Kata Sara Fiza

Wandering & Wondering

Friday, 6 July 2018

Ngobrol Film: Tabula Rasa (2014)

Sumber gambar: https://www.behance.net


Tabula Rasa (2014) merupakan film Indonesia yang menghadirkan masakan-masakan khas rumah makan Padang sebagai benang merah cerita. Film ini disebut-sebut sebagai food film pertama di Indonesia. Meski berlatar di sebuah rumah makan padang, tokoh utamanya adalah Hans, pemuda dari Papua. Menarik, bukan? Indonesia Barat dan Timur bertemu di Ibu kota, di sebuah rumah makan Padang.

Obrolan film kali ini sepertinya akan sangat subjektif (Padahal sepertinya postingan tentang ngobrol film akan selalu subjektif, haha). Karena, sumpah saya sangat suka film ini!

Baiklah, kita mulai dari sinopsis cerita dulu saja. Film ini menceritakan tentang seorang lelaki dari Serui, Papua, yang bernama Hans. Hans yang tinggal di Panti Asuhan di Papua ini diundang untuk bergabung dengan klub Sepak Bola di Jakarta. Sayangnya, ketika sudah meninggalkan Papua, ia harus menelan pil pahit. Kakinya cedera dan ia didepak dari klubnya, sehingga ia hidup menggelandang di Ibu kota. Nasibnya berubah arah ketika ia bertemu dengan Mak, seorang pemilik rumah makan padang. Mak berbaik hati mengajak Hans ke Rumah makan padangnya. Kehadiran Hans dalam rumah makan padang yang sepi pelanggan itu menimbulkan konflik-konflik dengan Natsir dan Parmanto (Saudara Mak yang sama-sama bekerja di Rumah Makan Padang). Cerita berlanjut dengan Hans yang nantinya belajar cara memasak masakan padang dari Mak.

Film bergenre drama keluarga ini seriusan bagus! Bagus banget! (Lebay haha). Saya merasa menyesal baru menontonnya tahun ini (Andai saja film ini bisa tayang ulang di bioskop lagi, saya mau nonton! wajib!). Pertama kali saya tahu tentang film ini adalah ketika saya mengikuti kelas filmmaker di Salman Academy pada tahun 2015, saat itu kami hanya menonton sekilas behind the scene dari Tabula Rasa untuk mempelajari penataan artistik dari film. Saat itu kami dibuat takjub dengan bagaimana kru film merancang set film yang sangat realistis dari sebuah rumah makan padang dan dapurnya. Tidak hanya itu, aktor-aktor dalam film ini juga belajar bagaimana berbahasa minang dengan baik, sehingga bahasa minang yang menjadi bahasa utama dalam film bukan bahasa Indonesia yang 'diminang-minangkan'. Saya kadang suka kesal kalau lihat bagaimana film-film, FTV, dan sinetron di Indonesia menampilkan suatu bahasa dan budaya setengah-setengah, kadang aktor yang berbahasa sunda hanya berupa bahasa Indonesia yang disunda-sundakan, yang sebenarnya kalau orang sunda asli tidak begitu-begitu amat. Atau misalnya kalau menghadirkan orang jawa, cuman asal 'medok' saja. Aish... (Oke, ini cuman curcol sekilas saja, haha). Dalam film ini, kru film yang mendapatkan direksi dari sutradara Adriyanto Dewo ini, menghadirkan film yang terasa dekat dengan penonton Indonesia pada umumnya yang terbiasa melihat rumah makan padang di mana-mana. Ketika itu saja, saya sudah sangat penasaran dengan filmnya, dan baru kesampean tahun 2018 ini. Kini, setelah saya menonton film ini, saya melihat rumah makan padang dengan rasa yang berbeda (Hazeeek....).

Film ini bukan sekedar film masak memasak, lebih dari itu film ini menyampaikan begitu banyak pesan kebaikan. Premis film tentang seorang pesepak bola yang menjadi gelandangan dan diselamatkan oleh sebuah keluarga yang memiliki rumah makan padang tentunya unik dan menarik. Bagaimana Hans melanjutkan hidup dengan impiannya yang kandas di tengah jalan? Bagaimana Mak bisa bertahan untuk 'menyelamatkan' Hans sedangkan ia dan keluarganya saja perlu mati-matian menghidupkan rumah makan padang yang sepi pengunjung? Pertanyaan-pertanyaan itu yang berputar di kepala saya dan membuat saya penasaran dengan ending film. Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat saya menikmati setiap scene-scene film yang berisi drama konflik manusia lengkap dengan shoot-shoot cara membuat masakan padang yang menggiurkan.

Film yang menghadirkan budaya Indonesia barat dan timur ini juga menampilkan bagaimana tokoh-tokoh yang berbeda budaya dan agama bisa berdampingan. Film ini mengajarkan bagaimana niat dan perbuatan baik kita sebagai manusia akan dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik, bagaimana kita bisa bertahan dengan kehidupan yang bisa meninggikan kita dan menjatuhkan di detik selanjutnya, bagaimana makna sebuah keluarga, bagaimana perbuatan baik itu adalah hal sulit yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang kuat, karena perbuatan baik selalu akan menemukan halangan yang memaksa kita untuk berhenti memikirkan orang lain, dan pesan-pesan lainnya. Oh iya, di sela-sela skenario yang apik, diselipkan juga fakta-fakta kuliner di Indonesia loh. Pokoknya sangat menarik sekali.

Dari berbagai stereotip negatif tentang Indonesia, film ini bagi saya menghidupkan lagi makna Indonesia sebagai sebuah negara dengan bangsa yang ramah dan baik hati, bangsa yang berbeda-beda namun saling toleransi, dan tentunya bangsa dengan kekayaan kuliner dengan cita rasa tinggi. Bagi saya, Tabula Rasa adalah Indonesia.


***

Catatan:
Berikut trailer dari film Tabula Rasa, silakan tonton.
Ah ya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada seluruh kru film Tabula Rasa telah menghadirkan film yang baik dan apik dalam layar kaca Indonesia. Maaf saya tidak menonton langsung (Telat tahunya, hiks).Cukup sedih juga jadinya, karena film-film baik seperti ini kurang terdengar gaungnya dibandingkan film-film yang 'asal laku' lainnya.
Selanjutnya, saya akan lebih memperhatikan film-film Indonesia dan mendukung film-film Indonesia yang berkualitas baik. Film-film yang 'bagus' harus juga terkenal dan mengemuka, agar masyarakat tahu bahwa film-film Indonesia juga ada yang memiliki cerita yang menarik, eksekusinya baik dan tidak kalah dari film-film luar negeri lainnya. Hidup perfilman Indonesia!


Tuesday, 26 December 2017

Alergi Kebaikan Kah Kita?



Perbincangan yang lalu-lalang dalam perjalanan kita sehari-sehari penuh dengan berbagai masalah-masalah yang terasa menyesakkan, jangan ditanya lagi apa yang ada di media sosial. Berita-berita bertebaran yang meresahkan dan membuat dada menjadi tak enak. Sayangnya hal itu terasa biasa dan telah menjadi makanan sehari-hari, tak bisa rasanya jika tidak menyerang pendapat yang berbeda dengan kita. Dahi kita telah terbiasa berkerut dan mulut kita terbiasa mengerucut. Meme dijadikan alat untuk menyindir dan kita tersenyum ketika melihat sindiran berbalut gambar. Komentar berisi saling serang dan kita sudah biasa. Benarkah kita sudah biasa dengan kekalutan yang tersebar? Apakah hal-hal baik sudah jadi hal asing?

***

Kita beralih sebentar pada curhatan saya. Saya baru saja menonton film Ayat-Ayat Cinta 2, sebenarnya saya belum membaca novelnya yang kedua, terakhir saya baca Ayat-Ayat Cinta yang pertama adalah ketika saya SMP dan saya suka. Kemudian, AAC tiba-tiba meledak dan begitu banyak novel yang mengikuti dengan kata 'cinta' dan sampul novel yang serupa. Bahkan, isi tokohnya terkesan selalu sama, seorang lelaki serba sempurna yang diincar oleh banyak wanita. Akhirnya saya jadi muak sendiri. Tapi, saya tetap saja menonton Ayat-Ayat Cinta 2 karena saya penasaran juga apa yang akan diangkat oleh kisah kali ini. 

Ketika saya mengikuti jalan filmnya, saya sudah siap-siap untuk 'menghakimi' tokoh Fahri, mencari kesempurnaan apa lagi yang ditampilkan dan seberapa banyaknya wanita yang mengejar sosoknya. Dan benar saja hal itu terjadi (Spoiler Alert telat). Tapi, ketika saya sampai pada pertengahan film, saya melihat begitu banyak pesan yang disampaikan tentang toleransi, keberagaman, memilih berbuat baik pada berbagai situasi, tentang ikhlas, tentang kerja keras terlepas dari sosok Fahri yang 'terlalu' sempurna menurut saya. Saya akhirnya bertanya-tanya sendiri, apakah semua kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam film tersebut begitu buram di mata saya hanya karena saya tidak 'sreg' dengan tokohnya? Apakah pikiran saya begitu tertutup sehingga tidak menerima pesan-pesan kebaikan universal hanya karena menurut saya kisahnya dapat ditebak begitu saja? 

Terhentak, saya jadi malu sendiri. Sebegitukah alerginya saya pada kebaikan hanya karena pikiran-pikiran menghakimi?

Saya kemudian melihat ke penonton lain yang sedang menonton film tersebut, banyak dari mereka yang berkaca-kaca, mengusap matanya berkali-kali, tersenyum, atau menutupi kesedihan dengan berlindung dari telapak tangan mereka yang menutupi wajah. Ah, film ini sudah berbuat banyak. Film ini telah menyentuh banyak orang dan siapa tahu ketika keluar dari studio ada yang terinspirasi untuk berbuat kebaikan yang sama. Urusan plot dan tokoh biarkan masuk pada ranah kritik sisi lain tanpa harus menolak kebaikannya. Toh, saya yang hanya bisa menghakimi ini, bisa apa? punya karya pun tidak. Jangankan menginspirasi, urusan dengan diri saja rasanya belum tuntas. 

Saya jadi teringat, dulu saya pernah bilang bahwa saya tidak suka seorang penceramah karena gaya berceramahnya terlalu keras dan tidak lembut. Saya berpikiran bahwa ceramah harus disampaikan dengan penuh kelembutan dan menyentuh. Tapi, hal itu justru membuat saya menutup pesan-pesan kebaikan yang ingin disampaikan, hanya karena penceramahnya tidak sesuai dengan saya. Siapa lu, Sar? 

Sungguh saya malu. 

Alergi kah saya dengan kebaikan?

Atau mungkin orang lain juga? apalagi alasan dari munculnya kata-kata yang terkenal, "Kamu terlalu baik untuk aku" haha, meski sebenarnya itu hanya kata-kata akal-akalan. Tapi, ya kalau seseorang terlalu baik justru pantas dijauhi, terus yang didekati ingin seperti apa? Yang tidak membawa kebaikan? sebegitukah kita alergi dengan kebaikan? 

Orang yang berbuat baik dikatakan palsu dan munafik. Biarlah soal palsu dan asli itu urusan niat yang melakukan, urusan kita bukanlah menghakimi niatnya seolah kita paling tahu, kan? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga setiap melihat kebaikan kita sindir sebagai sesuatu hal yang sok suci? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga kita lebih baik memilih menyakiti dan menyebar rasa sakit?

Dalam perenungan, saya mencoba membuka pikiran saya seluas-luasnya. Pesan-pesan kebaikan bisa jadi bertebaran di sekeliling saya, dari seorang anak kecil, dari teman-teman yang berbeda pendapat dengan saya, dari orang-orang berbagai karakter yang lembut hingga yang tegas, dari media apapun. Dan bisa jadi saya melewatkan semua itu. Ah, akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa pesan-pesan kebaikan bisa jadi hadir dari arah yang tidak disangka-sangka sekalipun dari orang-orang yang tidak kita suka, atau menurut kita belum berkapasitas untuk menyampaikan kebaikan itu karena usia atau faktor lainnya, dan apabila kita tidak membuka pikiran dan hati kita, bagaimana cahaya kebaikan itu bisa masuk ke dalam jiwa kita? 

Saya tidak ingin jadi seseorang yang alergi kebaikan. Saya ingin merengkuh kebaikan-kebaikan yang bertebaran di tengah dunia dan semoga saja saya bisa melihat pesan kebaikan itu dari kebaikan itu sendiri, melepaskan segala atribut orang yang menyampaikannya terlebih dulu dan fokus pada kebaikannya. 

Dalam dunia yang di mana berita buruk bertebaran, perdebatan ditumbuh suburkan, saling sindir jadi pilihan, maukah kita sama-sama bersepakat untuk berhenti sejenak dari segala keriuhan dan sama-sama mengobati diri kita dari berbagai jenis alergi, termasuk alergi kebaikan? Saya percaya manusia pada dasarnya semua baik dan ingin menjadi lebih baik. Maka, mari kita sama-sama mengecap secangkir cahaya-cahaya kebaikan. Semoga saja kita tidak alergi kebaikan lagi lantaran sudah terlalu lama hidup dalam dunia penuh caci maki.



Friday, 1 December 2017

Titik Nol



Pesawat mengudara dan melayang menghiasi langit dini hari di Bandara Soekarno-Hatta yang mendung itu. Pada raga yang masih menempel di kursi pesawat, saya menghela napas-napas kesyukuran. Betapa, saya yang kampungan dan baru pertama kali naik pesawat ini bisa berada di udara. 

Hari itu saya berangkat ke Aceh dan segera menuju pulau Weh. Sebuah pulau paling barat Indonesia. Saya tak menyangka betapa harapan kecil saya dipeluk oleh semesta dan dikabulkan oleh Pemilik Semesta itu sendiri. 

Bagi banyak orang, naik pesawat dan pergi ke pulau ini adalah suatu hal yang biasa. Ah, jangankan pulau ini, belahan dunia lain pun mungkin telah disambangi. Namun, betapa bagi saya yang belum banyak kemana-kemana dan belum punya pengalaman menaiki burung besi ini menjadi sebuah pengalaman yang menjadi ramai dalam kepala saya.

 Dada saya tidak hanya sesak oleh rasa bahagia. Tapi, ada rasa lain yang menyelinap perlahan sepanjang perjalanan. Sebuah rasa yang menjadikan saya kerdil sekerdil-kerdilnya. Bagaimana tidak? Setelah saya melihat rumah dan gedung di bawah saya yang semakin lama semakin mengecil, saya tidak hanya membayangkan manusia lain dengan sosok hebatnya, hartanya, gedung-gedung yang dibangunnya juga menjadi sesuatu yang kecil. Tapi, saya sendiri yang mengangkasa ini adalah sosok yang juga kecil dalam pandangan mereka yang menjejak di bumi. Betapa pesawat yang saya dulu idam-idamkan untuk dinaiki hanyalah suatu benda lewat di udara, dan manusia yang berada di dalamnya seperti saya bahkan lebih kecil dari titik itu sendiri. Keberuntungan saya mendapat hadiah perjalanan ini, ilmu yang saya punya, uang, dan berbagai hal yang melekat pada diri saya sebagai--yang katanya--milik saya adalah suatu hal yang tidak tampak dan bukanlah apapun sama sekali. Bahkan bukan setitik debu sekalipun.

Perjalanan ini tidak hanya mengantarkan saya untuk menyelami laut di Iboih, berfoto di berbagai tempat indah, memakan berbagai hidangan khas Aceh, dan tidak hanya mengantarkan saya pada monumen kilometer nol Indonesia. Tapi, perjalanan ini juga mengantarkan saya pada titik nol. Sebuah penyadaran bahwa Jika Sang Pemilik Semesta ini mau, Dia bisa memindahkan diri saya ke manapun dan merasakan keindahan apapun. Dia bisa membolak-balikan hati saya sesuai kehendak. Lantas, saya ini patut membanggakan apa dari nolnya diri saya? manusia yang hakikatnya nol. Berasal dari titik nol, selalu berada dalam kondisi titik nol, dan berakhir kelak pada titik nol pula. 
Dan jika Sang Pencipta Semesta ini mau, maka ketidakmungkinan dapat diubah menjadi kemungkinan, begitu pun dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat Dia ubah menjadi ketidakmungkinan. Maka, kegelisahan dan kekhawatiran saya selama ini hanyalah buah dari saya yang kurang yakin dengan itu semua dan saya tidak ingin tidak meyakini ini semua. Saya yang nol ini ingin sepenuhnya yakin bahwa semua hal akan baik-baik saja selama kita punya cinta dari Sang Pencipta. 


Sara Fiza, 13 November 2017.
Dalam perjalanan udara melewati pulau Sumatera.

Wednesday, 13 September 2017

Proses Memulihkan Diri


Hidup adalah rangkaian ujian. Kita sangat mengenal kata-kata itu, bukan? dan tentu kita sudah sangat mengenal kata "Masalah" dan "Ujian". Oh, Tidak hanya mengenal, dua kata itulah yang menemani kita bercengkerama. Merekalah teman hidup kita yang menguntit dan memeluk kita kemudian membanting kita tanpa ampun.

Pernah kita pikir bahwa kata-kata itu telah pergi dengan tenaga habis terkuras. Lemah. Selemah-lemahnya. Tapi, kemudian mereka datang lagi, jauh lebih kuat dari terakhir kita melihatnya. Mereka tidak mengucap salam, terlebih menanyakan kabar. Mereka langsung menghantam tubuh kita hingga kita terpelanting dan patah-patah. Seketika. Kita bahkan belum menyiapkan pelindung terbaik kita.
Hancurlah kita. Sehancur-hancurnya.

Memang begitulah hidup. Kalau mau mencari bahagia selama-lamanya, nampaknya kita salah tempat. Bukan dalam dunia ini dan bukan dalam kehidupan satu ini. Meski hal itu sudah kita telan bagai pil pahit, tapi kita tak pernah benar-benar siap dengan masalah yang datang tanpa permisi dan membawa teman-temannya bernama kehilangan, kesepian, keterputusasaan, ketakutan, kekecewaan, keresahan, kemalangan, dan kematian. Kita tak pernah benar-benar siap dikeroyok oleh rasa-rasa yang memuakkan dan membuat bernapas jadi satu satu.

Tubuh kita--Ya, tubuhku, tubuhmu, tubuh mereka, bukan tubuhmu saja, atau tubuhku saja--sudah patah-patah, memar-memar, atau hancur sehancur-hancurnya. Dengan seluruh rasa yang menyesakkan dada, membuat kita lupa bernapas, mengaduk-aduk isi perut kita, membuat mata air air mata kita meluap dan tumpah hingga bukan lagi berupa mata air, namun air terjun yang tak berkesudahan. Atau bagi sebagian orang, air mata itu kering sekering-keringnya, menyerap kebagian lain dan menghujani hati hingga lapuk. Tidak meluap. Tidak terlihat oleh banyak orang, tapi diri mereka menjadi semakin rapuh. Lantas apa yang kita lakukan? Kita bertahan.

Tidak mudah. Tidak pernah mudah sejak dulu. Tapi, kita masih bisa berlari dengan tubuh yang telah kita rekatkan seadanya. Kita dengan berbagai cara yang berbeda-beda belajar untuk pulih. Kita mengambil perban seadanya. Tapi, kita benar-benar memulihkan diri. Sebagian berkata karena orang tercinta, sebagian hanya butuh waktu. Tapi, sebenarnya kitalah yang berani memulihkan diri kita sendiri. Atas bimbingan Tuhan tentunya. Ia tidak akan mengubah kita langsung pulih, Ia menyerahkan pada kita, apakah kita ingin berubah atau tidak, kita ingin pulih atau tidak. Kemudian saat kita memilih untuk memulihkan diri, Ia mendekap kita erat-erat. Kemudian, kita belajar untuk kembali berjalan. Kali ini berjalan dengan arti buat sesiapa yang mengerti makna dari hadirnya setiap masalah.

Hidup adalah rentetan masalah. Setelah yang satu, muncul yang lain. Tapi, tidak ada cara lain selain untuk memulihkan diri kita sendiri. Maka, hidup adalah sehat-sakit-pulih-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih-pulang.

Jika kita sadar bahwa hidup adalah sarangnya kesakitan dan hanya kesakitan. Maka kita akan jatuh dalam jurang keputusasaan dan bertanya-tanya untuk apa hidup, sedang kita lelah dan tak mampu lagi menahan segala jerih dan perih.

Jadi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan. Bahwa selain hidup ini rangkaian sakit, ia juga adalah rangkaian proses kita memulihkan diri. Dan tentu harus kita yakini bahwa meminum obat sakit kepala saat kepala kita berdenyut, tak seperti abrakadabra. Butuh waktu obat itu masuk ke dalam pencernaan, butuh waktu kita istirahat memejamkan mata, kemudian kita pulih. Dan kita harus yakini ketika kita terjatuh, obat merah, kassa, perban, dan plester tak membuat sakit kita hilang seketika tanpa luka. Butuh waktu sel baru tumbuh, dan bekas luka jatuh kita sulit hilang. Tapi kita akan pulih dan bisa berjalan kembali. Maka kemudian, kita sadar bahwa luka hidup kita pun butuh proses. Setiap orang memiliki proses yang berbeda, dan itu tidak mengapa.

Hidup adalah proses memulihkan diri. Hidup adalah proses kita menutup luka-luka. Bekas akan tetap ada, tapi bekas itulah yang membuat kita mengingat bahwa kita adalah manusia-manusia yang berhasil bertahan sejauh ini.

Sudah puluhan, ratusan, ribuan luka. Kita sudah lelah. Tapi, kita bisa memulihkan diri. Suatu saat jika luka itu kembali, tarik napas dalam-dalam dan katakan pada tubuh kita bahwa luka ini memang sakit, memang lelah, memang perih, tapi tidak mengapa. Kita akan belajar untuk pulih. Tidak usah menghina diri yang terlalu lambat pulih karena melihat orang lain begitu cepat kembali pulih dan berlari. Diri kita akan pulih dengan cara kita sendiri, dengan terpincang-pincang, dengan menyeret diri untuk dibawa berlari.

"Tapi sulit" otak kita yang sudah lelah berbisik.

Karena sulitnya, kita akan belajar untuk pulih. Kita tidak tahu caranya pulih, tapi kita akan belajar. Kita ditemani oleh waktu yang akan meneteskan obat merah sedikit-sedikit pada luka-luka di sekujur tubuh. Waktu akan mempertemukan kita dengan bahagia, dengan manusia-manusia lainnya, dan tentunya suatu saat ia akan membawa kita pada masalah yang menjegal di persimpangan. Tapi, tak mengapa. Kita akan siap untuk dibanting dan dihancurkan. Kemudian, kita sudah terbiasa untuk memulihkan diri. Kita akan belajar pulih lagi terus menerus, hingga kita benar-benar berpulang.

Mari kita bersepakat untuk meyakinkan diri bahwa kita lahir bukan hanya terlatih untuk patah hati, tapi juga terlatih untuk memulihkan diri.





Friday, 8 September 2017

Palsu

Palsu

Pada dunia yang menilai kebaikan sebagai palsu, yang menyindir kala senyuman dibalik luka adalah palsu, pada tingkah sopan yang dikatakan sebagai hal palsu, pada yang ingin menjadi baik sebagai manusia-manusia palsu, pada dunia yang menilai orang-orang yang mencoba peduli sebagai palsu. Tak heran, ketika orang lebih memilih hati yang beku. Karena menjadi baik dan lebih baik hanya akan dilabeli palsu dan munafik. Banyak yang akhirnya menyingkir dan memilih jalan untuk memuntahkan kata-kata menyakitkan sebagai kejujuran yang mereka sebut sebagai obat kepalsuan. Menghukum setiap orang yang terluka oleh ‘kejujuran’ tersebut dengan sebutan manusia ‘lemah’ dan tak patut ditangisi kematiannya.
Kebaikan sudah dijajakan dan diobral murah, tapi mereka selalu memandang jijik pada kebaikan-kebaikan di emperan. Di katakanlah, lebih baik tidak bermoral daripada harus memilih kebaikan yang menurut mereka menjijikkan.
Jika dunia sudah jadi sekejam ini, lantas dimana orang-orang yang dikatakan palsu itu berkumpul? apakah mereka berada dalam ruangan penuh dengan orang patah hati namun tetap ingin tersenyum untuk membuat dunia sekitarnya lebih baik? apakah mereka berkumpul dengan orang-orang yang ingin mencintai namun selalu berakhir makan hati? apakah manusia-manusia palsu yang katanya bertopeng itu tidak boleh menampakkan keindahan sisi hati mereka yang pulih dan mengobati sisi hati mereka yang borok dengan simpuh panjang di depan wajah Tuhan tanpa harus dikoar-koar?
Apakah setiap orang yang berusaha memberikan hati dengan hati-hati harus bebas dan bersih dari berbagai jenis patah hati, kekurangan, kesalahan, kebodohan, kesialan, ketidakmampuan, kekesalan, kesedihan, dan kemarahan agar tidak dikatakan palsu?
Padahal tiap-tiap manusia memiliki banyak sisi. dan setiap manusia pasti mengecap setiap emosi yang entah baik entah buruk, dan tiap-tiap jiwa berhak memilih apakah mereka akan belajar dan akan membagikan hal-hal baik atau hal-hal yang menyakiti pada orang di luar diri mereka.
Siapa yang berhak menilai perilaku tiap-tiap jiwa adalah palsu? bukankah tiada yang tahu setiap desiran hati manusia melainkan pemiliknya? Lantas mengapa ada yang siap menyaingi Sang Pemilik Hati untuk meramal dan mengoarkan kata-kata palsu dengan begitu garangnya pada orang yang tengah mengulurkan tangannya meski penuh luka?
Ah, dunia yang gegap gempita, akankah kebaikan masih menjadi pilihan yang memesona banyak orang?
Sunday, 6 August 2017

Memanusiakan Manusia (Bagian Dua)


Sudah mulai bisa melihat sisi-sisi manusia banyak orang? Sip, syukurlah.

Yap, selain orang-orang lain, nampaknya kadang kita luput untuk memanusiakan orang-orang terdekat kita seperti keluarga, sahabat, atau mungkin pasangan kita.
Misal, kita merasa ibu kita sudah biasa dengan sikap kita yang menyebalkan jadi tidak apa-apa kalau sekali-kali (atau sering) meninggikan suara, toh sudah biasa. Kita lupa bahwa ibu kita punya hati, yang tergores bahkan terhujam berkali-kali atas setiap kata menyakitkan yang kita keluarkan. 

Kita punya orang yang kita kagumi, kita menyukai banyak hal darinya. Kalau dilihat dari jauh dan belum kenal dekat, rasanya orang itu hebat luar biasa. Kita lupa bahwa orang itu juga ya 'orang' pada umumnya. Kalau sudah kenal dekat, pasti ada kekurangannya. Atau misalnya ada orang yang hidupnya 'terlihat' lancar-lancar aja, medsosnya isinya traveling sana-sini, makanannya enak-enak, bakatnya banyak, follower-nya banyak, hidupnya terlihat enak. Kita lupa, bahwa Ia juga seperti kita yang harus kerja keras untuk mencapai banyak hal, yang harus menabung sedikit demi sedikit, yang juga punya masalah besar dalam hidupnya yang tidak kita tahu. 

Kita merasa bahagia dengan sahabat kita yang mengerti kita apa adanya dan berbagai deretan kelebihan lainnya, tapi setelah kita dikecewakan oleh tingkahnya, kita sakit hati dan lari. Kita lupa bahwa sahabat kita pun bertahan dengan kita sejauh ini mungkin dengan perban disana sini di hatinya atas candaan yang tidak disengaja namun menyakitkan, atau hal-hal lainnya. Kita lupa bahwa sahabat kita juga punya kekurangan yang harus kita pahami, terima, dan kemudian sama-sama saling mengingatkan dan memperbaiki.

Kita terbuai dengan memiliki pasangan yang sempurna, misalnya ingin pasangan seperti ‘ikemen’ jepang atau ‘oppa’ korea yang super romantis, ganteng pula, padahal kita biasa aja. Setidaknya kalaupun tidak seganteng mereka, harus peka oleh berbagai kode kita. Atau ingin pasangan seperti Oki setiana Dewi atau Raisa, yang cantik, anggun, lucu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata, pasangan kita jauh dari ekspektasi-ekspektasi kita, kecewa jadinya dan membanding-bandingkan. Inginnya mereka mengerti apa yang kita mau plus menerima kekurangan. Kita lupa mereka punya kekurangan yang mungkin tiap tahun kebersamaan akan semakin bertambah sikap menyebalkannya.

Kita lupa bahwa mereka semua adalah manusia. Kita ingin dimanusiakan tanpa ingin memanusiakan. Ups, mungkin bukan kita. Mungkin saya. Mungkin kamu sudah selesai dengan urusan seperti ini. Maka saya masih harus banyak belajar dari kamu. Masih harus banyak diingatkan. Eh ya, tapi ini bukan berarti kita bisa seenaknya terus-menerus bilang "Aku kan manusia!" sebagai tameng atas kesalahan dan kekeliruan yang disengaja. Untuk diri sendiri, sebagai manusia yang memiliki fitrah baik sejak kita lahir, tidak ada salahnya kita terus memperbaiki diri untuk jadi 'manusia' yang lebih baik, untuk memandang orang sekitar kita, pandanglah dengan kacamata kemanusiaan supaya bisa menerima sekaligus sisi cahaya dan gelapnya. 

Terakhir, saya hanya ingin berterima kasih pada orang-orang yang masih ingin menemani saya hingga saat ini, meski tahu bahwa saya punya segudang kekurangan plus menyebalkan. 



Terimakasih sudah memanusiakan aku. ;)

Memanusiakan Manusia



“Rocker juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati”

Familiar dengan lagu itu? Selamat anda ternyata sudah berumur. Haha. Lagu jadul tersebut mencoba untuk mengajak kita sama-sama sadar, rocker yang kelihatan garang saja, masih punya rasa dan hati loh. Punya emosi sedih, senang, bahkan galau!

Dan ternyata, tidak hanya rocker saja loh yang ingin diperhatikan sebagai manusia. Ada artis yang juga harus mengingatkan penggemarnya, “Seleb juga manusia, loh!” atau profesi-profesi lainnya sekalipun, seperti misalnya ketika ada dokter yang jatuh sakit, 

“Lah, dokter kok sakit?”
Kemudian, kembali muncul pernyataan, “Dokter juga manusia”
Atau
“Guru kok gitu sih!”
“Guru juga manusia tau!”
Atau
“Oooh kamu ternyata suka main juga ya. Aku kira kamu sukanya belajar doang, hehe”
“Yeee, aku juga manusia kali”
Dan mungkin bertambah lagi daftar ‘ingin-diakui-manusia’

Kita bisa jadi berada pada dua posisi itu, merasa heran dengan orang lain yang ‘kok dia bisa gitu sih?” ketika ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadi kita tentang orang lain dan di sisi lain juga berkata lantang “Gini-gini, aku juga manusia, loh”

Lama-lama, aku mulai bertanya-tanya sendiri, kenapa bisa ada istilah itu, ya? Istilah ingin diakui sebagai manusia, sampai harus ada penekanan, “Aku juga manusia (sama kayak kamu)”
Berdasarkan perbincangan dengan orang-orang kecil di kepala saya, Mungkin ini karena kita selalu berekspektasi tinggi pada orang-orang di sekitar kita, tapi di sisi lain kita ingin diri kita dimengerti oleh orang sekitar kita dengan berbagai kekurangan kita atau sisi lain kita yang tidak dipahami orang lain. Kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya banyak sisi, sebagaimana manusia lainnya. Tapi, kadang, kita lupa untuk ‘memanusiakan manusia’ lainnya.

Memanusiakan manusia?

Maksud memanusiakan manusia disini (setidaknya versi yang aku punya) adalah menyadari bahwa manusia itu punya begitu banyak sisi. Tidak hanya dua warna: hitam atau putih. Ya kalau enggak jadi orang baik, ya dia pasti orang jahat. Kita lupa, kalau orang yang ‘baik’ itu punya sisi-sisi lain, punya kekurangan dan kesalahan. Kita lupa, kalau orang yang kelihatannya ‘jahat’ punya sisi baik yang tidak terduga. Ya padahal namanya manusia itu punya sisi lebih dan kurang. Seperti halnya aku, dan seperti halnya kamu. 

Kita mungkin terlalu terbuai dengan dongeng-dongeng hitam vs putih yang selama ini meninabobokan kita. Misalnya, kisah Cinderella. Cinderela yang cantik, baik hati, patuh pada orang tua tersiksa oleh ibu tirinya dan kedua kakak tirinya yang super duper menyebalkan. Terlihat orang baik pasti baik, orang jahat pasti jahat. Padahal itu Cinderella anak bandel juga loh, dilarang sama orang tua pergi ke pesta malam-malam, malah kabur mau ketemu ‘gebetan’ plus meminta pertolongan ‘makhluk gaib’. Hadeeeh. Hahaha

Ibu tirinya sendiri yang super nyebelin itu meski menyebalkan, mencintai kedua anak kandungnya tanpa tapi. Rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Kakak Cinderella bersikap jahat mungkin hasil dari lingkungannya sejak dulu yang membanding-bandingkan mereka dengan gadis cantik lainnya, yang membuat mereka merasa ‘tidak cukup cantik’, pasti ada sisi-sisi kedua kakak tiri Cinderella ini sedih dan galau, namun di depan terlihat ‘setrong’ dan galak. Yah, sama lah kayak kisah bawang merah putih, atau sinetron 90an ‘Bidadari’ atau bahkan sinetron sekarang juga tipenya masih sama ya?

Aku sama sekali tidak bilang kisah Cinderella itu sebenarnya begitu ya, itu hanya imajinasi liar saya yang mencoba mencari bahwa manusia itu memiliki begitu banyak sisi. Bisa jadi satu sisi membuat bahagia, satu sisi membuat kesal. Sayangnya banyak dari kita ingin bertahan dengan sikap bahagia, tapi enggan menerima kekurangan yang membuat kesal. Ya kalau tidak ingin kecewa, berharap sama Pencipta saja. Kalau sama manusia pasti ada kecewa, lah karena mereka ‘manusia’ kan?

Kita juga.

(Lanjut ke Memanusiakan manusia Bagian 2)

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza