa kalau sekali-kali (atau sering) meninggikan suara, toh sudah biasa. Kita lupa bahwa ibu kita punya hati, yang tergores bahkan terhujam berkali-kali atas setiap kata menyakitkan yang kita keluarkan. 

Kita punya orang yang kita kagumi, kita menyukai banyak hal darinya. Kalau dilihat dari jauh dan belum kenal dekat, rasanya orang itu hebat luar biasa. Kita lupa bahwa orang itu juga ya 'orang' pada umumnya. Kalau sudah kenal dekat, pasti ada kekurangannya. Atau misalnya ada orang yang hidupnya 'terlihat' lancar-lancar aja, medsosnya isinya traveling sana-sini, makanannya enak-enak, bakatnya banyak, follower-nya banyak, hidupnya terlihat enak. Kita lupa, bahwa Ia juga seperti kita yang harus kerja keras untuk mencapai banyak hal, yang harus menabung sedikit demi sedikit, yang juga punya masalah besar dalam hidupnya yang tidak kita tahu. 

Kita merasa bahagia dengan sahabat kita yang mengerti kita apa adanya dan berbagai deretan kelebihan lainnya, tapi setelah kita dikecewakan oleh tingkahnya, kita sakit hati dan lari. Kita lupa bahwa sahabat kita pun bertahan dengan kita sejauh ini mungkin dengan perban disana sini di hatinya atas candaan yang tidak disengaja namun menyakitkan, atau hal-hal lainnya. Kita lupa bahwa sahabat kita juga punya kekurangan yang harus kita pahami, terima, dan kemudian sama-sama saling mengingatkan dan memperbaiki.

Kita terbuai dengan memiliki pasangan yang sempurna, misalnya ingin pasangan seperti ‘ikemen’ jepang atau ‘oppa’ korea yang super romantis, ganteng pula, padahal kita biasa aja. Setidaknya kalaupun tidak seganteng mereka, harus peka oleh berbagai kode kita. Atau ingin pasangan seperti Oki setiana Dewi atau Raisa, yang cantik, anggun, lucu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata, pasangan kita jauh dari ekspektasi-ekspektasi kita, kecewa jadinya dan membanding-bandingkan. Inginnya mereka mengerti apa yang kita mau plus menerima kekurangan. Kita lupa mereka punya kekurangan yang mungkin tiap tahun kebersamaan akan semakin bertambah sikap menyebalkannya.

Kita lupa bahwa mereka semua adalah manusia. Kita ingin dimanusiakan tanpa ingin memanusiakan. Ups, mungkin bukan kita. Mungkin saya. Mungkin kamu sudah selesai dengan urusan seperti ini. Maka saya masih harus banyak belajar dari kamu. Masih harus banyak diingatkan. Eh ya, tapi ini bukan berarti kita bisa seenaknya terus-menerus bilang "Aku kan manusia!" sebagai tameng atas kesalahan dan kekeliruan yang disengaja. Untuk diri sendiri, sebagai manusia yang memiliki fitrah baik sejak kita lahir, tidak ada salahnya kita terus memperbaiki diri untuk jadi 'manusia' yang lebih baik, untuk memandang orang sekitar kita, pandanglah dengan kacamata kemanusiaan supaya bisa menerima sekaligus sisi cahaya dan gelapnya. 

Terakhir, saya hanya ingin berterima kasih pada orang-orang yang masih ingin menemani saya hingga saat ini, meski tahu bahwa saya punya segudang kekurangan plus menyebalkan. 



Terimakasih sudah memanusiakan aku. ;)
2 comments on "Memanusiakan Manusia (Bagian Dua)"
  1. sejuk deh kalau udah baca tulisan suhuuuu~

    "terima kasih sudah memanusiakan aku" :e

    keep writing suhuu, keep living this world (?), be happyy alwayyss >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakak guru, your words mean the world. But, I can't keep living this world. I miss to go back home.

      Am trying to be happy. Thank youuu

      Delete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza