Wandering & Wondering

Sunday, 29 November 2015

After Watching "Freedom Writers"

source: www.movieposter.com/
But even an ordinary secretary or a housewife or a teenager can, within their own small ways, turn on a small light in a dark room. (Miep Gies, Freedom writers, 2007)

I found this movie when I was in the midst of my reading slump and writing block that brought me nowhere near finishing my novel. Then, I was looking for some films about writing to get me away from my writer’s block. There it was. Some people on internet recommended it and I watched it. 

Saturday, 28 November 2015

Nararya di Langit Kejiwaan

BULAN NARARYA:
Nararya di Langit Kejiwaan
(Sebuah Resensi Bulan Nararya oleh Sinta Yudisia)

Oleh Sara Fiza



Judul buku : Bulan Nararya
Penulis : Sinta Yudisia
Penyunting bahasa : Mastris Radyamas
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Ketebalan : 256 halaman
Ukuran : 19 cm
ISBN : 978-602-1614-33-4
Cetakan I : September, 2014
 
“… Bila bukan karena  ketangguhan jiwa dan kemampuan mencari solusi maka manusia bisa menjadi gila.” (Bulan Nararya, hal 33)
      Menjadi Nararya Tunggadewi adalah menjadi bagian dari para skizofrenik dan begitulah para skizofrenik menjadi bagian dari Nararya yang kerap dipanggil Rara. Membaca Bulan Nararya adalah membaca kejiwaan setiap karakternya. Memang inilah yang ditawarkan Sinta Yudisia dalam novel ini, sebuah novel psikologi yang mengantarkan pembacanya masuk ke dalam dunia realitas para penghuni Mental Health Center, baik para pasiennya maupun terapisnya sekalipun.
        Adalah Yudhistira, Pak Bulan, dan Sania sebagai klien penghuni pusat rehabilitasi yang menjadi bagian hidup Rara. Yudhistira yang mengidap skizofrenik katatonik dan Obsessive Compulsive Dissorder alias OCD merupakan sosok yang dikelilingi ibunya dan ketiga kakak perempuannya yang protektif  yang kemudian berbenturan dengan istrinya, Diana, yang mandiri dan keras kepala nampaknya menjadi alasan tekanan mental bagi Yudhistira. Ada juga Pak bulan yang senang menatap bulan yang selalu ia sebut-sebut bulan purnama meski di langit justru sabit yang tampak. Kemudian, Sania, gadis yang memiliki masa lalu suram di tengah keluarganya yang kelam; ibu bergonta-ganti pasangan, bapak pemabuk, dan nenek pemukul.
         Kehadiran klien-klien Rara itu semakin membuatnya bersikukuh mempertahankan idealismenya untuk mengembangkan terapi transpersonal yang menggunakan pendekatan kekeluargaan yang bisa memakan waktu lama dibandingkan dengan farmakologi yang membuat pasien ketergantungan pada obat-obatan. Meski berulang kali ditolak oleh pemilik pusat rehabilitasi, Bu Sausan, Rara tetap menjunjung tinggi mimpinya itu.
       Kehidupan Rara sebagai terapis tidak berarti ia terbebas dari masalah hidupnya. Ditengah-tengah beban kerjanya yang bertumpuk, Rara harus menelan pil pahit saat pernikahannya dengan Angga, yang dipuja-puja banyak wanita, harus kandas setelah sepuluh tahun pernikahan dan semakin pelik ketika Moza, sahabatnya, justru menikah dengan angga diam-diam setelah perceraian mereka dan hamil! Hal yang tidak kunjung ada ketika Angga membersamai dirinya. Tekanan hidupnya yang seolah begitu sempurna mendekapnya membuat Rara harus berhadapan dengan sebuah halusinasi kelopak mawar yang berserakan dengan genangan darah anyir di tempat kerjanya. Peristiwa yang dianggap halusinasi inilah yang seiring berjalannya waktu menjadi bumbu ketegangan pada novel ini.
       Sinta Yudisia, sang penulis, begitu pintar mengeksplorasi karakter demi karakter sehingga para pembaca seolah berbicang dengan karakter dalam novelnya. Kita akan juga dibingungkan dengan mencari jalan keluar dari permasalahan Rara, bagaimana kondisi kejiwaan kita jika menjadi Yudhistira, Pak Bulan atau Sania, atau bagaimana kesalnya melihat kelakuan Angga. Berlatar belakang lulusan magister Psikologi, Sinta Yudisia tentunya begitu paham dengan psikologi yang diangkatnya. Kita tidak hanya dikenalkan dengan dunia psikologi dan lika-likunya, tapi kita juga diberi penyelesaian-penyelasaian masalah yang dikirimkan lewat karakter Bu Sausan yang meskipun tegas dan konservatif namun begitu bijak dan cerdas dalam menasihati.

“Tak usah mencari apa makna yang tersirat,” Bu Sausan seolah membaca pikiran.”Kesukaanmu mencari apa yang tersembunyi di belakang, akan menyulitkan. Pakai saja konsep here and now. Apa yang ada di hadapanmu, itu saja.”(Halaman 93)

        Atau Faridah, sosok yang ia temui di kota Palu mengajarkannya secara tidak langsung untuk terus bertahan dalam kehidupannya dengan menceritakan konflik Poso yang merenggut suaminya.
          Selain eksplorasi karakter yang manis, penulis juga mampu membuat Novel Dewasa ini dengan plot yang memikat, dosis ketegangan yang pas, dan setting yang begitu mengangkat lokalitas. Diksi yang terkandung di dalamnya begitu memikat kita dan dengan mudah seolah menerbangkan kita pada ujung novel ini tanpa kita sadari.
            Nararya mungkin seolah bulan yang menerangi hidup para pasiennya, menerangi dunia psikologi dengan idealisme transpersonalnya, juga menjadi bulan penerang yang terseok-seok menerangi dunianya sendiri. Namun, yang menjadi catatan adalah Nararya merupakan refleksi dari semua unsur cahaya lain dalam hidupnya berupa pasien-pasien skizofreniknya.


Monday, 9 November 2015

Puncak-Puncak Putih


Kalau kau ingin membaca kisah petualangan pendaki handal dan cerita tentang keindahan puncak yang indah, maka kau salah tempat. Carilah blog-blog pendaki dan mulailah menguntit para pendaki hebat yang sudah mendaki banyak puncak, kau akan temukan mereka berdiri gagah di banyak puncak dengan pemandangan yang begitu Indah. 
Puncak-puncak putih bukanlah cerita tentang puncak bersalju. Maka kau boleh saja pergi dan tidak jadi membaca tulisan ini. 
Cerita ini adalah tentang sebuah, hmm..., kau bisa menyebutnya kegagalan. Kegagalan menurutmu, mungkin.
Maka, inilah sebuah kegagalan pada puncak-puncak putih kupaparkan.

***
Setelah perjalanan panjang dari Bandung ke Malang dengan terlebih dahulu transit di Kediri, setelah perang tawar menawar angkot, kemudian tawar menawar penginapan yang harganya menjadi setengahnya, masih juga harus tawar menawar Jeep hingga pukul 2 sambil makan nasi campur kentang mustofa--hasil eksperimen--ditabur kacang pilus dan rumput laut, akhirnya kami berhasil sampai di Penanjakan satu, Voila! Puncak berkabut. Putih. Semakin pagi, semakin siang, jam mulai menunjukan pukul 9 tapi kabut tidak juga beranjak. Kami bersikukuh untuk tinggal, mungkin saja semakin siang selimut kabut itu akan tersingkap, wilayah Bromo nampaknya kelelahan hari itu dan enggan untuk memamerkan cantiknya, setiap orang mulai pulang kecewa, kami masih bertahan. Temanku masih saja belum mau beranjak, tapi setelah diseret oleh jadwal perjalanan, ia luluh juga. 

Mendaki Gunung Gede jalur Gunung Putri kami kehujanan selama pendakian. Sampai di Alun-Alun suryakencana semua berbalut putih, kami hanya bisa melihat beberapa meter kedepan. Ketika sampai puncak, aku kembali menemukan puncak putih, tapi tak seluruhnya. masih sempat mengabadikan momen sebelum awan putih kembali menyergap, masih bisa melihat kawah sebelum putih akhirnya menutupi, dan kemudian kami kembali berjalan turun ditengah putih. 

Paralayang di Puncak, Bogor pun aku kembali disapa putih. Langit memutih. pemandangan dibawah masih terlihat hijau dan jelas, hanya langit yang putih. Berbeda dengan di bromo ataupun di Gede, kabut menghiasi bagian atas juga menciumi alam hingga bawah. Aku pernah berada ditengah kabut, Namun ini, hanya langit yang memutih. Ternyata putih yang kutemukan berbeda. Dulu kutemukan kabut,  Kini?

"Ini mah bukan kabut, neng. Asap itu loh neng kayaknya."
"Asap Riau, pak?"
"Iya neng, katanya udah nyampe sini juga"

Masa sih? Aku hanya bisa mengoceh dalam hati. Sudah Sampai sini?

***
Setiap perjalanan adalah sebuah cerita menarik. Dibalik puncak-puncak putih yang mungkin hanya bisa jadi cibiran orang karena tidak melihat pemandangan yang sesungguhnya, ada sebuah kisah belakang layar yang mungkin tidak mereka tahu. Mengingat Bromo dan malang kadang saya terkekeh sendiri, selain berhasil mengunjungi berbagai tempat indah tentunya, intinya kami belajar teknik menawar dan manajemen uang minim dengan keinginan tempat kunjungan yang terlalu banyak. Kami semakin menghargai makanan setiap suapnya. kami belajar untuk tidak makan di stasiun kereta karena harganya terlalu mahal dan isinya sedikit. Carilah warteg mahasiswa di Malang, dengan Uang 10ribu kami bisa makan berenam sekaligus dengan nasi menggunung dan lauk yang lumayan. Kami merasakan sensasi membawa motor ke sempu sejauh 140km bulak-balik tanpa tahu jalan dan kehujanan. Kami merasakan persaudaraan di tanah orang atas teman yang telah menampung kami karena tidak sanggup menyewa penginapan. Dan setiap langkah kami lainnya adalah cerita.

Mengingat Gede, adalah melihat persaudaraan. Mendengar ragam cerita dan keceriaan juga arti hidup dari setiap pendaki lainnya. Mengingat Gede adalah makan enak dengan Chef handal dan langit bertaburkan bintang-bintang saat dini hari menyapa. Mengingat Gede adalah melihat carrier abang setim sebesar kulkas dan masih bisa melempar lelucon sepanjang jalan. Mengingat Gede adalah mengingat jurnalis Korea yang kusangka orang jepang dan kemudian mendokumentasikan langkah kami. Mengingat Gede adalah bertukar nomor dengan bapak Hantu Rimba tim SAR yang kemudian mengajak mendaki ke Gunung salak, yang harus kutolak karena waktu itu godaan skripsi dan wisuda terasa sangat menggoda.

Mengingat Puncak adalah mengingat Riau dan daerah di Sumatera lainnya, mengingat Berau dan daerah di Kalimantan lainnya. Bukan hanya puncak mereka yang putih, seluruh kota berbalut putih. Putih mereka bukan kabut yang dingin, melainkan Asap penuh racun yang perlahan-lahan membius para warga menjadi kesakitan. Di puncak-puncak putih, selalu ada cerita dan hikmah, saudaraku... semoga kalian menemukan sebuah hikmah putih di kota kalian tanpa harus hanya meratap namun juga berdoa dan bergerak. Gerakan kalian di media sudah semakin merebak, semakin banyak orang yang sudah sadar. Semoga kalian terus bertahan ketika para pengepul asap itu mulai mencekik kalian dengan putih-putih mereka yang mematikan.

Di puncak-puncak putih, kalian bisa saja menyebutnya kegagalan. Di kota-kota putih ini siapa yang sebenarnya merencanakan kegagalan? Siapa yang gagal menyelamatkan? 
Indonesia putih, apakah ini sebuah kegagalan? Lantas Siapa?

Puncak, Bogor
Bromo
Gunung Gede bersama Srikandi Rocker

Kabut Asap Berau (Sapos.com)

Kabut Asap Riau (MetroNews)



Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza