Wandering & Wondering

Monday, 9 November 2015

Puncak-Puncak Putih


Kalau kau ingin membaca kisah petualangan pendaki handal dan cerita tentang keindahan puncak yang indah, maka kau salah tempat. Carilah blog-blog pendaki dan mulailah menguntit para pendaki hebat yang sudah mendaki banyak puncak, kau akan temukan mereka berdiri gagah di banyak puncak dengan pemandangan yang begitu Indah. 
Puncak-puncak putih bukanlah cerita tentang puncak bersalju. Maka kau boleh saja pergi dan tidak jadi membaca tulisan ini. 
Cerita ini adalah tentang sebuah, hmm..., kau bisa menyebutnya kegagalan. Kegagalan menurutmu, mungkin.
Maka, inilah sebuah kegagalan pada puncak-puncak putih kupaparkan.

***
Setelah perjalanan panjang dari Bandung ke Malang dengan terlebih dahulu transit di Kediri, setelah perang tawar menawar angkot, kemudian tawar menawar penginapan yang harganya menjadi setengahnya, masih juga harus tawar menawar Jeep hingga pukul 2 sambil makan nasi campur kentang mustofa--hasil eksperimen--ditabur kacang pilus dan rumput laut, akhirnya kami berhasil sampai di Penanjakan satu, Voila! Puncak berkabut. Putih. Semakin pagi, semakin siang, jam mulai menunjukan pukul 9 tapi kabut tidak juga beranjak. Kami bersikukuh untuk tinggal, mungkin saja semakin siang selimut kabut itu akan tersingkap, wilayah Bromo nampaknya kelelahan hari itu dan enggan untuk memamerkan cantiknya, setiap orang mulai pulang kecewa, kami masih bertahan. Temanku masih saja belum mau beranjak, tapi setelah diseret oleh jadwal perjalanan, ia luluh juga. 

Mendaki Gunung Gede jalur Gunung Putri kami kehujanan selama pendakian. Sampai di Alun-Alun suryakencana semua berbalut putih, kami hanya bisa melihat beberapa meter kedepan. Ketika sampai puncak, aku kembali menemukan puncak putih, tapi tak seluruhnya. masih sempat mengabadikan momen sebelum awan putih kembali menyergap, masih bisa melihat kawah sebelum putih akhirnya menutupi, dan kemudian kami kembali berjalan turun ditengah putih. 

Paralayang di Puncak, Bogor pun aku kembali disapa putih. Langit memutih. pemandangan dibawah masih terlihat hijau dan jelas, hanya langit yang putih. Berbeda dengan di bromo ataupun di Gede, kabut menghiasi bagian atas juga menciumi alam hingga bawah. Aku pernah berada ditengah kabut, Namun ini, hanya langit yang memutih. Ternyata putih yang kutemukan berbeda. Dulu kutemukan kabut,  Kini?

"Ini mah bukan kabut, neng. Asap itu loh neng kayaknya."
"Asap Riau, pak?"
"Iya neng, katanya udah nyampe sini juga"

Masa sih? Aku hanya bisa mengoceh dalam hati. Sudah Sampai sini?

***
Setiap perjalanan adalah sebuah cerita menarik. Dibalik puncak-puncak putih yang mungkin hanya bisa jadi cibiran orang karena tidak melihat pemandangan yang sesungguhnya, ada sebuah kisah belakang layar yang mungkin tidak mereka tahu. Mengingat Bromo dan malang kadang saya terkekeh sendiri, selain berhasil mengunjungi berbagai tempat indah tentunya, intinya kami belajar teknik menawar dan manajemen uang minim dengan keinginan tempat kunjungan yang terlalu banyak. Kami semakin menghargai makanan setiap suapnya. kami belajar untuk tidak makan di stasiun kereta karena harganya terlalu mahal dan isinya sedikit. Carilah warteg mahasiswa di Malang, dengan Uang 10ribu kami bisa makan berenam sekaligus dengan nasi menggunung dan lauk yang lumayan. Kami merasakan sensasi membawa motor ke sempu sejauh 140km bulak-balik tanpa tahu jalan dan kehujanan. Kami merasakan persaudaraan di tanah orang atas teman yang telah menampung kami karena tidak sanggup menyewa penginapan. Dan setiap langkah kami lainnya adalah cerita.

Mengingat Gede, adalah melihat persaudaraan. Mendengar ragam cerita dan keceriaan juga arti hidup dari setiap pendaki lainnya. Mengingat Gede adalah makan enak dengan Chef handal dan langit bertaburkan bintang-bintang saat dini hari menyapa. Mengingat Gede adalah melihat carrier abang setim sebesar kulkas dan masih bisa melempar lelucon sepanjang jalan. Mengingat Gede adalah mengingat jurnalis Korea yang kusangka orang jepang dan kemudian mendokumentasikan langkah kami. Mengingat Gede adalah bertukar nomor dengan bapak Hantu Rimba tim SAR yang kemudian mengajak mendaki ke Gunung salak, yang harus kutolak karena waktu itu godaan skripsi dan wisuda terasa sangat menggoda.

Mengingat Puncak adalah mengingat Riau dan daerah di Sumatera lainnya, mengingat Berau dan daerah di Kalimantan lainnya. Bukan hanya puncak mereka yang putih, seluruh kota berbalut putih. Putih mereka bukan kabut yang dingin, melainkan Asap penuh racun yang perlahan-lahan membius para warga menjadi kesakitan. Di puncak-puncak putih, selalu ada cerita dan hikmah, saudaraku... semoga kalian menemukan sebuah hikmah putih di kota kalian tanpa harus hanya meratap namun juga berdoa dan bergerak. Gerakan kalian di media sudah semakin merebak, semakin banyak orang yang sudah sadar. Semoga kalian terus bertahan ketika para pengepul asap itu mulai mencekik kalian dengan putih-putih mereka yang mematikan.

Di puncak-puncak putih, kalian bisa saja menyebutnya kegagalan. Di kota-kota putih ini siapa yang sebenarnya merencanakan kegagalan? Siapa yang gagal menyelamatkan? 
Indonesia putih, apakah ini sebuah kegagalan? Lantas Siapa?

Puncak, Bogor
Bromo
Gunung Gede bersama Srikandi Rocker

Kabut Asap Berau (Sapos.com)

Kabut Asap Riau (MetroNews)



Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza