Wandering & Wondering

Sunday, 29 June 2014

Kawanan Bertopeng

Kawanan Bertopeng



Ma,
Kawanan bertopeng itu bercengkrama
Senyum mereka mengembang
Mereka bersorak
: Ramadan!

Ma,
Kawanan bertopeng itu bersenandung
Senyum mereka melengkung
Mereka berseru
: Ramadan!

Ma,
Mereka kata rindu Ramadan
Mereka rindu berpuasa
Mereka Rindu Berbuka
Mereka ternyata Rindu berpesta pora
Mereka Rindu Komedi Tawa
Mereka Rindu saat berbelanja

Ma,
Ramadan lari dari kawanan bertopeng
Katanya rindu itu hanya bopeng
Persembahan mereka hanya coreng


Ma,
LIhat!
Senyumku sangat menawan
Kupanggil-panggil Ramadan
Tapi Ia mengabaikan
Kulihat telapak tanganku penuh petasan
Menghilang Al-Quran

Ma,
Kau berteriak
Aku tersentak
: Nak, Kau pun makhluk bertopeng!



Sara Fiza, Ramadan 1434 H, 2013 M
Monday, 23 June 2014

Mozaik Kahuripan: Dari Syahrukh khan, Intan dan Pengamat Dadakan

Mozaik Kahuripan: Dari Syahrukh khan, Intan dan Pengamat Dadakan


          20.49. Kereta bernamakan Kahuripan baru mulai bergerak dari stasiun Kiaracondong, Bandung menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Meski lumayan telat karena jadwal sebenarnya adalah 20:05, tapi tetap saja: So EXCITED!
          First time, taking a train alone out of the town—well, it’s not actually alone. ada penumpang lain di gerbong yang sama dengan saya, pastinya. Haha. Dan ada empat teman saya yang duduk di kereta yang sama di gerbong nun jauh disana. Saya gerbong satu, mereka gerbong enam. Jauh! Dan tujuan kami memang berbeda. Saya ke Yogyakarta, dua orang teman saya ke Semarang, dan Dua lagi ke Malang. Alhasil, saya masih bisa ‘keukeuh’ ya membahasakan bahwa saya solo backpacker. Yiha! (Maafkan sikap ‘hiperbola’ ini, Maklumi saja kisah-kisah takjelas saya)
      Memang ada rasa gembira membuncah-buncah untuk perjalanan jauh seorang diri saya ini. Tapi ada juga terselip rasa khawatir. Tak ada kawan seperjalanan. Bagaimana saya lalui perjalanan ini? Dan tahukah, gelembung-gelembung kesepian itu pecah menjadi ilusi-ilusi menggelitik. Saya mulai membayangkan ada Syahrukh khan menarik tangan saya ke dalam kereta dan dia duduk di tempat duduk yang kosong disamping saya sembari menyanyikan “Tujhe Dekha To Ye Jaana Sanam…” waduh! Ilusi aneh apa ini. Saya mengibas-ngibaskan tangan saya pada udara kosong disamping saya. Eh! Syahrukh khan malah senyum lagi. Saya jadi geer bingung sendiri. Pasti Mungkin karena efek sebelum berangkat saya menonton film india super jadul ‘’Dilwale Dulhania Lejayenge” dan fil yang sedikit baru "Chennai Express" disatukan dengan scene yang sama: sama-sama dikereta, jadi saya berilusi hal aneh ini. Halaaah. (ketahuan suka nonton film india :p)
        Saya kemudian mengalihkan pandangan saya dari tempat duduk kosong disamping saya. Dan Jreng! Ada seorang Ibu dan anak perempuannya tersenyum ke arahku. Hiiii~ jangan-jangan mereka melihat aksi aneh kibasan tangan saya tadi.
          “Eh.. Bu..” kataku tersenyum
          “Mau pergi kemana teh?” kata Ibu itu sambil tersenyum
          “Yogya, Bu. Ibu?”
      “Sama saya juga mau ke yogya nih sama anak saya, mumpung libur sekolah. Sendirian aja?”
          “Iya bu, ibu berdua aja?” kata saya nyengir
         “Iya, ini mau ketemu kakeknya di Yogya. Anak saya kan mondok di boading school  jadi belum sempet ketemu kakeknya. Mumpung libur, jadi saya ajak dia kesana
     “Ooh..saya melirik pada anak perempuannya. Dan remaja itu tersenyum
          Akhirnya percakapan berlangsung, ternyata anaknya ibu itu baru saja menerima rapor dan naik kelas 12 SMA. Dia sekolah dan masuk asrama, sebuah Boarding School di Subang bernama Asy-syifa. Mata saya langsung berbinar-binar ketika tahu bahwa dia dari assyifa, itu kan pesantren penghafal Al-Quran. Waaaah.
          Intan, Nama anak perempuan itu. setelah Ibu nya terlelap tidur. Kami masih sibuk mengoceh sana-sini. Sangat tak menyangka bahwa saya bisa banyak berceloteh dengannya. Karena awalnya saya membicarakan bahwa saya suka hiking, dia jadi semakin heboh. Dia menyebutkan bahwa dia adalah salah satu anggota pecinta alam di sekolahnya. Dia sudah lima kali naik Gunung. Wow! Hebat juga anak ini. Dan dia mengaku bahwa anggota pecinta alam di sekolahnya  justru perempuan semua. Takada laki-laki seorangpun yang ikut. Ckckck.. aku berdecak aneh. Biasanya ini yang suka naik gunung laki-laki. Ini justru siswi perempuan yang antusias. Mereka biasanya naik gunung ditemani oleh guru Pembina mereka. Obrolan paling seru adalah cerita ketika mereka naik salah satu gunung di Subang yang masih sangat alami dan tidak ada jalur. Jadi mereka harus buka jalur sendiri bahkan sampai nyasar berputar-putar tidak sampai puncak. Salah Satu guru yang menyusul malah sampai puncak duluan dan bertemu harimau! Sedangkan mereka tersesat di belantara gunung dan baru bisa pulang pukul 2 malam, padahal mereka mulai pendakian dari pagi sekitar pukul 7. Luar biasa! Mendengar penuturannya aku bergidik sendiri. Mereka masih SMA tapi sudah mengalami banyak hal. Aku hidup sudah memasuki awal kepala dua belum kemana-mana.
          Perjalanan menuju Yogyakarta yang kukira akan membosankan ternyata menjadi sebuah perbincangan seru bercerita tentang ini itu. dia bahkan bercerita tentang hafalan Al-Quran nya. Aku lupa menanyakan berapa juz yang dia hafal, tapi dia mengaku bahwa beberapa juz lagi dia akan jadi hafidzah. Aku yang seharusnya jadi yang lebih dewasa malah terbalik curhat  bahwa aku sulit sekali menghafal Al-Quran. Jadi, akhirnya selain mendengar kisah petualangannya aku dapat juga tips-tips dan kisah teman-temannya dalam menghafal AL-Qur’an, bahkan teman seumurannya sudah beberapa yang jadi hafidzah padahal ada yang ketika masuk SMA itu masih sangat terbata-bata membaca AL-Quran, eh malah duluan dia yang hafal katanya. Wuis! Aku jadi semakin terpacu! Mereka yang kegiatannya lebih banyak, masih bisa menghafal. Aku?! Aduh! Malu rasanya.
          Perpisahan dengan Intan dan Ibunya terjadi begitu saja. Kami terpisah di kerumunan penumpang kereta kahuripan saat keluar. Dan aku tidak menemui mereka lagi, tak sempat menanyakan kontak social media atau nomor hp. Ya, mungkin inilah kisah singkat 8 jam kita bersama di kereta. Bercengkrama, tidur saling ubah posisi, dan senyum ramah itu: Unforgettable!
          Perjalanan pulang naik Kereta Kahuripan masih merasakan sensasi yang sama; Telat! Sampai kapan Image telat ini berubah. Entahlah. Mari lupakan sejenak tentang waktu Indonesia yang Melar.
On the way back home, meski tidak lagi bertemu dengan Intan dan Ibunya, apalagi Syahrukh khan. Saya justru berada di pojok dekat jendela kereta kahuripan—di tempat duduk dengan formasi 3-3, berbeda dengan keberangkatan yang formasi berhadapan hanya 2-2—dan saya bertemu orang-orang unik lagi. Tapi bedanya, saya yang sibuk berceloteh saat berangkat menjadi pendiam ketika perjalanan pulang dan saya asyik dan sibuk memperhatikan orang-orang didalam kereta. Khususnya yang duduk di formasi tempat duduk saya. Saya diujung dekat jendela, disamping saya yang asalnya kosong kemudian terisi mas-mas kribo dan disampingnya bapak-bapak baik hati yang selalu tersenyum, didepan bapak-bapak itu. duduklah kakak dari ITB yang setelah ngobrol dengan bapak baik hati ini itu, di membuka buku tebal dengan tulisan kecil-kecil yang ternyata buku ‘Dunia Sophie’. Mantep! Buku filsafat, gan! Disamping kakak ITB itu ada pasangan sejoli yang berpergian berduaan. Tepat dihadapanku. Tak usah kuceritakan, mereka tertidur sepanjang jalan. haha Dan aku? Aku hanya sibuk melaporkan suasana di kereta pada teman-temanku via What**pp. mereka satu persatu terlelap, aku terjaga. Bagaimana bisa aku tidur? Sulit sekali dengan kondisi seperti ini. Akhirnya aku hanya menjadi pengamat dadakan, mengamati ini itu. berkomentar ini itu. 8 jam perjalanan. Dan aku hanya menjadi pengamat.
          Perjalanan memang terkadang lebih berkesan dari tujuan yang kita capai. Mozaik-mozaik kisah itu menjadi sebuah sensasi hidup tersendiri. Hanya tinggal dipunguti untuk dirangkai menjadi sebuah kenangan berharga, kan? Dan kita tinggal memilih: ingin menikmati obrolan ‘sok’ akrab dengan teman seperjalan yang baru kita kenal, atau ingin menjadi pendiam yang sibuk mengamati orang, ingin menjadi orang yang justru diamati oleh orang, penikmat pemandangan sepanjang perjalanan, atau hanya tidur dan berselancar dalam dunia mimpi kita, atau mungkin ingin berkhayal bertemu Syahrukh khan? You choose.
         






          
Thursday, 15 May 2014

Menelisik Pesan Cinta dalam Cerita

Menelisik Pesan Cinta dalam Cerita

Analisis Amanat Cerpen O’henry “The Gift of Magi” dan “The Last Leaf”

*spoiler alert, I would like to recommend you to read the Short stories before reading this essay ^_^*


          Setiap karya dikatakan tidak ada yang ‘innocent’. Ia memiliki misi dalam setiap kata dan ia memiliki pesan dalam tiap tulisan. Begitupun dengan setiap cerita pendek alias cerpen, setiap cerita memiliki pesan yang tersimpan disetiap kata-kata. Oleh sebab itu sebuah cerpen yang merupakan bagian dari prosa memiliki unsur intrinsik penting yang tidak dapat dihapuskan dalam sebuah cerita, yaitu amanat. Amanat merupakan pesan yang terkandung dalam sebuah cerita dan merupakan misi yang hendak disampaikan oleh si penulis. Amanat menggambarkan pikiran dan pandangan penulis juga bisa berupa ajakan bagi para pembaca untuk meyakini apa yang penulis yakini baik secara langsung maupun tidak. Amanat merupakan ruh dalam sebuah cerita yang membuat cerita hidup dan berarti. Dan tanpanya maka sebuah karya dapat dikatakan mati.
          O’henry, merupakan salah satu penulis yang apik dalam mengemas pesan dalam setiap cerpen-cerpennya. Ia mampu menghidupkan ruh dalam cerita yang klasik namun juga dramatis. Dan pesan-pesan itu dapat kita lihat dari setiap cerpen yang ia tulis. Sebagai contoh adalah dua cerpen yang sangat terkenal dari O’henry yaitu “The Gift of Magi” dan “The Last Leaf.”
          Dalam cerpen “The Gift of Magi”, O’henry dengan gaya klasiknya menceritakan secara detail tentang kehidupan sepasang suami-istri yang kehidupannya pas-pasan. Ia menggambarkan dengan perlahan rasa gelisah yang dialami tokoh utama, Della yang kebingungan di hari Natal dimana setiap orang saling memberikan hadiah dalam perayaan umat kristiani ini. Della yang sangat ingin memberikan hadiah untuk suaminya menyadari bahwa ia hanya memiliki sedikit uang “One dollar and eighty-seven cents”, yang tidak cukup untuk membeli hadiah untuk suaminya, James alias Jim. Akhirnya Della memutuskan untuk menjual rambutnya yang indah, yang dikatakan  “Shining like a cascade of brown waters.” Meskipun, ia tahu bahwa rambutnya adalah hal yang disukai suaminya selain arloji emas warisan turun-temurun keluarganya. Tapi, ia tak bisa menahan keinginannya untuk memberikan hadiah bagi suaminya. Setelah menjual rambutnya untuk dua puluh dollar pada Madame Sofronie, Della menyusuri setiap kota dan akhirnya membeli sebuah rantai jam berwarna emas yang cocok untuk jam kesayangan Jim. 
          Ketika Jim pulang dan melihat Della dengan rambut pendeknya, ia menatap Della dengan tatapan ganjil. Della terus menjelaskan bahwa ia menjual rambutnya untuk membeli hadiah untuk Jim dan ia berusaha menenangkan Jim bahwa rambutnya akan segera tumbuh dengan cepat. Namun betapa terkejutnya Della ketika ia membuka bungkusan yang dibawa Jim untuknya, sepaket sisir yang indah dan begitu Della inginkan sejak dulu. Sisir itu tidak akan berarti dengan rambut cepaknya kini. Kemudian akhirnya Della memberikan rantai emas yang ia beli untuk arloji Jim. Dan sepasang suami-istri itu semakin terkejut ketika Jim mengatakan bahwa ia menjual arloji warisan keluarganya untuk memberikan Della hadiah sisir itu. Sungguh menyesakkan dan dramatis. Kini hadiah mereka tidak terlalu berarti kelihatannya, namun perasaan dalam barang pemberian itu tentunya lebih berarti.
          “The Gift of Magi bukan kisah cinta biasa. Mereka tidak perlu menenggak racun layaknya Romeo dan Juliet untuk membuktikan kata cinta. Mereka berdua merelakan hal yang mereka paling cintai untuk memberikan sebuah benda penuh kasih sayang untuk orang yang paling mereka sayangi. Ini bukan sekedar kisah dramatis, ini kisah penuh pengorbanan manis. Inilah pesan cinta yang ingin disampaikan oleh O’henry. Ia mengirimkan pesan lewat kisah sederhana dan dua karakter kuat yang bukan hanya bercerita kisah romantis, tapi dapat diartikan sebagai kekuatan dari saling memberi. Mungkin O’henry memang mengangkat Magi dalam kisah Umat Kristiani. Namun, pesan dan kebenarannya merupakan pesan universal. Contohnya dalam Islam, umat islam pun diajarkan untuk saling memberi “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari)




         Sama halnya dengan “The Gift of Magi”, “The Last Leaf” masih bercerita tentang pengorbanan. O’henry masih menitipkan pesannya lewat karakter kuat dan gaya seperti biasanya “Twist ending”. Kali ini, O’henry bercerita melalui dua gadis seniman yang bersahabat. Diceritakan dalam cerpennya bahwa saat itu merupakan musim dingin, dimana pneumonia menghantui banyak orang, terlebih apartemen yang mereka tinggali. Seperti digambarkan “That was in May. In November a cold, unseen stranger, whom the doctors called Pneumonia, stalked about the colony, touching one here and there with his icy fingers.” Johnsy salah seorang gadis seniman itu terkena pneumonia dan dikatakan bahwa ia tidak akan bertahan lama dan peluang hidupnya menipis kecuali jika ia memiliki semangat hidup yang dapat menambah peluang hidupnya. Namun, ternyata Johnsy sama sekali putus asa, ia menghitung setiap lembar daun yang jatuh di pohon pinus Ivy. Sampai hanya tersisa lima lembar daun. Dan Johnsy berkata bahwa ia akan pergi—meninggal—ketika daun terakhir jatuh dari tangkai pohon itu.  Ditengah keputus-asaan Johnsy, O’henry kemudian memunculkan tokoh lelaki tua, Behrman yang merupakan pelukis yang selalu membicarakan Masterpiece yang tidak pernah ia buat dan tidak pernah ia kerjakan. Dalam empat puluh tahun ia hanya menjadi model para seniman untuk melukis, sedangkan ia tidak pernah berhasil membuat Masterpiece nya sendiri. Dan Brehman tak habis pikir ketika Sue, sahabat Johnsy bercerita tentang Johnsy yang ingin mati hanya karena daun saja.
          Cerita berlanjut dengan Johnsy yang terus memandangi satu daun yang tersisa di pohon lewat jendelannya yang tidak kunjung jatuh juga. Akhirnya Johnsy menyadari bahwa ia seharusnya tidak menyerah, sebagaimana selembar daun terakhir yang juga tidak jatuh dan menyerah meski diterpan angin musim dingin. Semangat hidupnya tumbuh dan kesehatanya membaik, Ia sembuh.
          Cerita berakhir ketika Sue bercerita pada Johnsy bahwa Old Brehman telah meninggal kedinginan di kamarnya dengan sepatu dingin yang penuh dengan es, tangga, dan lentera yang masih menyala juga palet yang berisi cat hijau dan kuning. Ternyata daun yang tidak pernah jatuh itu merupakan Mahakarya pertama dan terakhir Brehman. Ia melukis daun didepan jendela Johnsy dan Sue dimalam yang sangat dingin, saat daun terakhir gugur.
          Lagi-lagi kisah dramatis, lagi-lagi kisah yang dapat dikatakan tragis. Inilah pesan cinta lain yang ingin disampaikan oleh O’henry pada para pembacanya. Inilah amanat penulis yang dikemas dengan apik dan menarik yang terasa disetiap denyut ceritanya. O’henry menunjukan bahwa dalam keadaan semiskin apapun, dalam keadaan setua apapun, dalam keadaan apapun, kita masih dapat menjadi manusia yang berarti. Bahwa Mahakarya terbesar yang dimiliki oleh umat manusia adalah dengan memberikan manfaat dan arti bagi orang lain. Mahakarya yang bukan hanya mendatangkan inspirasi atau sekadar hiburan bagi orang lain, namun mahakarya yang dapat menghidupkan semangat bagi orang lain. Dan O’henry menyatakan semua itu bukan dengan ceramah panjang lebar dalam cerpennya, namun lewat dialog-dialog mengalir dan aksi sederhana seorang lelaki tua. Mungkin memang ia tak begitu berarti sepanjang hidupnya, namun ia berarti di akhir hayatnya. Ia mungkin mati tragis sendirian, namun pengorbanannya berbuah manis untuk banyak orang.
          Sebuah Sastra dikatakan bukan hanya memiliki sifat indah dan menghibur, namun sastra juga dikatakan sebagai karya didaktif yang mendidik, bermoral karena mengajarkan moral baik, bahkan religius yang berisi pesan-pesan agamis bagi para pembacanya. Sastra O’henry mengandung unsur-unsur tersebut. Dengan gaya kepenulisan yang menghentakan jantung para pembaca di akhir setiap cerita, O’henry pun sukses membuai pembaca untuk memaknai kehidupan lewat amanat cerpennya. O’henry mengajarkan bahwa mencintai itu sederhana, sesederhana hadiah bagi sepasang suami istri dan sesederhana lukisan daun terakhir di musim dingin. Mencintai itu sederhana, cukup menjadi manusia berarti sebelum berakhir mati.


Dead Poet Society and The Poetry



Carpe Diem, Seize the day
            Those words are the core of this story. Those words are the key of the plot. Introduced by Mr. John Keating to his students and echoing through their ears, flowing through their brain, and slowly influence their life. “Dead Poet Society” is a great film which abounded with poetries, and discussed about all things at once: Education, Friendship, Romantics, non-conformity, freedom, reality, et cetera. Moreover, those are all portrayed in both positive and negative impacts.
            Began by showing the tradition and value by the school, showing the students, and then Introducing Mr. John Keating as the new English Teacher, the director led the audience to the main characters slowly and let them to recognize how prestige and strict the school is.
The story of Dead Poet Society really has a great power. The poetries as the main bond of this film bind the storyline. And it gives great impacts right from the beginning until the end of the story. Led by Mr. Keating, the poetry became the queen of the story, and as the reason why ‘Dead Poet Society’ was born. The new point of view was introduced by Mr. Keating to the students. The new style of teaching, the new style of how to see the world, the new style to become more creative and free, the new style among many strict and old style of the school there. Began by the phrase ‘Carpe Diem’ or ‘Seize the Day’ the storyline run smoothly and showed the changes of some students in Mr. Keating’s class. The figure of Mr. Keating were showed as the most influenced man in the story. The impression of ‘O Captain My Captain’ as the designation of Mr. Keating was very strong and remain strong until the very end of this film.
The writer and the director of this film wanted the audiences moved by many aspects of this movies. The feeling of being given some inspirations and motivations to be a man who seizing his day and live freely as he want are the main reaction that were wanted. To break the conservative and old life that happen at that time. To feel and think that poetry can free our souls. The film-makers wanted the audience especially the teachers and the parents at that time to realize their students and their children’s potencies. And even more extreme, the film showed their ‘sarcasm voice’ to the education by Neil’s suicide because his dream to become an actor was crushed by his parents. The film-makers also wanted the audience to felt angry to many strict-old rules which bind many people of becoming themselves and holding their creativity and to instances which can’t accept the changes. The audiences were wanted to felt very sad of that day reality which can kill someone’s dreams.
Overall, I love the poetries in this films, the main interest which I focused so much. As Mr. Keating said in the film, We don't write poetry because it is cute. We write poetry because we are members of the human race... and human race has filled with passion.” I started to put my concern in the poetry which seems very important in someone’s life. I like the ideas of literary view that can encourage change people only by words. I also like the way Mr. John Keating taught English, especially literacy, to the students with different and interesting ways. This give me some ideas how to be a good teacher and give me the sight of exciting teaching methods.
But, truly amazed by the poetries that were spread all over the story doesn’t mean I love the whole idea of the story. The liberalism, individuality, and non-conformity idea was very strong and the film showed that the reality those days which too strict and old are the main barrier. In one side, I like the idea of poetry that can beautify someone’s life, can grow our creativity and can change our life. In the other side, I don’t like the idea of poetry in this film that, unfortunately, show how ‘Wild’ are the students after learning the poetry, after learning how to live a life with his own voice. Maybe because it’s a western culture, so there are some scenes that showed how free the social gathering there. Like the party, smoking when they gathered in ‘Dead Poet Society’, and even took some girls, furthermore ‘drinking’ in those society, which I don’t like so much, because the film shows the party and those bad acts which is the part of ‘being free’. At first, the idea of the reborn of ‘Dead Poet Society’ really push me to the curiosity, I imagine the picture of the classic society. But the reality only disappoint me. It doesn’t seems as the society which full of poems and creativity, it seemed to me that’s only secretive society which inside of it, the students run wild.
Sucking the marrow out of life doesn't mean choking on the bone”, it is a relieve when I saw that Mr. Keating said those sentences which means Although it's a good idea to try to live to the fullest of our life, trying too hard can be dangerous. And He continues, “There's a time for daring and there's a time for caution, and a wise man understands which is called for.” Mr. Keating advice is a great advice. But, those advice doesn’t stop the students of being wild. They get even wilder and unfortunately those gave Mr. Keating problems. The reality became the obstacle. In the end, they can’t fight against the reality. And they’ve got their punishment

This film shows about a lot of things, in the positive and the negative ways. So, I hope that the audiences can choose what are the good things that we can take, and what the bad things that we shouldn’t take. Live freely doesn’t mean we ignore all caution. Live freely doesn’t mean we run wild. Live freely is when we can live a life according to our potency and be beneficial for others, not to ruin others life and even our life. We set our own boundaries.

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza