Wandering & Wondering

Monday, 23 June 2014

Mozaik Kahuripan: Dari Syahrukh khan, Intan dan Pengamat Dadakan

Mozaik Kahuripan: Dari Syahrukh khan, Intan dan Pengamat Dadakan


          20.49. Kereta bernamakan Kahuripan baru mulai bergerak dari stasiun Kiaracondong, Bandung menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Meski lumayan telat karena jadwal sebenarnya adalah 20:05, tapi tetap saja: So EXCITED!
          First time, taking a train alone out of the town—well, it’s not actually alone. ada penumpang lain di gerbong yang sama dengan saya, pastinya. Haha. Dan ada empat teman saya yang duduk di kereta yang sama di gerbong nun jauh disana. Saya gerbong satu, mereka gerbong enam. Jauh! Dan tujuan kami memang berbeda. Saya ke Yogyakarta, dua orang teman saya ke Semarang, dan Dua lagi ke Malang. Alhasil, saya masih bisa ‘keukeuh’ ya membahasakan bahwa saya solo backpacker. Yiha! (Maafkan sikap ‘hiperbola’ ini, Maklumi saja kisah-kisah takjelas saya)
      Memang ada rasa gembira membuncah-buncah untuk perjalanan jauh seorang diri saya ini. Tapi ada juga terselip rasa khawatir. Tak ada kawan seperjalanan. Bagaimana saya lalui perjalanan ini? Dan tahukah, gelembung-gelembung kesepian itu pecah menjadi ilusi-ilusi menggelitik. Saya mulai membayangkan ada Syahrukh khan menarik tangan saya ke dalam kereta dan dia duduk di tempat duduk yang kosong disamping saya sembari menyanyikan “Tujhe Dekha To Ye Jaana Sanam…” waduh! Ilusi aneh apa ini. Saya mengibas-ngibaskan tangan saya pada udara kosong disamping saya. Eh! Syahrukh khan malah senyum lagi. Saya jadi geer bingung sendiri. Pasti Mungkin karena efek sebelum berangkat saya menonton film india super jadul ‘’Dilwale Dulhania Lejayenge” dan fil yang sedikit baru "Chennai Express" disatukan dengan scene yang sama: sama-sama dikereta, jadi saya berilusi hal aneh ini. Halaaah. (ketahuan suka nonton film india :p)
        Saya kemudian mengalihkan pandangan saya dari tempat duduk kosong disamping saya. Dan Jreng! Ada seorang Ibu dan anak perempuannya tersenyum ke arahku. Hiiii~ jangan-jangan mereka melihat aksi aneh kibasan tangan saya tadi.
          “Eh.. Bu..” kataku tersenyum
          “Mau pergi kemana teh?” kata Ibu itu sambil tersenyum
          “Yogya, Bu. Ibu?”
      “Sama saya juga mau ke yogya nih sama anak saya, mumpung libur sekolah. Sendirian aja?”
          “Iya bu, ibu berdua aja?” kata saya nyengir
         “Iya, ini mau ketemu kakeknya di Yogya. Anak saya kan mondok di boading school  jadi belum sempet ketemu kakeknya. Mumpung libur, jadi saya ajak dia kesana
     “Ooh..saya melirik pada anak perempuannya. Dan remaja itu tersenyum
          Akhirnya percakapan berlangsung, ternyata anaknya ibu itu baru saja menerima rapor dan naik kelas 12 SMA. Dia sekolah dan masuk asrama, sebuah Boarding School di Subang bernama Asy-syifa. Mata saya langsung berbinar-binar ketika tahu bahwa dia dari assyifa, itu kan pesantren penghafal Al-Quran. Waaaah.
          Intan, Nama anak perempuan itu. setelah Ibu nya terlelap tidur. Kami masih sibuk mengoceh sana-sini. Sangat tak menyangka bahwa saya bisa banyak berceloteh dengannya. Karena awalnya saya membicarakan bahwa saya suka hiking, dia jadi semakin heboh. Dia menyebutkan bahwa dia adalah salah satu anggota pecinta alam di sekolahnya. Dia sudah lima kali naik Gunung. Wow! Hebat juga anak ini. Dan dia mengaku bahwa anggota pecinta alam di sekolahnya  justru perempuan semua. Takada laki-laki seorangpun yang ikut. Ckckck.. aku berdecak aneh. Biasanya ini yang suka naik gunung laki-laki. Ini justru siswi perempuan yang antusias. Mereka biasanya naik gunung ditemani oleh guru Pembina mereka. Obrolan paling seru adalah cerita ketika mereka naik salah satu gunung di Subang yang masih sangat alami dan tidak ada jalur. Jadi mereka harus buka jalur sendiri bahkan sampai nyasar berputar-putar tidak sampai puncak. Salah Satu guru yang menyusul malah sampai puncak duluan dan bertemu harimau! Sedangkan mereka tersesat di belantara gunung dan baru bisa pulang pukul 2 malam, padahal mereka mulai pendakian dari pagi sekitar pukul 7. Luar biasa! Mendengar penuturannya aku bergidik sendiri. Mereka masih SMA tapi sudah mengalami banyak hal. Aku hidup sudah memasuki awal kepala dua belum kemana-mana.
          Perjalanan menuju Yogyakarta yang kukira akan membosankan ternyata menjadi sebuah perbincangan seru bercerita tentang ini itu. dia bahkan bercerita tentang hafalan Al-Quran nya. Aku lupa menanyakan berapa juz yang dia hafal, tapi dia mengaku bahwa beberapa juz lagi dia akan jadi hafidzah. Aku yang seharusnya jadi yang lebih dewasa malah terbalik curhat  bahwa aku sulit sekali menghafal Al-Quran. Jadi, akhirnya selain mendengar kisah petualangannya aku dapat juga tips-tips dan kisah teman-temannya dalam menghafal AL-Qur’an, bahkan teman seumurannya sudah beberapa yang jadi hafidzah padahal ada yang ketika masuk SMA itu masih sangat terbata-bata membaca AL-Quran, eh malah duluan dia yang hafal katanya. Wuis! Aku jadi semakin terpacu! Mereka yang kegiatannya lebih banyak, masih bisa menghafal. Aku?! Aduh! Malu rasanya.
          Perpisahan dengan Intan dan Ibunya terjadi begitu saja. Kami terpisah di kerumunan penumpang kereta kahuripan saat keluar. Dan aku tidak menemui mereka lagi, tak sempat menanyakan kontak social media atau nomor hp. Ya, mungkin inilah kisah singkat 8 jam kita bersama di kereta. Bercengkrama, tidur saling ubah posisi, dan senyum ramah itu: Unforgettable!
          Perjalanan pulang naik Kereta Kahuripan masih merasakan sensasi yang sama; Telat! Sampai kapan Image telat ini berubah. Entahlah. Mari lupakan sejenak tentang waktu Indonesia yang Melar.
On the way back home, meski tidak lagi bertemu dengan Intan dan Ibunya, apalagi Syahrukh khan. Saya justru berada di pojok dekat jendela kereta kahuripan—di tempat duduk dengan formasi 3-3, berbeda dengan keberangkatan yang formasi berhadapan hanya 2-2—dan saya bertemu orang-orang unik lagi. Tapi bedanya, saya yang sibuk berceloteh saat berangkat menjadi pendiam ketika perjalanan pulang dan saya asyik dan sibuk memperhatikan orang-orang didalam kereta. Khususnya yang duduk di formasi tempat duduk saya. Saya diujung dekat jendela, disamping saya yang asalnya kosong kemudian terisi mas-mas kribo dan disampingnya bapak-bapak baik hati yang selalu tersenyum, didepan bapak-bapak itu. duduklah kakak dari ITB yang setelah ngobrol dengan bapak baik hati ini itu, di membuka buku tebal dengan tulisan kecil-kecil yang ternyata buku ‘Dunia Sophie’. Mantep! Buku filsafat, gan! Disamping kakak ITB itu ada pasangan sejoli yang berpergian berduaan. Tepat dihadapanku. Tak usah kuceritakan, mereka tertidur sepanjang jalan. haha Dan aku? Aku hanya sibuk melaporkan suasana di kereta pada teman-temanku via What**pp. mereka satu persatu terlelap, aku terjaga. Bagaimana bisa aku tidur? Sulit sekali dengan kondisi seperti ini. Akhirnya aku hanya menjadi pengamat dadakan, mengamati ini itu. berkomentar ini itu. 8 jam perjalanan. Dan aku hanya menjadi pengamat.
          Perjalanan memang terkadang lebih berkesan dari tujuan yang kita capai. Mozaik-mozaik kisah itu menjadi sebuah sensasi hidup tersendiri. Hanya tinggal dipunguti untuk dirangkai menjadi sebuah kenangan berharga, kan? Dan kita tinggal memilih: ingin menikmati obrolan ‘sok’ akrab dengan teman seperjalan yang baru kita kenal, atau ingin menjadi pendiam yang sibuk mengamati orang, ingin menjadi orang yang justru diamati oleh orang, penikmat pemandangan sepanjang perjalanan, atau hanya tidur dan berselancar dalam dunia mimpi kita, atau mungkin ingin berkhayal bertemu Syahrukh khan? You choose.
         






          
Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza