Wandering & Wondering

Monday, 31 July 2017

Bercengkerama dengan Kematian dalam 'Meja Bundar'

Kita bisa sama-sama setuju kalau kematian adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, jika kamu tidak merasa begitu, mungkin setidaknya lingkungan sekitar kita yang merasa hal itu tabu. 
"Ih, apaan sih ngomongin mati. Udah ah, jangan ngomongin gituan"
Itu adalah salah satu respon temanku saat berbicara tentang kematian di tengah perbincangan yang campur aduk. Atau kalaupun memang jadinya dibicarakan berakhir dengan hening, setiap sosok kemudian tenggelam dengan kepala sendiri memikirkan kematian versi masing-masing. 

Akhir-akhir ini saya sedang mendengarkan kembali lagu-lagunya 30 seconds to Mars, khususnya 'The Kill" yang membuat saya malah kepikiran kematian. Tapi ya memikirkannya saja saya sudah merinding. Kemudian, munculah buku meja bundar ini di hadapan saya, buku yang berani-beraninya membawa tema kematian ke hadapan kita. Judulnya "Meja bundar", penulisnya Hendra Purnama & Latree Manohara, penerbitnya Bitread. Buku macam apa ini?

Mulai dari mana ya. Saya coba untuk menggambarkan dengan tidak memberikan 'spoiler' ya. Tapi kalau kelepasan, ya maapin, okeh? Tapi tenang aja, soalnya saya juga tidak suka spoiler.


Awal mula saya lihat covernya saya langsung berpikir, "Yaah, jangan-jangan ini cerita macam jumanji, atau Zathura, bosen", terus saya balik ke belakang covernya, "Jika kematian adalah sebuah solusi, akankah kamu memilihnya?" Hayoloh, tulisan di belakang malah provokatif plus serem-serem gimana gitu. Eh, saya masih suudzan gitu, "Jangan-jangan Jumanji disatuin sama Hunger games" Bagus sih kayaknya, tapi kalau cerita kayak gitu lagi, bosen juga. Tapi, kemudian saya lihat lagi pada nama penulis, terlebih Hendra Purnama atau nama bekennya Hendra Veejay ini sudah malang melintang di dunia kepenulisan dengan konsumsi buku yang bejibun, terlebih beliau aktif di dunia perfilman yang pasti sudah hapal betul storytelling yang bagus itu kayak gimana. Apalagi ditambah dengan kehadiran Latree Manohara sebagai penulis yang aktif menulis juga. Saya jadi semakin tertarik, cerita macam apa yang akan disodorkan oleh duet penulis ini kepada pembaca. 

Jadi gini, cerita ini menceritakan tentang tiga sekawan bernama Azzuhri, Elias, dan Kirani. Mereka sudah 10 tahun tidak pernah berjumpa, dan memang dulu mereka bertiga sudah membuat perjanjian bahwa dalam sepuluh tahun lagi mereka akan bertemu hanya bertiga. Reuni yang biasanya hanya berisi basa basi tentang kabar, keluarga, dan pekerjaan di atur sedemikian rupa oleh Elias yang mengusulkan untuk memainkan sebuah permainan bernama "Sincerity". Duh saya masih bergidik sendiri kalau menyebutkan nama permainan ini. 

Jadi, permainan ini sebenarnya sangat sederhana, tentang menebak sebuah pernyataan masuk dalam kategori "Jujur" atau "Bohong". Tapi, disinilah letak hebatnya penulis buku ini. Sebuah hal sederhana seperti permainan seperti itu saja bisa mengantarkan pembacanya pada perenungan dalam tentang sebuah filsafat kematian dan tentunya tentang hidup itu sendiri. Kisah reuni mereka ini hanya berlangsung dalam 18 jam yang terangkum dalam 305 halaman. Bayangkan satu buku hanya 18 jam. Ini menjadi sebuah tantangan sendiri bagi penulisnya, karena biasanya kebanyakan novel berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Dan yang lebih memesona saya adalah, dalam kisah yang hanya 18 jam, penulis bisa memasukkan kisah ketiga tokoh, berbicara tentang filsafat kematian, teori ini itu, perbincangan ringan, hingga mengaduk-ngaduk emosi pembaca tanpa terasa terlalu terburu-buru. Dan ending-nya sodara, sodara: bikin otak gatal!

Dan tahukah? Ternyata penulis menuliskan kisah 18 jam ini dalam jangka waktu 5 tahun plus Kang Hendra Veejay ini sampai sempat mengambil kelas filsafat kematian. Yang ada dalam benaknya saat akan menuliskan kisah ini adalah
Jika kematian bukan lagi takdir yang diterima dengan pasrah, tapi adalah sebuah solusi dari masalah yang sedang kita hadapi, maka beranikah kita menempuhnya?
Semua ini ada dalam kata pengantar buku ini dan bisa kita baca di "Kematian dan Postmodern Jukebox" 

Saya baca buku ini sehari aja, karena sulit menyimpan buku ini dengan rasa penasaran yang kian memuncak setiap lembarnya. Saya bahkan baca beberapa bagian sampai berkali-kali. Karena ya saya ingin lebih memahami setiap remah katanya, karena setiap bagian itu saling berkaitan dan membuat otak saya gatal tapi tidak bisa digaruk, serius! Sama seperti saya nonton predestination dan shutter island. Meski kalau cerita beda jauh dan tidak berkaitan sama sekali, tapi perasaan saya setelah membaca ini sama seperti perasaan saya menonton film tersebut. 

Oh iya, novel dewasa ini masuk ke kategori drama, thriller, mystery ya. Buat kamu pecinta novel genre yang sama, ini cocok. Pesan saya saat membaca buku ini, jangan diloncat-loncat, kamu bisa saja loncat ke bagian ending seenaknya, tapi kamu enggak bisa dapat apa-apa. Baca buku ini harus perlahan dan sistematis setiap lembarnya, dan nikmati sensasinya. Kalau nanti kamu sudah baca buku ini, hayu kita ngobrol bareng membahas banyak hal yang tidak bisa saya bahas di sini karena khawatir spoiler. Sekalian kita undang penulisnya untuk menjelaskan banyak hal yang membuat otak kita gatal! 

Tuesday, 11 July 2017

Gerakan Fiksi Mini

DONOR: Ketika anaknya dikabarkan membutuhkan donor jantung sesegera mungkin, seorang Ibu berdiri dengan jantung di tangan kanannya dan dengan dada kiri yang berlubang.

Kisah berjudul "Donor" di pembukaan tulisan ini adalah salah satu contoh fiksi mini yang aku buat. Bisa jadi kita sudah begitu familiar dengan kata fiksi mini. Atau kalaupun bukan dengan nama fiksi mini, ada yang mengenalnya dengan kata flash fiction, micro fiction, fiksi singkat, 6-words fiction, atau "ooooh, cerita yang singkat itu yaa..."

Dengan kemajuan jejaring sosial, fiksi mini yang diprakarsai oleh Ernest Hemingway ini (setidaknya itu sepengetahuan saya, kalau ada yang tahu penulis lain yang ternyata mengawali ini kabar-kabari ya) mulai menyebar di twitter, instagram, dan blog-blog. 

Ernest Hemingway dulu konon ditantang oleh seseorang yang intinya begini: "Eh, lu kan udah jago nulis novel panjang. Gue tantang Lu nulis novel terpendek di dunia" Yakali, novel pendek kayak gimana. Akhirnya Hemingway pun menulis novel pendeknya: "For sale: baby shoes, never worn."

Nah yang unik dari fiksi mini adalah satu baris flash fiction atau sudden fiction tersebut adalah meski sebaris, tapi pembaca bebas melangitkan imajinasi setinggi-tingginya sesuai dengan kata-kata itu:
Sepatu bayinya dijual dan masih belum dipakai. Apakah itu di jual di toko biasa? atau seseorang menjualnya karena ternyata bayinya yang diimpi-impikan tidak pernah lahir alias keguguran sehingga ia harus menjual sepatu bayi yang belum pernah dipakai supaya kesedihannya akan bayinya juga hilang, atau bayinya hilang atau kemungkinan-kemungkinan lain.


Nah, sekarang coba perhatikan contoh fiksi mini lainnya dari berbagai sumber:

 KARAM. Pertolongan akhirnya datang. Kami melambaikan tangan dari dasar laut. – @fiksimini
SEHABIS NONTON PERTUNJUKAN SULAP “Ma, lihat aku bisa menghilangkan kelingkingku seperti pesulap tadi” jawabnya sambil menggenggam pisau. @AndyTantono
MENDINGIN: Setiap kali kau mulai merasakan dingin di ujung kakimu, saat itulah mereka menyentuhmu mencoba merasuki tubuhmu. @fiksiminikengkawan @nugragente
Nah, kemudian fiksi mini mulai merambah dan berbagai bentuk fiksi mini hadir, ada gerakan @fiksimini di twitter yang menulis fiksi mini dengan hanya 140 karakter, ada yang menulis di instagram, ada yang menulis kumpulan fiksi mini di blog. Intinya fiksi mini itu biasanya punya sifat menghentak pembacanya meski hanya dengan sedikit kata-kata. Pembaca bisa kaget, takut, jatuh cinta hanya dengan sedikit kata.

Terus kalau kita nulis fiksi mini harus sedikit banget kayak contoh di atas?

Sebenernya batasan fiksi mini tidak jelas sih. Dibawa nyantai aja. karena kalaupun kamu mau buat satu paragraf, dua paragraf, satu baris, dua baris, tidak masalah. asal jangan kepanjangan kayak cerpen.

Mau baca-baca lagi yang lainnya? mari mampir ke www.medium.com/3-kengkawan atau kalau yang mainnya di wattpad ada kumpulan fiksi mini horror/thriller saya yang sudah dibundel.


Tapi disitu terbatas genrenya, kalau mau lebih bervariasi mampir ke Fiksi Mini Kengkawan aja ya.

Eh tapi, inti tulisan ini bukan cuma mau promosi rumah sebelah saya, loh. Semoga tulisan ini bisa membuatmu semangat menulis meski hanya sedikit, saya kadang suka terinspirasi dari fiksi mini untuk membuat tulisan panjang saya yang lain loh.

Eh ya, mau coba main fiksi mini berantai di kolom komentar? Kalau ada yang mau, hayu!


Follow my blog with Bloglovin

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza