Wandering & Wondering

Thursday, 15 May 2014

Menelisik Pesan Cinta dalam Cerita

Menelisik Pesan Cinta dalam Cerita

Analisis Amanat Cerpen O’henry “The Gift of Magi” dan “The Last Leaf”

*spoiler alert, I would like to recommend you to read the Short stories before reading this essay ^_^*


          Setiap karya dikatakan tidak ada yang ‘innocent’. Ia memiliki misi dalam setiap kata dan ia memiliki pesan dalam tiap tulisan. Begitupun dengan setiap cerita pendek alias cerpen, setiap cerita memiliki pesan yang tersimpan disetiap kata-kata. Oleh sebab itu sebuah cerpen yang merupakan bagian dari prosa memiliki unsur intrinsik penting yang tidak dapat dihapuskan dalam sebuah cerita, yaitu amanat. Amanat merupakan pesan yang terkandung dalam sebuah cerita dan merupakan misi yang hendak disampaikan oleh si penulis. Amanat menggambarkan pikiran dan pandangan penulis juga bisa berupa ajakan bagi para pembaca untuk meyakini apa yang penulis yakini baik secara langsung maupun tidak. Amanat merupakan ruh dalam sebuah cerita yang membuat cerita hidup dan berarti. Dan tanpanya maka sebuah karya dapat dikatakan mati.
          O’henry, merupakan salah satu penulis yang apik dalam mengemas pesan dalam setiap cerpen-cerpennya. Ia mampu menghidupkan ruh dalam cerita yang klasik namun juga dramatis. Dan pesan-pesan itu dapat kita lihat dari setiap cerpen yang ia tulis. Sebagai contoh adalah dua cerpen yang sangat terkenal dari O’henry yaitu “The Gift of Magi” dan “The Last Leaf.”
          Dalam cerpen “The Gift of Magi”, O’henry dengan gaya klasiknya menceritakan secara detail tentang kehidupan sepasang suami-istri yang kehidupannya pas-pasan. Ia menggambarkan dengan perlahan rasa gelisah yang dialami tokoh utama, Della yang kebingungan di hari Natal dimana setiap orang saling memberikan hadiah dalam perayaan umat kristiani ini. Della yang sangat ingin memberikan hadiah untuk suaminya menyadari bahwa ia hanya memiliki sedikit uang “One dollar and eighty-seven cents”, yang tidak cukup untuk membeli hadiah untuk suaminya, James alias Jim. Akhirnya Della memutuskan untuk menjual rambutnya yang indah, yang dikatakan  “Shining like a cascade of brown waters.” Meskipun, ia tahu bahwa rambutnya adalah hal yang disukai suaminya selain arloji emas warisan turun-temurun keluarganya. Tapi, ia tak bisa menahan keinginannya untuk memberikan hadiah bagi suaminya. Setelah menjual rambutnya untuk dua puluh dollar pada Madame Sofronie, Della menyusuri setiap kota dan akhirnya membeli sebuah rantai jam berwarna emas yang cocok untuk jam kesayangan Jim. 
          Ketika Jim pulang dan melihat Della dengan rambut pendeknya, ia menatap Della dengan tatapan ganjil. Della terus menjelaskan bahwa ia menjual rambutnya untuk membeli hadiah untuk Jim dan ia berusaha menenangkan Jim bahwa rambutnya akan segera tumbuh dengan cepat. Namun betapa terkejutnya Della ketika ia membuka bungkusan yang dibawa Jim untuknya, sepaket sisir yang indah dan begitu Della inginkan sejak dulu. Sisir itu tidak akan berarti dengan rambut cepaknya kini. Kemudian akhirnya Della memberikan rantai emas yang ia beli untuk arloji Jim. Dan sepasang suami-istri itu semakin terkejut ketika Jim mengatakan bahwa ia menjual arloji warisan keluarganya untuk memberikan Della hadiah sisir itu. Sungguh menyesakkan dan dramatis. Kini hadiah mereka tidak terlalu berarti kelihatannya, namun perasaan dalam barang pemberian itu tentunya lebih berarti.
          “The Gift of Magi bukan kisah cinta biasa. Mereka tidak perlu menenggak racun layaknya Romeo dan Juliet untuk membuktikan kata cinta. Mereka berdua merelakan hal yang mereka paling cintai untuk memberikan sebuah benda penuh kasih sayang untuk orang yang paling mereka sayangi. Ini bukan sekedar kisah dramatis, ini kisah penuh pengorbanan manis. Inilah pesan cinta yang ingin disampaikan oleh O’henry. Ia mengirimkan pesan lewat kisah sederhana dan dua karakter kuat yang bukan hanya bercerita kisah romantis, tapi dapat diartikan sebagai kekuatan dari saling memberi. Mungkin O’henry memang mengangkat Magi dalam kisah Umat Kristiani. Namun, pesan dan kebenarannya merupakan pesan universal. Contohnya dalam Islam, umat islam pun diajarkan untuk saling memberi “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari)




         Sama halnya dengan “The Gift of Magi”, “The Last Leaf” masih bercerita tentang pengorbanan. O’henry masih menitipkan pesannya lewat karakter kuat dan gaya seperti biasanya “Twist ending”. Kali ini, O’henry bercerita melalui dua gadis seniman yang bersahabat. Diceritakan dalam cerpennya bahwa saat itu merupakan musim dingin, dimana pneumonia menghantui banyak orang, terlebih apartemen yang mereka tinggali. Seperti digambarkan “That was in May. In November a cold, unseen stranger, whom the doctors called Pneumonia, stalked about the colony, touching one here and there with his icy fingers.” Johnsy salah seorang gadis seniman itu terkena pneumonia dan dikatakan bahwa ia tidak akan bertahan lama dan peluang hidupnya menipis kecuali jika ia memiliki semangat hidup yang dapat menambah peluang hidupnya. Namun, ternyata Johnsy sama sekali putus asa, ia menghitung setiap lembar daun yang jatuh di pohon pinus Ivy. Sampai hanya tersisa lima lembar daun. Dan Johnsy berkata bahwa ia akan pergi—meninggal—ketika daun terakhir jatuh dari tangkai pohon itu.  Ditengah keputus-asaan Johnsy, O’henry kemudian memunculkan tokoh lelaki tua, Behrman yang merupakan pelukis yang selalu membicarakan Masterpiece yang tidak pernah ia buat dan tidak pernah ia kerjakan. Dalam empat puluh tahun ia hanya menjadi model para seniman untuk melukis, sedangkan ia tidak pernah berhasil membuat Masterpiece nya sendiri. Dan Brehman tak habis pikir ketika Sue, sahabat Johnsy bercerita tentang Johnsy yang ingin mati hanya karena daun saja.
          Cerita berlanjut dengan Johnsy yang terus memandangi satu daun yang tersisa di pohon lewat jendelannya yang tidak kunjung jatuh juga. Akhirnya Johnsy menyadari bahwa ia seharusnya tidak menyerah, sebagaimana selembar daun terakhir yang juga tidak jatuh dan menyerah meski diterpan angin musim dingin. Semangat hidupnya tumbuh dan kesehatanya membaik, Ia sembuh.
          Cerita berakhir ketika Sue bercerita pada Johnsy bahwa Old Brehman telah meninggal kedinginan di kamarnya dengan sepatu dingin yang penuh dengan es, tangga, dan lentera yang masih menyala juga palet yang berisi cat hijau dan kuning. Ternyata daun yang tidak pernah jatuh itu merupakan Mahakarya pertama dan terakhir Brehman. Ia melukis daun didepan jendela Johnsy dan Sue dimalam yang sangat dingin, saat daun terakhir gugur.
          Lagi-lagi kisah dramatis, lagi-lagi kisah yang dapat dikatakan tragis. Inilah pesan cinta lain yang ingin disampaikan oleh O’henry pada para pembacanya. Inilah amanat penulis yang dikemas dengan apik dan menarik yang terasa disetiap denyut ceritanya. O’henry menunjukan bahwa dalam keadaan semiskin apapun, dalam keadaan setua apapun, dalam keadaan apapun, kita masih dapat menjadi manusia yang berarti. Bahwa Mahakarya terbesar yang dimiliki oleh umat manusia adalah dengan memberikan manfaat dan arti bagi orang lain. Mahakarya yang bukan hanya mendatangkan inspirasi atau sekadar hiburan bagi orang lain, namun mahakarya yang dapat menghidupkan semangat bagi orang lain. Dan O’henry menyatakan semua itu bukan dengan ceramah panjang lebar dalam cerpennya, namun lewat dialog-dialog mengalir dan aksi sederhana seorang lelaki tua. Mungkin memang ia tak begitu berarti sepanjang hidupnya, namun ia berarti di akhir hayatnya. Ia mungkin mati tragis sendirian, namun pengorbanannya berbuah manis untuk banyak orang.
          Sebuah Sastra dikatakan bukan hanya memiliki sifat indah dan menghibur, namun sastra juga dikatakan sebagai karya didaktif yang mendidik, bermoral karena mengajarkan moral baik, bahkan religius yang berisi pesan-pesan agamis bagi para pembacanya. Sastra O’henry mengandung unsur-unsur tersebut. Dengan gaya kepenulisan yang menghentakan jantung para pembaca di akhir setiap cerita, O’henry pun sukses membuai pembaca untuk memaknai kehidupan lewat amanat cerpennya. O’henry mengajarkan bahwa mencintai itu sederhana, sesederhana hadiah bagi sepasang suami istri dan sesederhana lukisan daun terakhir di musim dingin. Mencintai itu sederhana, cukup menjadi manusia berarti sebelum berakhir mati.


Dead Poet Society and The Poetry



Carpe Diem, Seize the day
            Those words are the core of this story. Those words are the key of the plot. Introduced by Mr. John Keating to his students and echoing through their ears, flowing through their brain, and slowly influence their life. “Dead Poet Society” is a great film which abounded with poetries, and discussed about all things at once: Education, Friendship, Romantics, non-conformity, freedom, reality, et cetera. Moreover, those are all portrayed in both positive and negative impacts.
            Began by showing the tradition and value by the school, showing the students, and then Introducing Mr. John Keating as the new English Teacher, the director led the audience to the main characters slowly and let them to recognize how prestige and strict the school is.
The story of Dead Poet Society really has a great power. The poetries as the main bond of this film bind the storyline. And it gives great impacts right from the beginning until the end of the story. Led by Mr. Keating, the poetry became the queen of the story, and as the reason why ‘Dead Poet Society’ was born. The new point of view was introduced by Mr. Keating to the students. The new style of teaching, the new style of how to see the world, the new style to become more creative and free, the new style among many strict and old style of the school there. Began by the phrase ‘Carpe Diem’ or ‘Seize the Day’ the storyline run smoothly and showed the changes of some students in Mr. Keating’s class. The figure of Mr. Keating were showed as the most influenced man in the story. The impression of ‘O Captain My Captain’ as the designation of Mr. Keating was very strong and remain strong until the very end of this film.
The writer and the director of this film wanted the audiences moved by many aspects of this movies. The feeling of being given some inspirations and motivations to be a man who seizing his day and live freely as he want are the main reaction that were wanted. To break the conservative and old life that happen at that time. To feel and think that poetry can free our souls. The film-makers wanted the audience especially the teachers and the parents at that time to realize their students and their children’s potencies. And even more extreme, the film showed their ‘sarcasm voice’ to the education by Neil’s suicide because his dream to become an actor was crushed by his parents. The film-makers also wanted the audience to felt angry to many strict-old rules which bind many people of becoming themselves and holding their creativity and to instances which can’t accept the changes. The audiences were wanted to felt very sad of that day reality which can kill someone’s dreams.
Overall, I love the poetries in this films, the main interest which I focused so much. As Mr. Keating said in the film, We don't write poetry because it is cute. We write poetry because we are members of the human race... and human race has filled with passion.” I started to put my concern in the poetry which seems very important in someone’s life. I like the ideas of literary view that can encourage change people only by words. I also like the way Mr. John Keating taught English, especially literacy, to the students with different and interesting ways. This give me some ideas how to be a good teacher and give me the sight of exciting teaching methods.
But, truly amazed by the poetries that were spread all over the story doesn’t mean I love the whole idea of the story. The liberalism, individuality, and non-conformity idea was very strong and the film showed that the reality those days which too strict and old are the main barrier. In one side, I like the idea of poetry that can beautify someone’s life, can grow our creativity and can change our life. In the other side, I don’t like the idea of poetry in this film that, unfortunately, show how ‘Wild’ are the students after learning the poetry, after learning how to live a life with his own voice. Maybe because it’s a western culture, so there are some scenes that showed how free the social gathering there. Like the party, smoking when they gathered in ‘Dead Poet Society’, and even took some girls, furthermore ‘drinking’ in those society, which I don’t like so much, because the film shows the party and those bad acts which is the part of ‘being free’. At first, the idea of the reborn of ‘Dead Poet Society’ really push me to the curiosity, I imagine the picture of the classic society. But the reality only disappoint me. It doesn’t seems as the society which full of poems and creativity, it seemed to me that’s only secretive society which inside of it, the students run wild.
Sucking the marrow out of life doesn't mean choking on the bone”, it is a relieve when I saw that Mr. Keating said those sentences which means Although it's a good idea to try to live to the fullest of our life, trying too hard can be dangerous. And He continues, “There's a time for daring and there's a time for caution, and a wise man understands which is called for.” Mr. Keating advice is a great advice. But, those advice doesn’t stop the students of being wild. They get even wilder and unfortunately those gave Mr. Keating problems. The reality became the obstacle. In the end, they can’t fight against the reality. And they’ve got their punishment

This film shows about a lot of things, in the positive and the negative ways. So, I hope that the audiences can choose what are the good things that we can take, and what the bad things that we shouldn’t take. Live freely doesn’t mean we ignore all caution. Live freely doesn’t mean we run wild. Live freely is when we can live a life according to our potency and be beneficial for others, not to ruin others life and even our life. We set our own boundaries.

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza