Wandering & Wondering

Saturday, 1 December 2012

幸せ/ Shiawase/Happiness


SHIAWASE[1]
Menatapnya adalah kebingungan yang merangsek menguasai tubuhku. Kesedihan yang menyeruak dalam percabangan syarafku semakin bertumpuk. Senyuman manis itu masih setia menggantung di wajahnya. Aku bingung harus menangis atau ikut tersenyum dengannya.
****
               “Ayumi-chan[2]!”
            Aku menoleh dan menangkap wajah sahabatku sejak kecil “Konnichiwa[3], Sachiko-chan, kemana saja kamu?!”
            “Konnichiwa! Ayumi-chan, aku baru saja pulang dari Kobe[4]” kata Sachiko dengan riang.
            “Hah? Kobe? Kenapa kamu sering sekali main kesana? Hampir tiap minggu ke Kobe, kau bahkan sudah jarang menemaniku jalan-jalan” kataku sedikit heran sekaligus kesal.
            “Hehe, gomen[5]” Sachiko menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya, “Di Kobe ada tempat yang kusuka. Jadi, aku sering main kesana, nanti pasti aku ajak kamu, kau tahu disana ada...”
            “Ooh, aku tahu, pasti kamu menyukai seseorang disana, hah! Sudah kuduga. Kalau masalahnya sudah begitu, ya aku tidak bisa apa-apa” kataku meledek
            “Aaah, bukan, bukan”
            “Sudahlah, kau tidak bisa membohongiku, haha”  aku tertawa dan berlalu, Sachiko masih mengelak dan menyanggah kata-kataku, aku berlari dan dia sibuk mengejarku. Aku tahu kegiatan kejar-kejaran ini tidak akan selesai, apalagi dengan energi ekstra Sachiko yang seolah tak pernah habis, ia pasti takkan menyerah mengejarku. Akhirnya kuputuskan, biar aku saja yang menyerah, aku sudah terlampau lelah. Aku kemudian duduk di atas rumput di samping sungai yang berada di sepanjang jalan. Sachiko yang kemudian menyusulku mulai menyanggah dengan berbagai alasannya.
Aku masih menatap Sachiko, mendengarkan celoteh Sachiko. Aku menyapu Sachiko dengan pandanganku. Sachiko tetap Sachiko dengan gaya ‘tomboy’nya,  kaos dan celana jeans yang masih melekat di tubuhnya, rambut hitam panjangnya yang selalu diikat dan dimasukan ke dalam topinya. Padahal biasanya para perempuan remaja berlomba-lomba untuk tampil manis dengan rok mini dan tatanan rambut yang modern. Tapi ia masih seperti itu. Ia tidak khawatir dengan semua itu, Justru makin hari keceriannya bertambah dan wajahnya serasa semakin cerah,  apalagi alasannya selain ‘jatuh cinta’? Aku pun pernah merasakan rasa itu, saat aku menyukai kakak kelasku, rasanya memang seperti kebahagiaan yang berlipat ganda.  Dan aku senang jika Sachiko kini sudah merasakannya, ia merasakan cinta. Kapan dia akan mengajak lelaki itu berkencan ya?
*****
            Entah cinta apa yang telah merasuki Sachiko hingga ia berubah begitu drastis, aku sudah semakin kehilangannya, lelaki macam apa yang ia sukai, apakah lelaki itu vegetarian? Sehingga kini, jarang kulihat ia memakan daging, apalagi daging babi. Padahal ku tahu daging itu adalah daging kesukaannya. Ataukah lelaki itu seorang dokter? Sehingga kini ia tidak mau makan masakan yang dimasak dengan arak, padahal yang kutahu, dokter pun masih membolehkan minum arak walau dengan jumlah takaran yang sedikit, dan yang aku tahu para dokter di jepang juga masih mengkonsumsi makanan yang mengandung arak. Mungkin lelaki yang Sachiko suka adalah jenis dokter yang sangat membenci alkohol.
            Entahlah, aku hanya bisa bermain dengan pikiranku sendiri, menggantungkan beribu tanya dalam otakku, dan mencoba menerka apa yang terjadi pada sahabatku. Tapi, ia tak pernah menceritakan lelaki yang ia sukai itu. Apakah Ia tak lagi menganggapku sebagai sahabat? Sehingga ia tidak menceritakan sepatah katapun tentang ini. Padahal, ia adalah anak cerewet yang terus menerus menceritakan banyak hal padaku. Tapi tentang ini? Tak pernah aku mendengar secuil pun cerita. Tapi, aku hanya ingin berpikir positif tentangnya, mungkin ia terlampau malu untuk menceritakan kisah cinta pertamanya ini. Biarlah aku bermain dengan pikiranku sendiri, biarlah aku berbicara dengan hatiku sendiri dan mencoba menebak, jenis dari lelaki apa yang ia sukai?
             Lelaki itu  mungkin telah benar-benar mengatur kehidupan Sachiko, bayangkan saja, ia selalu menghilang pada waktu makan siang, dan sepulang sekolah ia selalu terburu-buru pulang. Tak ada lagi acara hang out bersamanya. Ia seolah-olah dibawa pergi menjauh dariku.
            Sachiko? Cinta apa yang benar-benar telah membawamu pergi sejauh ini dariku? Jika memang cinta yang kau rasakan begitu indah dan menyenangkan. Bisakah kau ceritakan padaku tentang cinta yang kau rasakan. Aku ingin merasakan kebahagiaanmu.
*****
            Rasa penasaranku benar-benar telah menguasai setiap jengkal hatiku, benar-benar ada yang aneh pada diri Sachiko, setelah bulan februari lalu ia tidak mengikuti upacara Setsubun[6], bulan juni pun ia tidak mengikuti upacara O Bon[7], padahal tahun lalu kami terus mengikuti upacara itu. Entah upacara apa lagi yang akan dia lewatkan. Padahal, ia adalah pecinta  upacara adat yang telah turun temurun di jepang ini. Keluarganya yang pemegang kuat budaya dan penganut agama shinto juga tak pernah melewatkannya. Keluarganya tidak menyadari bahwa Sachiko tidak mengikuti upacara-upacara itu, karena Sachiko selalu pergi satu hari sebelum berlangsungnya upacara, katanya ia akan mengikutinya di tempat lain bersama dengan teman-temannya.
            Tapi aku lah yang tahu bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak mengikutinya, karena ia datang ke rumahku, menempati kamar kosong milik kakakku yang sudah pindah, dan Sachiko diam di kamar itu selama seharian penuh. Saat festival Setsubun aku sibuk menebar kacang di sekeliling rumah, dan ia tidak keluar kamar itu, selain ke toilet dan makan. Dan pada saat upacara O bon pun ia tidak menyalakan lentera dan menghanyutkannya ke sungai. Hanya sibuk memotret kami melakukan upacaranya. Keluargaku kebingungan, tapi mereka enggan bertanya, karena takut dikira ikut campur. Keluargaku pun hanya berpikir bahwa Ia sedang kelelahan dan sakit.
            Tapi, aku yang tahu keadaannya, ia tidak sakit. Di kamar kakak ku, jika ia tidak ikut upacara, dia hanya sibuk membaca buku, kadang-kadang bercanda denganku. Meski kini ia terkadang mengunci kamar di waktu-waktu tertentu, seolah tak ingin orang tahu apa yang ia kerjakan.
            Kini, aku tak bisa terus memendam rasa ini, aku ceritakan semua kebingunganku,
            “Bukan maksudku ikut campur Sachiko-chan, aku sudah lama memendam rasa penasaran ini, kalau kau anggap aku sahabatmu, ceritakan padaku. Jelaskan semua kebingunganku” aku menghela nafas, “Mungkin, kau jatuh cinta pada seseorang, dan orang itu begitu banyak mengambil perhatianmu dan mengubah pemikiranmu, katakan siapa?”
            Sachiko menghela napas dan tersenyum “Sebenarnya, aku juga ingin bercerita padamu. Ya baiklah, yang merubahku adalah cinta, kau benar, ada cinta yang mengubahku menjadi begini”
            “Cinta pada siapa?”
            “Islam” katanya, senyumannya masih mengembang, “watashi wa muslim desu” pengucapan kata “Islam” dan “Muslim” nya bagus, seolah dia sudah melatih mengucapkan huruf “L” yang umumnya orang jepang kesulitan mengucapkannya.
            “I.. isuramu[8]?!”aku terkejut,”maksudmu agama Islam? agama orang Arab itu?Kamu teroris?”
            “Teroris?"Ia menggeleng sambil mengerutkan keningnya, "Islam jauh sekali dari kata teroris. Aku tertarik dengan Islam karena aku sudah tahu itu bukan agama orang Arab. Itu agama universal dan....
            “Ya.. ya.. terserah apa katamu!” kataku memotong, ”A.. aku sama sekali tak mengerti apa yang berada dalam otakmu Sachiko!”
            “Yang kini berputar dalam otakku adalah kebenaran, aku telah jatuh cinta pada agama ini, Islam. perubahanku adalah karena cintaku pada tuhanku, Allah”
            Kepalaku mulai pening, rasa kaget dan heran benar-benar memenuhi hatiku, entah apa yang harus aku lakukan “Tapi, jika Islam telah membuatmu berubah dan menjauh dariku, aku.. aku.. tidak suka Islam”
            “tapi, Islam justru membuat aku semakin menyayangimu”
            Aku hanya diam, entah harus berkata apa, tapi bening ini mulai menggelayuti mataku, aku berlalu dan pergi, meninggalkan Sachiko sendiri, biarlah ia berpikir, dan aku ingin membiarkan diriku berpikir juga. Meski sebenarnya aku tidak terlalu peduli pada agama dan kepercayaan apapun. Aku hanya ingin menikmati perayaan yang menyenangkan saja. Sebentar lagi Natal. Lebih baik aku memusingkan diri mencari pasangan agar tidak sendirian saat Natal. 
*****
            Persahabatanku dengan Sachiko sudah berlangsung lama, sehingga hati ini sudah kuat terpaut, aku tak bisa mengelak bahwa aku merindukan Sachiko, aku tak bisa terus mendiamkannya. Aku tak tega melihat wajahnya setiap kali aku mengacuhkannya. Keceriaannya yang sudah memenuhi hari-hariku. Akhirnya kuputuskan untuk bertemu dengannya, setelah sekian lama aku menjauhinya.
            Matanya berbinar, seolah takjub ketika bertemu denganku, aku tahu Ia juga merindukanku. Ia berbicara panjang lebar masih dengan senyumnya, masih dengan ceria miliknya.
Sachiko bercerita panjang lebar, bagaimana kunjungannya ke Kobe, membuka jalannya menuju Islam. Sachiko adalah jenis orang yang suka dengan hal baru dan ingin selalu mencari tahu. Sehingga, pada saat di Kobe ia melihat Masjid kobe, rasa penasarannya muncul, ia pun masuk dan mulai banyak bertanya pada orang-orang di Islamic centre disana.
“Disana aku bertemu dengan Sakura-san[9], ia sangat ramah, ia menceritakanku tentang Islam, tentang Nabi Muhammad, tentang kitab suci agama Islam yaitu Al-Quran, ia menceritakan padaku tentang Islam yang sangat lengkap, dan tahukah kamu? Sakura-san memakai semacam penutup kepala, awalnya aku juga merasa aneh, tapi setelah ku tahu, aku juga ingin memakainya. Pasti, suatu saat nanti”
“Ooo...” aku hanya bisa membulatkan mulutku, tanda aku mengerti dan mendengarkannya. Meski aku masih belum tertarik dengan Islam, yang kata Sachiko, Islam itu agama yang lengkap, karena tidak hanya berisi ibadah ritual saja, tapi dari makan hingga urusan negara, semua diatur. Aku berfikir, Islam terlalu banyak aturan, tapi kata Sachiko, Islam memudahkan. Entahlah, meski aku masih belum mengerti tentang Islam, aku kenal Sachiko, Ia adalah anak yang pintar. Tidak mungkin Ia mudah percaya hal-hal bodoh jika itu tidak benar. 
****
Hari ini, aku menginap di rumah Sachiko. Keluarganya menyambutku dengan sangat hangat, meski ayahnya yang kaku itu tidak menyambutku, hanya melirikku sedikit dan kemudian meneruskan lagi membaca koran. Aku tidak ambil pusing.
Setelah makan malam bersama, aku dan Sachiko masuk kedalam kamar. Setelah sebelumnya Sachiko masuk dulu ke toilet dan keluar dengan wajah yang basah, sebenarnya tidak hanya wajah, tapi dari mulai rambut, sampai tangan dan kaki. Kata Sachiko itu caranya bersuci sebelum berdoa, namanya wudhu. Bahasa yang aneh pikirku.
“Aku mau berdoa dulu ya, dalam islam ini disebut sholat” kata Sachiko sambil mengenakan pakaian aneh, seperti orang arab. “Allahu Akbar
Aku memperhatikan gerakan-gerakan sholat itu, aneh dan unik menurutku, gerakan-gerakan ini gerakan yang tidak biasa dalam ritual berdoa yang aku tahu, dan kini ia sudah sampai dalam posisi duduk, hampir sama seperti duduk dalam acara minum teh, entah apa namanya posisi ini.
“Sreet..” pintu geser kamar Sachiko terbuka, itu..itu ayah Sachiko, matanya membelalak, mukanya tiba-tiba memerah, amarahnya seolah sudah sampai ke ubun-ubun kepalanya. “Apa yang kau lakukan Sachiko?!”ayahnya menarik Sachiko yang sedang sholat dengan kasar, menarik pakaian yang ia pakai sebagai penutup kepalanya, Sachiko meringis, dan aku spontan berdiri, kaget. Entah kenapa badanku tiba-tiba seolah kaku, tak bisa menahan kelakuan kasar ayah Sachiko, mulutku seolah terkunci.
“Aku.. aku berdoa ayah, aku sholat” kristal dalam mata Sachiko mulai luruh 
“Berdoa macam apa itu?! seorang Shinto tak pernah berdoa dengan cara aneh seperti itu, itu cara berdoa orang arab! Itu cara Islam!”
“Ya ayah, aku memang sudah Islam” Sachiko berkata mantap, lengan Sachiko masih dipegang keras oleh ayahnya. Ia ternyata menyembunyikan keislamannya selama ini. Ayah Sachiko yang aku kenal kaku dan keras tak akan membiarkan semua ini. Sudahlah berhenti Sachiko. Aku hanya meringis dalam hati.
“Ayah mendidikmu untuk menjadi penganut kepercayaan kita dengan baik, Sudah sedikit yang memegang kepercayaan turun temurun ini karena tergerus agama-agama lain. Kepercayaan kita sudah banyak ditinggalkan dan dicampur-campur. Sudahlah, kau jangan ikut-ikutan!” 
“Ta.. tapi Ayah.. dengarkan dulu” kata Sachiko masih terisak
Mata ayah Sachiko seolah akan melempar ke luar. Sebuah tamparan mendarat di pipi Sachiko, entah sekuat apa tamparan ayah Sachiko, sehingga ada noda merah yang mulai meluncur disudut bibir Sachiko.
Aku masih bergeming, aku tak bisa berbuat apa apa, aku tidak bisa menyelamatkan sahabatku sendiri, aku hanya bisa menutup kedua mulutku dengan tanganku, dan aku menangis, aku hanya bisa menangis, aku bahkan tak bisa memaksa diriku untuk melindungi sahabatku, ibu Sachiko pun menangis di luar kamar, dan tak bisa berbuat apa-apa, sama sepertiku. 
“Aku akan terus menamparmu sampai kau berjanji akan keluar dari agama teroris itu sekarang juga! Cepat!” Ayahnya menyentak lagi. "Ayah menyayangimu, Sachiko. Ini semua untuk kebaikanmu"
“Sachiko, ikuti apa kata ayahmu. Jangan kau buat hati ibu sakit melihatmu seperti ini.” Ibu Sachiko memohon.
“Maaf ayah.”
Kini wajah Sachiko hujan telapak tangan ayahnya. Wajahku hujan. Mataku Hujan. Sachiko semakin melemah dan ia hanya berucap “Allahu akbar” pelan-pelan. 
Entah ada kekuatan apa dibalik kata-kata itu, sehingga Sachiko terus menerus mengulangnya. Ayahnya tiba-tiba berhenti menampar Sachiko, Dadanya masih kembang kempis seolah ingin memuntahkan kemarahan yang entah sebesar apa. Ia kemudian menerkam tanganku “Kamu! Kamu juga tak ada bedanya, Sebagai sahabatnya, kau harusnya membantuku untuk menyadarkannya.”
Ia kemudian menyeretku dan Sachiko keluar rumah, “Aku tak ingin melihatmu lagi, kembalilah ketika kau sudah kembali pada adat dan agama turun-temurun. Aku tak mau anakku menjadi teroris!”
Ibu Sachiko hanya bisa menangis di dalam rumah, suaranya masih terdengar. Dan aku segera mendekati Sachiko yang tergeletak lemah, wajahnya biru lebam. Ayah macam apa yang tega berbuat seperti ini. Tak pernah kusangka semua ini akan terjadi.
Aku masih menangis, Sachiko pun masih mengeluarkan airmatanya, tapi, ada keanehan dalam raut wajahnya. Wajahnya tidak kesal atau berwajah dendam, Ia tersenyum. 
“Do.. doushite[10]? kenapa kamu tersenyum? kamu tidak sedih dan marah?” airmataku masih terus mengalir. Aku bingung dengan sikapnya. Apa yang telah merasukinya?
“Aku sedih dan kesal pastinya. Tapi, aku juga senang, karena aku masih punya kamu disisiku dan Allah dihatiku” Sachiko berkata tenang,
Aku tersentak, ada rasa haru menyeruak dalam dadaku, sebesar ini kah kecintaanmu pada tuhan dan agamamu yang baru? Indahkah rasa itu? Kalau seindah ini kau mempertahankannya, kenapa agama ini disebut teroris?
"Kamu tidak akan pulang lagi? Kamu mau meninggalkan keluargamu karena ini?"
Ia menggeleng, "Tentu tidak. Orangtuaku mencintaiku. Aku akan selalu kembali dan berbuat baik pada mereka. Kata Sakura-san, dalam Islam surga ada di telapak kaki orang tua. Bagaimana bisa aku meninggalkan surga?"
Sachiko masih tersenyum dan aku masih kebingungan. Entah harus menangis atau tersenyum bersamanya. 
Sara Fiza, Bandung, 31 oktober 2011



[1] Bahagia/senang
[2] -chan, biasanya digunakan pada akhir nama perempuan, atau anak-anak, sebagai panggilan akrab.
[3] Selamat siang
[4] Kobe, salah satu kota di jepang yang terletak di pulau hoshu, dan termasuk dalam wilayah kansai
[5] Maaf, bentuk lengkapnya adalah gomen nasai
[6] Upacara ini sebagia tanda bahwa musim dingin yang panjang telah berakhir. Pada malam hari di waktu Setsubun,orang jepang biasanya mengadakan upacara mengusir setan dengan cara menabur-naburkan kacang. Adapun maksudnya adalah mengusir roh jahat dan mengundang dewa keberuntungan untuk masuk ke dalam rumah.
[7] Upacara ini di tujukan untuk arwahRoh para leluhur atau nenek moyang, Pada hari terakhir, mereka juga mengadakan upacara mengantar roh nenek moyang. Mereka menyalakan lampu atau obor dengan tujuan menerangi jalan pulang Roh.
[8] Pengucapan kata ‘islam’ dalam bahasa jepang
[9] -san, digunakan pada akhir panggilan nama, biasanya ditujukan pada orang yang lebih tua, orang yang dihormati, ataupun orang yang belum akrab
[10] Doushite:kenapa/mengapa
Yap, this is my short story that i did last year too. and was submitted to a short story competition that is being held by FLP-J. and this short story won the 3rd place.. ^^

hope you enjoy ^^
3 comments on "幸せ/ Shiawase/Happiness"
  1. AAAA~ sukaaaa, sara, cara kamu mengindahkan Isuramu keren sekaliii :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhe ^^)a
      arigatou na nugra.. :D
      you always encourage me with your words.. :D

      Delete
  2. kamulah yang keeping encourage me to proud being a Muslim :')

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza