Wandering & Wondering

Tuesday, 26 December 2017

Alergi Kebaikan Kah Kita?



Perbincangan yang lalu-lalang dalam perjalanan kita sehari-sehari penuh dengan berbagai masalah-masalah yang terasa menyesakkan, jangan ditanya lagi apa yang ada di media sosial. Berita-berita bertebaran yang meresahkan dan membuat dada menjadi tak enak. Sayangnya hal itu terasa biasa dan telah menjadi makanan sehari-hari, tak bisa rasanya jika tidak menyerang pendapat yang berbeda dengan kita. Dahi kita telah terbiasa berkerut dan mulut kita terbiasa mengerucut. Meme dijadikan alat untuk menyindir dan kita tersenyum ketika melihat sindiran berbalut gambar. Komentar berisi saling serang dan kita sudah biasa. Benarkah kita sudah biasa dengan kekalutan yang tersebar? Apakah hal-hal baik sudah jadi hal asing?

***

Kita beralih sebentar pada curhatan saya. Saya baru saja menonton film Ayat-Ayat Cinta 2, sebenarnya saya belum membaca novelnya yang kedua, terakhir saya baca Ayat-Ayat Cinta yang pertama adalah ketika saya SMP dan saya suka. Kemudian, AAC tiba-tiba meledak dan begitu banyak novel yang mengikuti dengan kata 'cinta' dan sampul novel yang serupa. Bahkan, isi tokohnya terkesan selalu sama, seorang lelaki serba sempurna yang diincar oleh banyak wanita. Akhirnya saya jadi muak sendiri. Tapi, saya tetap saja menonton Ayat-Ayat Cinta 2 karena saya penasaran juga apa yang akan diangkat oleh kisah kali ini. 

Ketika saya mengikuti jalan filmnya, saya sudah siap-siap untuk 'menghakimi' tokoh Fahri, mencari kesempurnaan apa lagi yang ditampilkan dan seberapa banyaknya wanita yang mengejar sosoknya. Dan benar saja hal itu terjadi (Spoiler Alert telat). Tapi, ketika saya sampai pada pertengahan film, saya melihat begitu banyak pesan yang disampaikan tentang toleransi, keberagaman, memilih berbuat baik pada berbagai situasi, tentang ikhlas, tentang kerja keras terlepas dari sosok Fahri yang 'terlalu' sempurna menurut saya. Saya akhirnya bertanya-tanya sendiri, apakah semua kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam film tersebut begitu buram di mata saya hanya karena saya tidak 'sreg' dengan tokohnya? Apakah pikiran saya begitu tertutup sehingga tidak menerima pesan-pesan kebaikan universal hanya karena menurut saya kisahnya dapat ditebak begitu saja? 

Terhentak, saya jadi malu sendiri. Sebegitukah alerginya saya pada kebaikan hanya karena pikiran-pikiran menghakimi?

Saya kemudian melihat ke penonton lain yang sedang menonton film tersebut, banyak dari mereka yang berkaca-kaca, mengusap matanya berkali-kali, tersenyum, atau menutupi kesedihan dengan berlindung dari telapak tangan mereka yang menutupi wajah. Ah, film ini sudah berbuat banyak. Film ini telah menyentuh banyak orang dan siapa tahu ketika keluar dari studio ada yang terinspirasi untuk berbuat kebaikan yang sama. Urusan plot dan tokoh biarkan masuk pada ranah kritik sisi lain tanpa harus menolak kebaikannya. Toh, saya yang hanya bisa menghakimi ini, bisa apa? punya karya pun tidak. Jangankan menginspirasi, urusan dengan diri saja rasanya belum tuntas. 

Saya jadi teringat, dulu saya pernah bilang bahwa saya tidak suka seorang penceramah karena gaya berceramahnya terlalu keras dan tidak lembut. Saya berpikiran bahwa ceramah harus disampaikan dengan penuh kelembutan dan menyentuh. Tapi, hal itu justru membuat saya menutup pesan-pesan kebaikan yang ingin disampaikan, hanya karena penceramahnya tidak sesuai dengan saya. Siapa lu, Sar? 

Sungguh saya malu. 

Alergi kah saya dengan kebaikan?

Atau mungkin orang lain juga? apalagi alasan dari munculnya kata-kata yang terkenal, "Kamu terlalu baik untuk aku" haha, meski sebenarnya itu hanya kata-kata akal-akalan. Tapi, ya kalau seseorang terlalu baik justru pantas dijauhi, terus yang didekati ingin seperti apa? Yang tidak membawa kebaikan? sebegitukah kita alergi dengan kebaikan? 

Orang yang berbuat baik dikatakan palsu dan munafik. Biarlah soal palsu dan asli itu urusan niat yang melakukan, urusan kita bukanlah menghakimi niatnya seolah kita paling tahu, kan? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga setiap melihat kebaikan kita sindir sebagai sesuatu hal yang sok suci? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga kita lebih baik memilih menyakiti dan menyebar rasa sakit?

Dalam perenungan, saya mencoba membuka pikiran saya seluas-luasnya. Pesan-pesan kebaikan bisa jadi bertebaran di sekeliling saya, dari seorang anak kecil, dari teman-teman yang berbeda pendapat dengan saya, dari orang-orang berbagai karakter yang lembut hingga yang tegas, dari media apapun. Dan bisa jadi saya melewatkan semua itu. Ah, akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa pesan-pesan kebaikan bisa jadi hadir dari arah yang tidak disangka-sangka sekalipun dari orang-orang yang tidak kita suka, atau menurut kita belum berkapasitas untuk menyampaikan kebaikan itu karena usia atau faktor lainnya, dan apabila kita tidak membuka pikiran dan hati kita, bagaimana cahaya kebaikan itu bisa masuk ke dalam jiwa kita? 

Saya tidak ingin jadi seseorang yang alergi kebaikan. Saya ingin merengkuh kebaikan-kebaikan yang bertebaran di tengah dunia dan semoga saja saya bisa melihat pesan kebaikan itu dari kebaikan itu sendiri, melepaskan segala atribut orang yang menyampaikannya terlebih dulu dan fokus pada kebaikannya. 

Dalam dunia yang di mana berita buruk bertebaran, perdebatan ditumbuh suburkan, saling sindir jadi pilihan, maukah kita sama-sama bersepakat untuk berhenti sejenak dari segala keriuhan dan sama-sama mengobati diri kita dari berbagai jenis alergi, termasuk alergi kebaikan? Saya percaya manusia pada dasarnya semua baik dan ingin menjadi lebih baik. Maka, mari kita sama-sama mengecap secangkir cahaya-cahaya kebaikan. Semoga saja kita tidak alergi kebaikan lagi lantaran sudah terlalu lama hidup dalam dunia penuh caci maki.



Friday, 1 December 2017

Titik Nol



Pesawat mengudara dan melayang menghiasi langit dini hari di Bandara Soekarno-Hatta yang mendung itu. Pada raga yang masih menempel di kursi pesawat, saya menghela napas-napas kesyukuran. Betapa, saya yang kampungan dan baru pertama kali naik pesawat ini bisa berada di udara. 

Hari itu saya berangkat ke Aceh dan segera menuju pulau Weh. Sebuah pulau paling barat Indonesia. Saya tak menyangka betapa harapan kecil saya dipeluk oleh semesta dan dikabulkan oleh Pemilik Semesta itu sendiri. 

Bagi banyak orang, naik pesawat dan pergi ke pulau ini adalah suatu hal yang biasa. Ah, jangankan pulau ini, belahan dunia lain pun mungkin telah disambangi. Namun, betapa bagi saya yang belum banyak kemana-kemana dan belum punya pengalaman menaiki burung besi ini menjadi sebuah pengalaman yang menjadi ramai dalam kepala saya.

 Dada saya tidak hanya sesak oleh rasa bahagia. Tapi, ada rasa lain yang menyelinap perlahan sepanjang perjalanan. Sebuah rasa yang menjadikan saya kerdil sekerdil-kerdilnya. Bagaimana tidak? Setelah saya melihat rumah dan gedung di bawah saya yang semakin lama semakin mengecil, saya tidak hanya membayangkan manusia lain dengan sosok hebatnya, hartanya, gedung-gedung yang dibangunnya juga menjadi sesuatu yang kecil. Tapi, saya sendiri yang mengangkasa ini adalah sosok yang juga kecil dalam pandangan mereka yang menjejak di bumi. Betapa pesawat yang saya dulu idam-idamkan untuk dinaiki hanyalah suatu benda lewat di udara, dan manusia yang berada di dalamnya seperti saya bahkan lebih kecil dari titik itu sendiri. Keberuntungan saya mendapat hadiah perjalanan ini, ilmu yang saya punya, uang, dan berbagai hal yang melekat pada diri saya sebagai--yang katanya--milik saya adalah suatu hal yang tidak tampak dan bukanlah apapun sama sekali. Bahkan bukan setitik debu sekalipun.

Perjalanan ini tidak hanya mengantarkan saya untuk menyelami laut di Iboih, berfoto di berbagai tempat indah, memakan berbagai hidangan khas Aceh, dan tidak hanya mengantarkan saya pada monumen kilometer nol Indonesia. Tapi, perjalanan ini juga mengantarkan saya pada titik nol. Sebuah penyadaran bahwa Jika Sang Pemilik Semesta ini mau, Dia bisa memindahkan diri saya ke manapun dan merasakan keindahan apapun. Dia bisa membolak-balikan hati saya sesuai kehendak. Lantas, saya ini patut membanggakan apa dari nolnya diri saya? manusia yang hakikatnya nol. Berasal dari titik nol, selalu berada dalam kondisi titik nol, dan berakhir kelak pada titik nol pula. 
Dan jika Sang Pencipta Semesta ini mau, maka ketidakmungkinan dapat diubah menjadi kemungkinan, begitu pun dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat Dia ubah menjadi ketidakmungkinan. Maka, kegelisahan dan kekhawatiran saya selama ini hanyalah buah dari saya yang kurang yakin dengan itu semua dan saya tidak ingin tidak meyakini ini semua. Saya yang nol ini ingin sepenuhnya yakin bahwa semua hal akan baik-baik saja selama kita punya cinta dari Sang Pencipta. 


Sara Fiza, 13 November 2017.
Dalam perjalanan udara melewati pulau Sumatera.

Wednesday, 13 September 2017

Proses Memulihkan Diri


Hidup adalah rangkaian ujian. Kita sangat mengenal kata-kata itu, bukan? dan tentu kita sudah sangat mengenal kata "Masalah" dan "Ujian". Oh, Tidak hanya mengenal, dua kata itulah yang menemani kita bercengkerama. Merekalah teman hidup kita yang menguntit dan memeluk kita kemudian membanting kita tanpa ampun.

Pernah kita pikir bahwa kata-kata itu telah pergi dengan tenaga habis terkuras. Lemah. Selemah-lemahnya. Tapi, kemudian mereka datang lagi, jauh lebih kuat dari terakhir kita melihatnya. Mereka tidak mengucap salam, terlebih menanyakan kabar. Mereka langsung menghantam tubuh kita hingga kita terpelanting dan patah-patah. Seketika. Kita bahkan belum menyiapkan pelindung terbaik kita.
Hancurlah kita. Sehancur-hancurnya.

Memang begitulah hidup. Kalau mau mencari bahagia selama-lamanya, nampaknya kita salah tempat. Bukan dalam dunia ini dan bukan dalam kehidupan satu ini. Meski hal itu sudah kita telan bagai pil pahit, tapi kita tak pernah benar-benar siap dengan masalah yang datang tanpa permisi dan membawa teman-temannya bernama kehilangan, kesepian, keterputusasaan, ketakutan, kekecewaan, keresahan, kemalangan, dan kematian. Kita tak pernah benar-benar siap dikeroyok oleh rasa-rasa yang memuakkan dan membuat bernapas jadi satu satu.

Tubuh kita--Ya, tubuhku, tubuhmu, tubuh mereka, bukan tubuhmu saja, atau tubuhku saja--sudah patah-patah, memar-memar, atau hancur sehancur-hancurnya. Dengan seluruh rasa yang menyesakkan dada, membuat kita lupa bernapas, mengaduk-aduk isi perut kita, membuat mata air air mata kita meluap dan tumpah hingga bukan lagi berupa mata air, namun air terjun yang tak berkesudahan. Atau bagi sebagian orang, air mata itu kering sekering-keringnya, menyerap kebagian lain dan menghujani hati hingga lapuk. Tidak meluap. Tidak terlihat oleh banyak orang, tapi diri mereka menjadi semakin rapuh. Lantas apa yang kita lakukan? Kita bertahan.

Tidak mudah. Tidak pernah mudah sejak dulu. Tapi, kita masih bisa berlari dengan tubuh yang telah kita rekatkan seadanya. Kita dengan berbagai cara yang berbeda-beda belajar untuk pulih. Kita mengambil perban seadanya. Tapi, kita benar-benar memulihkan diri. Sebagian berkata karena orang tercinta, sebagian hanya butuh waktu. Tapi, sebenarnya kitalah yang berani memulihkan diri kita sendiri. Atas bimbingan Tuhan tentunya. Ia tidak akan mengubah kita langsung pulih, Ia menyerahkan pada kita, apakah kita ingin berubah atau tidak, kita ingin pulih atau tidak. Kemudian saat kita memilih untuk memulihkan diri, Ia mendekap kita erat-erat. Kemudian, kita belajar untuk kembali berjalan. Kali ini berjalan dengan arti buat sesiapa yang mengerti makna dari hadirnya setiap masalah.

Hidup adalah rentetan masalah. Setelah yang satu, muncul yang lain. Tapi, tidak ada cara lain selain untuk memulihkan diri kita sendiri. Maka, hidup adalah sehat-sakit-pulih-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih-pulang.

Jika kita sadar bahwa hidup adalah sarangnya kesakitan dan hanya kesakitan. Maka kita akan jatuh dalam jurang keputusasaan dan bertanya-tanya untuk apa hidup, sedang kita lelah dan tak mampu lagi menahan segala jerih dan perih.

Jadi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan. Bahwa selain hidup ini rangkaian sakit, ia juga adalah rangkaian proses kita memulihkan diri. Dan tentu harus kita yakini bahwa meminum obat sakit kepala saat kepala kita berdenyut, tak seperti abrakadabra. Butuh waktu obat itu masuk ke dalam pencernaan, butuh waktu kita istirahat memejamkan mata, kemudian kita pulih. Dan kita harus yakini ketika kita terjatuh, obat merah, kassa, perban, dan plester tak membuat sakit kita hilang seketika tanpa luka. Butuh waktu sel baru tumbuh, dan bekas luka jatuh kita sulit hilang. Tapi kita akan pulih dan bisa berjalan kembali. Maka kemudian, kita sadar bahwa luka hidup kita pun butuh proses. Setiap orang memiliki proses yang berbeda, dan itu tidak mengapa.

Hidup adalah proses memulihkan diri. Hidup adalah proses kita menutup luka-luka. Bekas akan tetap ada, tapi bekas itulah yang membuat kita mengingat bahwa kita adalah manusia-manusia yang berhasil bertahan sejauh ini.

Sudah puluhan, ratusan, ribuan luka. Kita sudah lelah. Tapi, kita bisa memulihkan diri. Suatu saat jika luka itu kembali, tarik napas dalam-dalam dan katakan pada tubuh kita bahwa luka ini memang sakit, memang lelah, memang perih, tapi tidak mengapa. Kita akan belajar untuk pulih. Tidak usah menghina diri yang terlalu lambat pulih karena melihat orang lain begitu cepat kembali pulih dan berlari. Diri kita akan pulih dengan cara kita sendiri, dengan terpincang-pincang, dengan menyeret diri untuk dibawa berlari.

"Tapi sulit" otak kita yang sudah lelah berbisik.

Karena sulitnya, kita akan belajar untuk pulih. Kita tidak tahu caranya pulih, tapi kita akan belajar. Kita ditemani oleh waktu yang akan meneteskan obat merah sedikit-sedikit pada luka-luka di sekujur tubuh. Waktu akan mempertemukan kita dengan bahagia, dengan manusia-manusia lainnya, dan tentunya suatu saat ia akan membawa kita pada masalah yang menjegal di persimpangan. Tapi, tak mengapa. Kita akan siap untuk dibanting dan dihancurkan. Kemudian, kita sudah terbiasa untuk memulihkan diri. Kita akan belajar pulih lagi terus menerus, hingga kita benar-benar berpulang.

Mari kita bersepakat untuk meyakinkan diri bahwa kita lahir bukan hanya terlatih untuk patah hati, tapi juga terlatih untuk memulihkan diri.





Friday, 8 September 2017

Palsu

Palsu

Pada dunia yang menilai kebaikan sebagai palsu, yang menyindir kala senyuman dibalik luka adalah palsu, pada tingkah sopan yang dikatakan sebagai hal palsu, pada yang ingin menjadi baik sebagai manusia-manusia palsu, pada dunia yang menilai orang-orang yang mencoba peduli sebagai palsu. Tak heran, ketika orang lebih memilih hati yang beku. Karena menjadi baik dan lebih baik hanya akan dilabeli palsu dan munafik. Banyak yang akhirnya menyingkir dan memilih jalan untuk memuntahkan kata-kata menyakitkan sebagai kejujuran yang mereka sebut sebagai obat kepalsuan. Menghukum setiap orang yang terluka oleh ‘kejujuran’ tersebut dengan sebutan manusia ‘lemah’ dan tak patut ditangisi kematiannya.
Kebaikan sudah dijajakan dan diobral murah, tapi mereka selalu memandang jijik pada kebaikan-kebaikan di emperan. Di katakanlah, lebih baik tidak bermoral daripada harus memilih kebaikan yang menurut mereka menjijikkan.
Jika dunia sudah jadi sekejam ini, lantas dimana orang-orang yang dikatakan palsu itu berkumpul? apakah mereka berada dalam ruangan penuh dengan orang patah hati namun tetap ingin tersenyum untuk membuat dunia sekitarnya lebih baik? apakah mereka berkumpul dengan orang-orang yang ingin mencintai namun selalu berakhir makan hati? apakah manusia-manusia palsu yang katanya bertopeng itu tidak boleh menampakkan keindahan sisi hati mereka yang pulih dan mengobati sisi hati mereka yang borok dengan simpuh panjang di depan wajah Tuhan tanpa harus dikoar-koar?
Apakah setiap orang yang berusaha memberikan hati dengan hati-hati harus bebas dan bersih dari berbagai jenis patah hati, kekurangan, kesalahan, kebodohan, kesialan, ketidakmampuan, kekesalan, kesedihan, dan kemarahan agar tidak dikatakan palsu?
Padahal tiap-tiap manusia memiliki banyak sisi. dan setiap manusia pasti mengecap setiap emosi yang entah baik entah buruk, dan tiap-tiap jiwa berhak memilih apakah mereka akan belajar dan akan membagikan hal-hal baik atau hal-hal yang menyakiti pada orang di luar diri mereka.
Siapa yang berhak menilai perilaku tiap-tiap jiwa adalah palsu? bukankah tiada yang tahu setiap desiran hati manusia melainkan pemiliknya? Lantas mengapa ada yang siap menyaingi Sang Pemilik Hati untuk meramal dan mengoarkan kata-kata palsu dengan begitu garangnya pada orang yang tengah mengulurkan tangannya meski penuh luka?
Ah, dunia yang gegap gempita, akankah kebaikan masih menjadi pilihan yang memesona banyak orang?
Sunday, 6 August 2017

Memanusiakan Manusia (Bagian Dua)


Sudah mulai bisa melihat sisi-sisi manusia banyak orang? Sip, syukurlah.

Yap, selain orang-orang lain, nampaknya kadang kita luput untuk memanusiakan orang-orang terdekat kita seperti keluarga, sahabat, atau mungkin pasangan kita.
Misal, kita merasa ibu kita sudah biasa dengan sikap kita yang menyebalkan jadi tidak apa-apa kalau sekali-kali (atau sering) meninggikan suara, toh sudah biasa. Kita lupa bahwa ibu kita punya hati, yang tergores bahkan terhujam berkali-kali atas setiap kata menyakitkan yang kita keluarkan. 

Kita punya orang yang kita kagumi, kita menyukai banyak hal darinya. Kalau dilihat dari jauh dan belum kenal dekat, rasanya orang itu hebat luar biasa. Kita lupa bahwa orang itu juga ya 'orang' pada umumnya. Kalau sudah kenal dekat, pasti ada kekurangannya. Atau misalnya ada orang yang hidupnya 'terlihat' lancar-lancar aja, medsosnya isinya traveling sana-sini, makanannya enak-enak, bakatnya banyak, follower-nya banyak, hidupnya terlihat enak. Kita lupa, bahwa Ia juga seperti kita yang harus kerja keras untuk mencapai banyak hal, yang harus menabung sedikit demi sedikit, yang juga punya masalah besar dalam hidupnya yang tidak kita tahu. 

Kita merasa bahagia dengan sahabat kita yang mengerti kita apa adanya dan berbagai deretan kelebihan lainnya, tapi setelah kita dikecewakan oleh tingkahnya, kita sakit hati dan lari. Kita lupa bahwa sahabat kita pun bertahan dengan kita sejauh ini mungkin dengan perban disana sini di hatinya atas candaan yang tidak disengaja namun menyakitkan, atau hal-hal lainnya. Kita lupa bahwa sahabat kita juga punya kekurangan yang harus kita pahami, terima, dan kemudian sama-sama saling mengingatkan dan memperbaiki.

Kita terbuai dengan memiliki pasangan yang sempurna, misalnya ingin pasangan seperti ‘ikemen’ jepang atau ‘oppa’ korea yang super romantis, ganteng pula, padahal kita biasa aja. Setidaknya kalaupun tidak seganteng mereka, harus peka oleh berbagai kode kita. Atau ingin pasangan seperti Oki setiana Dewi atau Raisa, yang cantik, anggun, lucu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata, pasangan kita jauh dari ekspektasi-ekspektasi kita, kecewa jadinya dan membanding-bandingkan. Inginnya mereka mengerti apa yang kita mau plus menerima kekurangan. Kita lupa mereka punya kekurangan yang mungkin tiap tahun kebersamaan akan semakin bertambah sikap menyebalkannya.

Kita lupa bahwa mereka semua adalah manusia. Kita ingin dimanusiakan tanpa ingin memanusiakan. Ups, mungkin bukan kita. Mungkin saya. Mungkin kamu sudah selesai dengan urusan seperti ini. Maka saya masih harus banyak belajar dari kamu. Masih harus banyak diingatkan. Eh ya, tapi ini bukan berarti kita bisa seenaknya terus-menerus bilang "Aku kan manusia!" sebagai tameng atas kesalahan dan kekeliruan yang disengaja. Untuk diri sendiri, sebagai manusia yang memiliki fitrah baik sejak kita lahir, tidak ada salahnya kita terus memperbaiki diri untuk jadi 'manusia' yang lebih baik, untuk memandang orang sekitar kita, pandanglah dengan kacamata kemanusiaan supaya bisa menerima sekaligus sisi cahaya dan gelapnya. 

Terakhir, saya hanya ingin berterima kasih pada orang-orang yang masih ingin menemani saya hingga saat ini, meski tahu bahwa saya punya segudang kekurangan plus menyebalkan. 



Terimakasih sudah memanusiakan aku. ;)

Memanusiakan Manusia



“Rocker juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati”

Familiar dengan lagu itu? Selamat anda ternyata sudah berumur. Haha. Lagu jadul tersebut mencoba untuk mengajak kita sama-sama sadar, rocker yang kelihatan garang saja, masih punya rasa dan hati loh. Punya emosi sedih, senang, bahkan galau!

Dan ternyata, tidak hanya rocker saja loh yang ingin diperhatikan sebagai manusia. Ada artis yang juga harus mengingatkan penggemarnya, “Seleb juga manusia, loh!” atau profesi-profesi lainnya sekalipun, seperti misalnya ketika ada dokter yang jatuh sakit, 

“Lah, dokter kok sakit?”
Kemudian, kembali muncul pernyataan, “Dokter juga manusia”
Atau
“Guru kok gitu sih!”
“Guru juga manusia tau!”
Atau
“Oooh kamu ternyata suka main juga ya. Aku kira kamu sukanya belajar doang, hehe”
“Yeee, aku juga manusia kali”
Dan mungkin bertambah lagi daftar ‘ingin-diakui-manusia’

Kita bisa jadi berada pada dua posisi itu, merasa heran dengan orang lain yang ‘kok dia bisa gitu sih?” ketika ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadi kita tentang orang lain dan di sisi lain juga berkata lantang “Gini-gini, aku juga manusia, loh”

Lama-lama, aku mulai bertanya-tanya sendiri, kenapa bisa ada istilah itu, ya? Istilah ingin diakui sebagai manusia, sampai harus ada penekanan, “Aku juga manusia (sama kayak kamu)”
Berdasarkan perbincangan dengan orang-orang kecil di kepala saya, Mungkin ini karena kita selalu berekspektasi tinggi pada orang-orang di sekitar kita, tapi di sisi lain kita ingin diri kita dimengerti oleh orang sekitar kita dengan berbagai kekurangan kita atau sisi lain kita yang tidak dipahami orang lain. Kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya banyak sisi, sebagaimana manusia lainnya. Tapi, kadang, kita lupa untuk ‘memanusiakan manusia’ lainnya.

Memanusiakan manusia?

Maksud memanusiakan manusia disini (setidaknya versi yang aku punya) adalah menyadari bahwa manusia itu punya begitu banyak sisi. Tidak hanya dua warna: hitam atau putih. Ya kalau enggak jadi orang baik, ya dia pasti orang jahat. Kita lupa, kalau orang yang ‘baik’ itu punya sisi-sisi lain, punya kekurangan dan kesalahan. Kita lupa, kalau orang yang kelihatannya ‘jahat’ punya sisi baik yang tidak terduga. Ya padahal namanya manusia itu punya sisi lebih dan kurang. Seperti halnya aku, dan seperti halnya kamu. 

Kita mungkin terlalu terbuai dengan dongeng-dongeng hitam vs putih yang selama ini meninabobokan kita. Misalnya, kisah Cinderella. Cinderela yang cantik, baik hati, patuh pada orang tua tersiksa oleh ibu tirinya dan kedua kakak tirinya yang super duper menyebalkan. Terlihat orang baik pasti baik, orang jahat pasti jahat. Padahal itu Cinderella anak bandel juga loh, dilarang sama orang tua pergi ke pesta malam-malam, malah kabur mau ketemu ‘gebetan’ plus meminta pertolongan ‘makhluk gaib’. Hadeeeh. Hahaha

Ibu tirinya sendiri yang super nyebelin itu meski menyebalkan, mencintai kedua anak kandungnya tanpa tapi. Rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Kakak Cinderella bersikap jahat mungkin hasil dari lingkungannya sejak dulu yang membanding-bandingkan mereka dengan gadis cantik lainnya, yang membuat mereka merasa ‘tidak cukup cantik’, pasti ada sisi-sisi kedua kakak tiri Cinderella ini sedih dan galau, namun di depan terlihat ‘setrong’ dan galak. Yah, sama lah kayak kisah bawang merah putih, atau sinetron 90an ‘Bidadari’ atau bahkan sinetron sekarang juga tipenya masih sama ya?

Aku sama sekali tidak bilang kisah Cinderella itu sebenarnya begitu ya, itu hanya imajinasi liar saya yang mencoba mencari bahwa manusia itu memiliki begitu banyak sisi. Bisa jadi satu sisi membuat bahagia, satu sisi membuat kesal. Sayangnya banyak dari kita ingin bertahan dengan sikap bahagia, tapi enggan menerima kekurangan yang membuat kesal. Ya kalau tidak ingin kecewa, berharap sama Pencipta saja. Kalau sama manusia pasti ada kecewa, lah karena mereka ‘manusia’ kan?

Kita juga.

(Lanjut ke Memanusiakan manusia Bagian 2)
Monday, 31 July 2017

Bercengkerama dengan Kematian dalam 'Meja Bundar'

Kita bisa sama-sama setuju kalau kematian adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, jika kamu tidak merasa begitu, mungkin setidaknya lingkungan sekitar kita yang merasa hal itu tabu. 
"Ih, apaan sih ngomongin mati. Udah ah, jangan ngomongin gituan"
Itu adalah salah satu respon temanku saat berbicara tentang kematian di tengah perbincangan yang campur aduk. Atau kalaupun memang jadinya dibicarakan berakhir dengan hening, setiap sosok kemudian tenggelam dengan kepala sendiri memikirkan kematian versi masing-masing. 

Akhir-akhir ini saya sedang mendengarkan kembali lagu-lagunya 30 seconds to Mars, khususnya 'The Kill" yang membuat saya malah kepikiran kematian. Tapi ya memikirkannya saja saya sudah merinding. Kemudian, munculah buku meja bundar ini di hadapan saya, buku yang berani-beraninya membawa tema kematian ke hadapan kita. Judulnya "Meja bundar", penulisnya Hendra Purnama & Latree Manohara, penerbitnya Bitread. Buku macam apa ini?

Mulai dari mana ya. Saya coba untuk menggambarkan dengan tidak memberikan 'spoiler' ya. Tapi kalau kelepasan, ya maapin, okeh? Tapi tenang aja, soalnya saya juga tidak suka spoiler.


Awal mula saya lihat covernya saya langsung berpikir, "Yaah, jangan-jangan ini cerita macam jumanji, atau Zathura, bosen", terus saya balik ke belakang covernya, "Jika kematian adalah sebuah solusi, akankah kamu memilihnya?" Hayoloh, tulisan di belakang malah provokatif plus serem-serem gimana gitu. Eh, saya masih suudzan gitu, "Jangan-jangan Jumanji disatuin sama Hunger games" Bagus sih kayaknya, tapi kalau cerita kayak gitu lagi, bosen juga. Tapi, kemudian saya lihat lagi pada nama penulis, terlebih Hendra Purnama atau nama bekennya Hendra Veejay ini sudah malang melintang di dunia kepenulisan dengan konsumsi buku yang bejibun, terlebih beliau aktif di dunia perfilman yang pasti sudah hapal betul storytelling yang bagus itu kayak gimana. Apalagi ditambah dengan kehadiran Latree Manohara sebagai penulis yang aktif menulis juga. Saya jadi semakin tertarik, cerita macam apa yang akan disodorkan oleh duet penulis ini kepada pembaca. 

Jadi gini, cerita ini menceritakan tentang tiga sekawan bernama Azzuhri, Elias, dan Kirani. Mereka sudah 10 tahun tidak pernah berjumpa, dan memang dulu mereka bertiga sudah membuat perjanjian bahwa dalam sepuluh tahun lagi mereka akan bertemu hanya bertiga. Reuni yang biasanya hanya berisi basa basi tentang kabar, keluarga, dan pekerjaan di atur sedemikian rupa oleh Elias yang mengusulkan untuk memainkan sebuah permainan bernama "Sincerity". Duh saya masih bergidik sendiri kalau menyebutkan nama permainan ini. 

Jadi, permainan ini sebenarnya sangat sederhana, tentang menebak sebuah pernyataan masuk dalam kategori "Jujur" atau "Bohong". Tapi, disinilah letak hebatnya penulis buku ini. Sebuah hal sederhana seperti permainan seperti itu saja bisa mengantarkan pembacanya pada perenungan dalam tentang sebuah filsafat kematian dan tentunya tentang hidup itu sendiri. Kisah reuni mereka ini hanya berlangsung dalam 18 jam yang terangkum dalam 305 halaman. Bayangkan satu buku hanya 18 jam. Ini menjadi sebuah tantangan sendiri bagi penulisnya, karena biasanya kebanyakan novel berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Dan yang lebih memesona saya adalah, dalam kisah yang hanya 18 jam, penulis bisa memasukkan kisah ketiga tokoh, berbicara tentang filsafat kematian, teori ini itu, perbincangan ringan, hingga mengaduk-ngaduk emosi pembaca tanpa terasa terlalu terburu-buru. Dan ending-nya sodara, sodara: bikin otak gatal!

Dan tahukah? Ternyata penulis menuliskan kisah 18 jam ini dalam jangka waktu 5 tahun plus Kang Hendra Veejay ini sampai sempat mengambil kelas filsafat kematian. Yang ada dalam benaknya saat akan menuliskan kisah ini adalah
Jika kematian bukan lagi takdir yang diterima dengan pasrah, tapi adalah sebuah solusi dari masalah yang sedang kita hadapi, maka beranikah kita menempuhnya?
Semua ini ada dalam kata pengantar buku ini dan bisa kita baca di "Kematian dan Postmodern Jukebox" 

Saya baca buku ini sehari aja, karena sulit menyimpan buku ini dengan rasa penasaran yang kian memuncak setiap lembarnya. Saya bahkan baca beberapa bagian sampai berkali-kali. Karena ya saya ingin lebih memahami setiap remah katanya, karena setiap bagian itu saling berkaitan dan membuat otak saya gatal tapi tidak bisa digaruk, serius! Sama seperti saya nonton predestination dan shutter island. Meski kalau cerita beda jauh dan tidak berkaitan sama sekali, tapi perasaan saya setelah membaca ini sama seperti perasaan saya menonton film tersebut. 

Oh iya, novel dewasa ini masuk ke kategori drama, thriller, mystery ya. Buat kamu pecinta novel genre yang sama, ini cocok. Pesan saya saat membaca buku ini, jangan diloncat-loncat, kamu bisa saja loncat ke bagian ending seenaknya, tapi kamu enggak bisa dapat apa-apa. Baca buku ini harus perlahan dan sistematis setiap lembarnya, dan nikmati sensasinya. Kalau nanti kamu sudah baca buku ini, hayu kita ngobrol bareng membahas banyak hal yang tidak bisa saya bahas di sini karena khawatir spoiler. Sekalian kita undang penulisnya untuk menjelaskan banyak hal yang membuat otak kita gatal! 

Tuesday, 11 July 2017

Gerakan Fiksi Mini

DONOR: Ketika anaknya dikabarkan membutuhkan donor jantung sesegera mungkin, seorang Ibu berdiri dengan jantung di tangan kanannya dan dengan dada kiri yang berlubang.

Kisah berjudul "Donor" di pembukaan tulisan ini adalah salah satu contoh fiksi mini yang aku buat. Bisa jadi kita sudah begitu familiar dengan kata fiksi mini. Atau kalaupun bukan dengan nama fiksi mini, ada yang mengenalnya dengan kata flash fiction, micro fiction, fiksi singkat, 6-words fiction, atau "ooooh, cerita yang singkat itu yaa..."

Dengan kemajuan jejaring sosial, fiksi mini yang diprakarsai oleh Ernest Hemingway ini (setidaknya itu sepengetahuan saya, kalau ada yang tahu penulis lain yang ternyata mengawali ini kabar-kabari ya) mulai menyebar di twitter, instagram, dan blog-blog. 

Ernest Hemingway dulu konon ditantang oleh seseorang yang intinya begini: "Eh, lu kan udah jago nulis novel panjang. Gue tantang Lu nulis novel terpendek di dunia" Yakali, novel pendek kayak gimana. Akhirnya Hemingway pun menulis novel pendeknya: "For sale: baby shoes, never worn."

Nah yang unik dari fiksi mini adalah satu baris flash fiction atau sudden fiction tersebut adalah meski sebaris, tapi pembaca bebas melangitkan imajinasi setinggi-tingginya sesuai dengan kata-kata itu:
Sepatu bayinya dijual dan masih belum dipakai. Apakah itu di jual di toko biasa? atau seseorang menjualnya karena ternyata bayinya yang diimpi-impikan tidak pernah lahir alias keguguran sehingga ia harus menjual sepatu bayi yang belum pernah dipakai supaya kesedihannya akan bayinya juga hilang, atau bayinya hilang atau kemungkinan-kemungkinan lain.


Nah, sekarang coba perhatikan contoh fiksi mini lainnya dari berbagai sumber:

 KARAM. Pertolongan akhirnya datang. Kami melambaikan tangan dari dasar laut. – @fiksimini
SEHABIS NONTON PERTUNJUKAN SULAP “Ma, lihat aku bisa menghilangkan kelingkingku seperti pesulap tadi” jawabnya sambil menggenggam pisau. @AndyTantono
MENDINGIN: Setiap kali kau mulai merasakan dingin di ujung kakimu, saat itulah mereka menyentuhmu mencoba merasuki tubuhmu. @fiksiminikengkawan @nugragente
Nah, kemudian fiksi mini mulai merambah dan berbagai bentuk fiksi mini hadir, ada gerakan @fiksimini di twitter yang menulis fiksi mini dengan hanya 140 karakter, ada yang menulis di instagram, ada yang menulis kumpulan fiksi mini di blog. Intinya fiksi mini itu biasanya punya sifat menghentak pembacanya meski hanya dengan sedikit kata-kata. Pembaca bisa kaget, takut, jatuh cinta hanya dengan sedikit kata.

Terus kalau kita nulis fiksi mini harus sedikit banget kayak contoh di atas?

Sebenernya batasan fiksi mini tidak jelas sih. Dibawa nyantai aja. karena kalaupun kamu mau buat satu paragraf, dua paragraf, satu baris, dua baris, tidak masalah. asal jangan kepanjangan kayak cerpen.

Mau baca-baca lagi yang lainnya? mari mampir ke www.medium.com/3-kengkawan atau kalau yang mainnya di wattpad ada kumpulan fiksi mini horror/thriller saya yang sudah dibundel.


Tapi disitu terbatas genrenya, kalau mau lebih bervariasi mampir ke Fiksi Mini Kengkawan aja ya.

Eh tapi, inti tulisan ini bukan cuma mau promosi rumah sebelah saya, loh. Semoga tulisan ini bisa membuatmu semangat menulis meski hanya sedikit, saya kadang suka terinspirasi dari fiksi mini untuk membuat tulisan panjang saya yang lain loh.

Eh ya, mau coba main fiksi mini berantai di kolom komentar? Kalau ada yang mau, hayu!


Follow my blog with Bloglovin
Friday, 14 April 2017

Liburan Halal Ke Jepang Bareng CHERIA Halal Travel



Yap! Kutipan singkat di atas adalah cerpen pertamaku tahun 2011 yang ternyata masih sinetron banget padahal sudah melalui tahap revisi. Namanya juga penulis belajar ya. Cerpen berjudul ‘Shiawase’ yang merupakan bahasa jepang dari kebahagiaan itu berlatar di Jepang. Dengan karakter bernama Sachiko yang berarti anak yang ceria dan Ayumi (diambil dari nama temannya Conan Edogawa haha).

Begitu senangnya aku dengan budaya jepang dan segala seluk beluk bahasa dan hiburannya membuat aku akhinya terinspirasi untuk menorehkan kata-kata tentang Jepang. Entah ini karena Naruto atau Chibi Maruko, tapi tumbuh dengan menyaksikan berbagai budaya tradisional dan popnya, akhirnya bisa menghasilkan sebuah karya. Karena itulah, akhirnya aku punya impian untuk bisa berlibur ke Jepang bersama keluarga. Kenapa Jepang?



Waaaah, Jepang beneran paket komplit ya!
Sambil ngobrolin Jepang, kita kembali ke Cerpen ‘Shiawase’ yang dapat dibaca di blog ini juga loh. (Malah promosi. Supaya nyambung sama cerita *modus*). 

Cerpen ini bercerita tentang Ayumi yang kebingungan dengan tingkah sahabatnya, Sachiko, yang berubah drastis. Ia tidak lagi makan daging babi dan daging haram lainnya, minum sake atau makanan yang mengandung sake, budaya-budaya Shinto, dan lainnya. Perubahan itu karena ternyata Sachiko diam-diam memeluk Islam. Keluarganya adalah penganut ajaran Shinto yang kuat dan tentunya melarang dengan keras keputusan Sachiko. (Spoiler alert! Eh telat ya)
Kebayang kan dari cerita yang aku buat, bagaimana pandanganku terhadap Jepang?

Meski aku sangat menyukai Jepang dan isinya, tapi ternyata ada ketakutan yang mendalam untuk ke Jepang karena makanan yang tidak halal bertebaran, shalat sulit, perilaku warganya yang menganggap Islam teroris, dan lain-lain. Kalau takut, gimana mau ketemu Sachiko dan Ayumi di Jepang ya? 

Saat imajinasi sedang membumbung, biasanya aku melakukan percakapan di kepalaku sendiri dengan Sachiko, seperti percakapan yang baru saja terjadi di kepalaku sendiri:

Sachiko: Kapan main ke Jepang? Aku ingin sekali melihat saudara seimanku dan keluarganya dari Indonesia ini.
Aku: Hehe, ragu-ragu aku, Sacchan. (Sok akrab banget)
Sachiko: Takut ketemu keluarga aku yang galak itu?
Aku: salah satunya. Bingung juga sih nanti makannya gimana, kalau ibadah gimana, kalau hotelnya gimana, kalau..
Sachiko: Ssst! Kebanyakan takut kamu! Sekarang sudah ada yang namanya Wisata Halal. Jepang juga sudah menyiapkan penyambutan para wisatawan Muslim dengan baik.

Pufff! Sachiko menghilang. Otakku tumpang tindih dengan kebingungan. Mungkin ini karena efek liburan sudah di depan mata. Terlebih untuk berlibur bareng keluarga, harus cari momen pas supaya tidak bentrok dengan jadwal kerja. Yang terdekat dan paling pas emang Liburan lebaran, terus liburan akhir tahun. Liburan bareng keluarga Ke Jepang pakai wisata halal kata Sachiko, seru dan aman kali ya. Biasanya kalau liburan kalau sama keluarga tercinta memang harus memperhatikan hal detail, selain jadwal biasanya orangtua pengen yang terjamin segala macamnya, yang anak-anak pengennya arena bermain, kalau aku, kalau bisa naik pesawat, sudah alhamdulillah. haha.
Sachiko: (Kembali lagi) Kemarin ada juga dua pelajar Indonesia yang lagi bingung libur sekolahan mau kemana. Kamu bisa belajar dari pengalaman mereka deh. Nih tonton videonya.



Wow, wisata halal sama Cheria Travel di video di atas bikin kesengsem deh. Karena mengikuti Sachiko yang mau belajar hal-hal baru, aku pun akhirnya jadi kepo dengan Cheria dan Cheria Halal Holiday. Setelah berseluncur ke website dan media sosialnya. Aku semakin yakin bahwa "Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap diIndonesia” 




Ternyata khawatir, tinggal kenangan.
Kini justru semakin tergiur untuk mengisi liburan dengan wisata halal ke Jepang. Semua kekhawatiranku sudah luruh.

Aku dulu mengira bahwa wisata halal itu adalah wisata ke tempat ziarah atau situs keislaman saja. Tapi, ternyata bukan. Kita bisa berwisata kemana saja, bahkan ke negeri dengan mayoritas non-muslim sekalipun, seperti Jepang, dan kita tetap aman dan tak menanggalkan prinsip Islam. Semua ini karena sebenarnya—seperti yang dipaparkan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)—Wisata halal adalah  wisata yang sesuai dengan prinsip syariah. Prinsip syariah ini seperti ketersediaan makanan dan minuman halal, adanya tempat ibadah dan jadwal yang menyesuaikan dengan waktu shalat, dan lainnya.

Ini penting loh, karena bertamasya itu kita tidak hanya berjalan-jalan ngalor ngidul, tapi kita juga bisa mentafakuri alam. Gimana mau tafakur alam kan kalau ibadahnya ketinggalan dan konsumsinya tidak halal? Sachiko aja dalam kisahnya, berhati-hati dalam melaksanakan prinsip Islam. Masa kita enggak?

Karena MUI sudah mengeluarkan fatwanya dengan jelas, maka aku tertarik dengan travel yang mendukung MUI untuk mengembangkan wisata halal. Dan sama seperti si Asep dan si Kiki di video atas (Asal banget ngasih nama) aku akhirnya merasa senang dengan adanya Cheria Tour yang meraih Tiga Terbaik Lomba Wisata Halal 2016 dan mendeklarasikan diri mendukung fatwa MUI. 

Kalau liburan bareng keluarga, harus lebih teliti soal banyak hal. Selain kehalalan, travel yang mengiringi selama perjalanan harus serba super biar terjamin. Nah, Asep dan Kiki dalam Video sudah memberitahu tentang keunggulan Cheria Wisata Halal yang serba super.

                                    1. Super Halal                                       

Karena terang-terangan mendukung fatwa MUI tentang Wisata Halal, sudah pasti program yang ditawarkan tidak hanya menyenangkan, tapi juga terjamin kehalalannya. Baik makanan, maupun waktu sholat meski di Negara yang mayoritas non-muslim. Contohnya saja, di Jepang, Cheria bekerjasama dengan tour operator Jepang yang telah memperoleh sertifikasi dan mendapat pengawasan dari Japan Halal Association (JHA),dari rencana hingga eksekusi, tur dilakukan sesuai dengan syariah. Japan Halal Association menawarkan standar pelayanan yang tinggi dan berkualitas bagi turis muslim yang ingin berkunjung ke Jepang. GImana enggak totalitas coba. Pelayanan super halalnya menenangkan.


                                    2.Super Legal                                       
    
Kalau pilih travel hari gini jangan sampai yang abal-abal, harus tahu bibit, bebet, bobot macam jodoh. Cheria Travel sudah mengantongi berbagai macam legalitas yang menenangkan pelanggannya. Cheria telah terdaftar sebagai biro resmi perjalanan haji dan umrah di Indonesia. Cheria memiliki lisensi Konsorsium dengan legalitas SK Departemen Agama RI No. D/577/2011 dan Umrah Depag RI D/836-2012 dan BPW/SIUP: 2365/2012.


· TDP 36/2014 Tanggal 7 Januari 2013 Dinas Pariwisata DKI Jakarta 
·  Member International Air Transport Association (IATA) dengan Nomor 15314132 
· Izin Penyelenggara Ibadah Haji Khusus Madinah Iman Wisata Nomor 118 Tahun 2015
· Izin Umroh Madinah Iman Wisata Nomor D/70/2015
· Cabang Resmi Madinah Iman Jakarta 


Gedungnya juga jelas dan nyata loh (Tidak seperti Sachiko yang rekaan hehe)



Kantor Pusat
Alamat: Gedung Twink Lt. 3,Jl. Kapten P. Tendean No. 82 Mampang Prapatan,
Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12790

Telepon : 021 - 7900 201 / 021-700 216 (Hunting)
Fax : 021-7918 2408
Email : info@cheria-travel.com
Web: 
www.cheria-travel.com\

[1]

                                       3. Super Lengkap                                   

Untuk keunggulan ini, aku bingung mulai dari mana. Karena memang paketnya lengkap dan serba ada. Untuk paket perjalanan Haji ada plus kuota dan non kuota, untuk umroh ada umroh regular, umroh private, umroh express, umroh plus wisata turki, dubai, dan lainnya.

Untuk paket wisata halal tersedia domestik dan internasional. Untuk internasional, ada PaketTour Wisata Halal JepangPaket Tour Wisata Halal EropaPaket Tour Wisata Beijing, Shanghai, Shenzhen, Hongkong, Korea SelatanAustraliaTurkiBangkok.



Karena aku, Asep, dan Kiki tertarik untuk ke Jepang, jadi kami memilih tour jepang yang ternyata banyak pilihan paket juga. Kita tinggal pilih. Super lengkap banget! Ini baru Travelba (Travel serba ada! *maksa)



                                     4. Super Puas                                      

Didirikan oleh Cheriatna dan Faridah Ningsih yang telah berpengalaman dalam bidang traveling dan dunia marketing maya dan nyata, Cheria hadir dengan pelayanan yang memuaskan dan berpengalaman.
Pelayanan dibuka 24 Jam! Gimana enggak super coba? Harga bersaing dengan fasilitas yang asyik. Terus apa kata dunia?
Ini dia sebagian testimoni dari para pelancong yang dibersamai oleh Cheria.

Serunya Liburan ke Jepang dengan Cheria

Pevita dan Keenan Pearce dalam Tour Turki bersama Cheria

Testimoni Liburan Halal ke Korea

Testimoni Wisata Halal Domestik


Testimoni Jamaah Umrah Cheria




Karena sudah yakin seyakin-yakinnya dengan Cheria Wisata, terus tinggal pilih paketnya mau yang mana dari pilihan lengkap yang ada. Karena pengennya ke Jepang ketemu Sachiko dan Ayumi. Cheria juga menawarkan paket promo Wisata Halal Jepang loh.

Paket Promo Cheria Halal Wisata

Karena seperti yang aku gambarkan di atas tentang alasan memilih Jepang karena budaya tradisional, budaya Modern, makanan, dan pemandangan. Maka, yang paling pas adalah paket yang paling mencakup ke semua hal itu yaitu Paket 7D Beautiful Japan + Theme Park. Ini juga rekomendasi dari Sachiko dan Ayumi kalau liburan ke Jepang. Berikut jadwal rencana perjalanan yang ditawarkan Cheria.


Jadwal perjalanan paket Beautiful Japan+Theme Park

Lengkap dan seru jadwal perjalanannya. Untuk memperjelas keseruan wisata halal di Jepang yang sudah muslim friendly, Sachiko sudah menjelaskan keistimewaan tempat-tempat wajib dikunjungi tersebut. 


                                                1. UNIVERSAL STUDIO OSAKA                                      

Universal Studi Japan dengan Theme park Harry Potter. Sumber gambar di sini

Universal Studio Osaka di Jepang ini adalah pusat permainan paling terkenal di Jepang. Selain diisi turis, universal studio ini dipadati oleh warga jepang sendiri. Ada apaan sih emang di sana? kalau kata Sachiko sih, di sana ada 20 atraksi di 10 area. Atraksinya menarik semua loh, cocok untuk liburan dengan keluarga, ada The Amazing Adventures of Spiderman, Terminator, Space Fantasy, Shrek, dan tentunya yang paling terkenal dan menarik banyak orang adalah Harry Potter! Gimana ya suasana Hogwart di Jepang? Sebagai penikmat buku dan film Harry Potter hal ini tidak bisa dilewatkan.

                                                                      2. KYOTO                                                             

Kyooootooooooooo!

Tempat paling diidamkan dan diimpikan di Jepang adalah tempat ini. Sachiko tinggal di sini loh. Kyoto bagiku adalah sebuah pusat budaya tradisional jepang yang bertaburan kuil-kuil, istana, taman, dan bangunan berarsitektur khas peninggalan masa lalu. Kyoto juga merupakan warisan sejarah yang terdaftar di UNESCO. 
Kuil Kiyomizudera (Sumber gambar)
Cheria Travel katanya akan membawa pelanggannya untuk pergi ke Kuil Kiyomizudera yang merupakan kuil paling terkenal di Jepang. Kiyomizudera berarti kuil air murni karena ditemukan dekat dengan mata air Otowa. Bangunan utama kuil ini dibangun oleh 139 pasak yang didirikan tanpa paku. 

Fushimi Inari Taisha (Sumber gambar)

Setelah dari Kiyomizudera, kemudian Cheria akan membawa kita ke sebuah kuil Shinto, Fushimi Inari Taisha, yang memiliki ribuan gerbang 'torii' warna merah yang berbaris rapi. Perjalanan ini cocok dengan keinginan nuansa budaya tradisional yang aku ingini.


                                 3. NAIK SHINKANSEN KE HAMAMATSU                                    

Shinkansen (Sumber Gambar)

Shinkansen atau bullet train adalah teknologi yang menonjol di Jepang. Bagaimana tidak, kereta ini merupakan kereta cepat dengan kecepatan hingga 300 km/jam. Wah, nanti sama Cheria Travel kita naik ini loh dari Kyoto ke Hamamatsu. Di Hamamatsu, kita nanti menginap di hotel yang sudah disediakan tim Cheria. Tenang, pasti halal kok.


                                4. FUJIYAMA DAN DANAU KAWAGUCHI                                  


Fujiyama (Sumber gambar)
Belum sah rasanya ke Jepang kalau belum mendekati sang primadona pujaan Jepang, Fujiyama yang berarti gunung keabadian. Sachiko sudah berkali-kali naik gunung Fuji. Kelak, kalau aku kesana aku bisa merasakan apa yang dirasakan Sachiko saat mendaki di musim panas ketika salju sudah mencari dan suasana cocok untuk pendakian. 

Dengan ketinggian hingga 3776 mdpl, letak Fujiyama di antara Yamanashi dan Shizuoka dapat terlihat kemegahannya hingga Tokyo. 

Dengan Cheria travel, kita bisa selfie dengan latar belakang Fujiyama dan juga menyambangi Desa Oshino Hakkai di kaki gunung Fuji. Kalau cuaca memungkinkan kita pun akan hiking hingga level 5 gunung ini yang menyajikan pemandangan yang kata Sachiko tak terlupakan.

Setelah pendekatan dengan Fujiyama, Cheria akan mengantarkan kita untuk istirahat di kamar western style atau penginapan kamar tradisional di sekitar Danau Kawaguchi yang merupakan salah satu danau dekat Fujiyama.

                                      5. GOTEMBA PREMIUM OUTLET                                                


Gotemba Premium Outlet (Sumber gambar)
Jauh-jauh menyambangi Fuji-san, kata Sachiko dan Ayumi, harus banget belanja di Gotemba Premium Outlet yang merupakan mall outlet terkenal di Jepang. Cheria Travel pengertian banget, dan memasukkan spot ini ke dalam jadwal perjalanan. Di Gotemba ini sambil berbelanja kita disuguhkan pemandangan Fujiyama juga loh. Itung-itung kangen-kangenan sebelum pergi ke Tokyo.



                                                                   6. TOKYO                                                                


Tokyo tower Ikon kota Tokyo (Sumber Gambar)
Setelah menikmati kebudayaan tradisional Jepang di Kyoto dan Hamamatsu, Target jalan-jalan halal selanjutnya adalah Ibu Kota Jepang yaitu Tokyo, sebuah kota metropolis yang menyimpan budaya modern juga sekaligus mempertahankan tradisional khasnya.

Sesampainya di Tokyo, Cheria Travel akan mengajak kita ke salah satu kuil tertua di Jepang yaitu Asakusa Kannon Temple, Berbelanja di Namikase street dan Ginza Shopping Area yang terkenal itu loh, terlebih dalam dorama-dorama Jepang. 

Selama perjalanan kita juga akan melewati Tokyo tower, Tokyo Sky Tree, dan Imperial Palace. Oh iya, kata Sachiko dalam Japan Halal Summit, Tokyo bertekad untuk menjadi ibukota produk halal dunia.[2] Wah! 



                                                         7. DISNEYSEA                                                                 


Disneysea Jepang (Sumber gambar)
Yang paling penting saat berlibur bareng keluarga adalah tempat rekreasi di mana setiap anggota keluarga dapat menikmati keseruannya, ya kan? Cheria Halal Travel paling ngerti kalau urusan beginian. Makanya, sebelum pulang ke Indonesia, kita akan diajak untuk menyambangi Disneysea, sebuah tempat rekreasi yang berbeda dengan Disneyland. Karena menyajikan petualangan menantang ala Indiana Jones cocok untuk anak muda, juga dewasa yang kenal dengan tokoh Dr. Henry Walton Jones yang senang mencari harta karun. Untuk anak perempuan ada petualangan little mermaid, yang anak laki-laki ada petualangan bajak laut Simbad. 

Selain petualangan untuk anak remaja, Disneysea juga menyajikan Mermaid Lagoon untuk balita loh. Lengkap banget untuk berlibur bareng keluarga. Dan Disneysea ini hanya ada Urayasu, Chiba, Jepang. Beruntung sekali yang ikut paket perjalanan ini.

Setelah Disneysea, maka berlibur bersama Cheria telah selesai. Kita akan diantarkan ke Bandara Narita untuk mengucapkan sampai jumpa dan kembali ke negeri tercinta.



Gara-gara nostalgia dengan Sachiko dan Ayumi, akhirnya jadi memantapkan lagi mimpi untuk mengunjungi negeri sakura. Dan berkat nostalgia dengan Sachiko, kata-kata sachiko pada awal tulisan ini bahwa keluarga adalah surga, mengingatkan bahwa berlibur bersama mereka adalah sebuah kenikmatan tiada tara. Berkat nostalgia dengan Sachiko juga, jadi menemukan tentang wisata halal yang penting untuk muslim dan muslimah sekeluarga dan mempertemukan aku dengan Cheria Halal Travel. Sachiko artinya bahagia atau ceria loh dan nama ini dipilih dulu sekali. Cocok dengan Cheria travel. Mungkinkah kita jodoh? Hazeeek... Biar jodohnya makin jelas, mau langsung pantengin web dan media sosialnya juga pastinya.





Selamat berlibur bersama keluarga dan Cheria Halal travel ya.

Mari kita saling melangitkan doa agar bisa mentafakuri dunia bersama keluarga kita.












Sumber:
[1] http://www.cheria-travel.com/p/company-profile-pt-cheria.html
[2] http://blog.resistnews.web.id/2014/09/jepang-ingin-jadikan-tokyo-sebagai.html

Update:

Wah, Alhamdulillah. Allah Maha Baik. Tulisan ini akan mengantarkan saya terbang pertama kalinya naik pesawat dan pertama kalinya ke Pulau Weh, Aceh. Terimakasih Cheria Halal Holiday sudah berbaik hati mengajak saya jalan-jalan dan juga terimakasih @kumpul.blogger.
Selamat juga untuk teman-teman blogger lain yang menang dan berpartisipasi. Untuk para pembaca blog kesayangan, terimakasih banyak.

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza