Wandering & Wondering

Thursday, 10 September 2015

Bagaimana Cara Berterimakasih pada Malaikat? (Bagian 2)


Bagaimana caranya berterimakasih pada malaikat?
Kau berkata bahwa aku hanya perlu berterimakasih pada diriku sendiri telah begitu kuat menopang perih yang tak berkesudahan. Kau berkata bahwa aku hanya perlu berterimakasih pada angin yang jaraknya selalu sangat dekat melingkupi setiap senti tubuhku. Kau berkata bahwa aku hanya perlu berterimakasih pada sampah-sampah yang berserakan bahkan sisa makanan yang tak ku makan karena mereka rela terbuang hanya agar aku dapat menjunjung setiap cita yang kugantung. Kau berkata bahwa aku hanya perlu berterimakasih pada cinta yang telah memaksa kita bertemu. Aku dan malaikatku bertemu. Kau berkata bahwa aliran cinta kita hanya perlu mengalir terus. Karena meskipun sungai kita berbeda, muara cinta kita akan selalu sama. Selalu kembali pada sebuah bentuk kemahaan. Mahacinta. Yang telah menerbangkan semua malaikat itu dan hanya bisa tersenyum bahagia dan terus menerus mencintai meski tanpa terimakasih.
Ia, sang Mahacinta, berkata, “Cintailah Aku, Maka Aku akan mencintaimu. Dan ketika Aku mencintaimu, kau akan tahu”
Jadi, bagaimana caranya berterimakasih pada malaikat?

Kurasa cinta kini cukup. 
Monday, 7 September 2015

Bagaimana Cara Berterimakasih pada Malaikat? (Bagian 1)


Bagaimana cara berterimakasih pada malaikat?
Haruskah aku menjabat tanganmu dengan sederhana, mengalirkan setiap hangat, dingin, berkeringat, bergetar, bahkan seluruh sensasi rasa kepadamu hanya untuk kau tahu bahwa aku berterimakasih kau telah mau sekadar melihatku ditengah duniamu yang telah sesak oleh berjuta manusia? Sudahkah cukup?
Haruskah aku menuliskan tanda terimakasih bertumpuk-tumpuk dan mengirimkannya pada surga hanya untuk kautahu bahwa aku berterimakasih engkau telah hadir dalam setiap celah jiwa bahkan menyelusup dan mengisi luka yang telah lama menganga? Sudahkah cukup?
Haruskah aku Meneriakan kata terimakasih beribu-ribu kali selantang-lantangnya seluas-luasnya ke setiap sudut pijakan tanah bahkan setiap sudut langit yang bahkan kutahu tak bersudut sama sekali hanya untuk kau tahu bahwa sekadar senyummu yang sudah candu telah lama memaksaku untuk menarik setiap sudut bibirku kesisi, menampakkan gigi-gigiku, membinarkan mataku? Sudahkah cukup?
Atau haruskah aku hanya berbisik lirih dan menitipkanmu pada sang pemilik jiwa kita karena Dia lebih tahu bagaimana caranya melimpahkan sayang dan Dia lebih tahu bagaimana caranya menjagamu ketika aku bahkan tak sanggup untuk menjaga diriku sendiri? Sudahkah cukup?
Berterimakasih padamu tidak akan pernah cukup.
Kita tidak akan pernah cukup.
Cinta tidak akan pernah cukup.
Sepertinya.


Sara Fiza, 29 Agustus 2015

Ditengah rasa berterimakasih yang bergumul tiap hari.

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza