Kata Sara Fiza

Wandering & Wondering

Friday, 1 December 2017

Titik Nol



Pesawat mengudara dan melayang menghiasi langit dini hari di Bandara Soekarno-Hatta yang mendung itu. Pada raga yang masih menempel di kursi pesawat, saya menghela napas-napas kesyukuran. Betapa, saya yang kampungan dan baru pertama kali naik pesawat ini bisa berada di udara. 

Hari itu saya berangkat ke Aceh dan segera menuju pulau Weh. Sebuah pulau paling barat Indonesia. Saya tak menyangka betapa harapan kecil saya dipeluk oleh semesta dan dikabulkan oleh Pemilik Semesta itu sendiri. 

Bagi banyak orang, naik pesawat dan pergi ke pulau ini adalah suatu hal yang biasa. Ah, jangankan pulau ini, belahan dunia lain pun mungkin telah disambangi. Namun, betapa bagi saya yang belum banyak kemana-kemana dan belum punya pengalaman menaiki burung besi ini menjadi sebuah pengalaman yang menjadi ramai dalam kepala saya.

 Dada saya tidak hanya sesak oleh rasa bahagia. Tapi, ada rasa lain yang menyelinap perlahan sepanjang perjalanan. Sebuah rasa yang menjadikan saya kerdil sekerdil-kerdilnya. Bagaimana tidak? Setelah saya melihat rumah dan gedung di bawah saya yang semakin lama semakin mengecil, saya tidak hanya membayangkan manusia lain dengan sosok hebatnya, hartanya, gedung-gedung yang dibangunnya juga menjadi sesuatu yang kecil. Tapi, saya sendiri yang mengangkasa ini adalah sosok yang juga kecil dalam pandangan mereka yang menjejak di bumi. Betapa pesawat yang saya dulu idam-idamkan untuk dinaiki hanyalah suatu benda lewat di udara, dan manusia yang berada di dalamnya seperti saya bahkan lebih kecil dari titik itu sendiri. Keberuntungan saya mendapat hadiah perjalanan ini, ilmu yang saya punya, uang, dan berbagai hal yang melekat pada diri saya sebagai--yang katanya--milik saya adalah suatu hal yang tidak tampak dan bukanlah apapun sama sekali. Bahkan bukan setitik debu sekalipun.

Perjalanan ini tidak hanya mengantarkan saya untuk menyelami laut di Iboih, berfoto di berbagai tempat indah, memakan berbagai hidangan khas Aceh, dan tidak hanya mengantarkan saya pada monumen kilometer nol Indonesia. Tapi, perjalanan ini juga mengantarkan saya pada titik nol. Sebuah penyadaran bahwa Jika Sang Pemilik Semesta ini mau, Dia bisa memindahkan diri saya ke manapun dan merasakan keindahan apapun. Dia bisa membolak-balikan hati saya sesuai kehendak. Lantas, saya ini patut membanggakan apa dari nolnya diri saya? manusia yang hakikatnya nol. Berasal dari titik nol, selalu berada dalam kondisi titik nol, dan berakhir kelak pada titik nol pula. 
Dan jika Sang Pencipta Semesta ini mau, maka ketidakmungkinan dapat diubah menjadi kemungkinan, begitu pun dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat Dia ubah menjadi ketidakmungkinan. Maka, kegelisahan dan kekhawatiran saya selama ini hanyalah buah dari saya yang kurang yakin dengan itu semua dan saya tidak ingin tidak meyakini ini semua. Saya yang nol ini ingin sepenuhnya yakin bahwa semua hal akan baik-baik saja selama kita punya cinta dari Sang Pencipta. 


Sara Fiza, 13 November 2017.
Dalam perjalanan udara melewati pulau Sumatera.

Wednesday, 13 September 2017

Proses Memulihkan Diri


Hidup adalah rangkaian ujian. Kita sangat mengenal kata-kata itu, bukan? dan tentu kita sudah sangat mengenal kata "Masalah" dan "Ujian". Oh, Tidak hanya mengenal, dua kata itulah yang menemani kita bercengkerama. Merekalah teman hidup kita yang menguntit dan memeluk kita kemudian membanting kita tanpa ampun.

Pernah kita pikir bahwa kata-kata itu telah pergi dengan tenaga habis terkuras. Lemah. Selemah-lemahnya. Tapi, kemudian mereka datang lagi, jauh lebih kuat dari terakhir kita melihatnya. Mereka tidak mengucap salam, terlebih menanyakan kabar. Mereka langsung menghantam tubuh kita hingga kita terpelanting dan patah-patah. Seketika. Kita bahkan belum menyiapkan pelindung terbaik kita.
Hancurlah kita. Sehancur-hancurnya.

Memang begitulah hidup. Kalau mau mencari bahagia selama-lamanya, nampaknya kita salah tempat. Bukan dalam dunia ini dan bukan dalam kehidupan satu ini. Meski hal itu sudah kita telan bagai pil pahit, tapi kita tak pernah benar-benar siap dengan masalah yang datang tanpa permisi dan membawa teman-temannya bernama kehilangan, kesepian, keterputusasaan, ketakutan, kekecewaan, keresahan, kemalangan, dan kematian. Kita tak pernah benar-benar siap dikeroyok oleh rasa-rasa yang memuakkan dan membuat bernapas jadi satu satu.

Tubuh kita--Ya, tubuhku, tubuhmu, tubuh mereka, bukan tubuhmu saja, atau tubuhku saja--sudah patah-patah, memar-memar, atau hancur sehancur-hancurnya. Dengan seluruh rasa yang menyesakkan dada, membuat kita lupa bernapas, mengaduk-aduk isi perut kita, membuat mata air air mata kita meluap dan tumpah hingga bukan lagi berupa mata air, namun air terjun yang tak berkesudahan. Atau bagi sebagian orang, air mata itu kering sekering-keringnya, menyerap kebagian lain dan menghujani hati hingga lapuk. Tidak meluap. Tidak terlihat oleh banyak orang, tapi diri mereka menjadi semakin rapuh. Lantas apa yang kita lakukan? Kita bertahan.

Tidak mudah. Tidak pernah mudah sejak dulu. Tapi, kita masih bisa berlari dengan tubuh yang telah kita rekatkan seadanya. Kita dengan berbagai cara yang berbeda-beda belajar untuk pulih. Kita mengambil perban seadanya. Tapi, kita benar-benar memulihkan diri. Sebagian berkata karena orang tercinta, sebagian hanya butuh waktu. Tapi, sebenarnya kitalah yang berani memulihkan diri kita sendiri. Atas bimbingan Tuhan tentunya. Ia tidak akan mengubah kita langsung pulih, Ia menyerahkan pada kita, apakah kita ingin berubah atau tidak, kita ingin pulih atau tidak. Kemudian saat kita memilih untuk memulihkan diri, Ia mendekap kita erat-erat. Kemudian, kita belajar untuk kembali berjalan. Kali ini berjalan dengan arti buat sesiapa yang mengerti makna dari hadirnya setiap masalah.

Hidup adalah rentetan masalah. Setelah yang satu, muncul yang lain. Tapi, tidak ada cara lain selain untuk memulihkan diri kita sendiri. Maka, hidup adalah sehat-sakit-pulih-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih-pulang.

Jika kita sadar bahwa hidup adalah sarangnya kesakitan dan hanya kesakitan. Maka kita akan jatuh dalam jurang keputusasaan dan bertanya-tanya untuk apa hidup, sedang kita lelah dan tak mampu lagi menahan segala jerih dan perih.

Jadi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan. Bahwa selain hidup ini rangkaian sakit, ia juga adalah rangkaian proses kita memulihkan diri. Dan tentu harus kita yakini bahwa meminum obat sakit kepala saat kepala kita berdenyut, tak seperti abrakadabra. Butuh waktu obat itu masuk ke dalam pencernaan, butuh waktu kita istirahat memejamkan mata, kemudian kita pulih. Dan kita harus yakini ketika kita terjatuh, obat merah, kassa, perban, dan plester tak membuat sakit kita hilang seketika tanpa luka. Butuh waktu sel baru tumbuh, dan bekas luka jatuh kita sulit hilang. Tapi kita akan pulih dan bisa berjalan kembali. Maka kemudian, kita sadar bahwa luka hidup kita pun butuh proses. Setiap orang memiliki proses yang berbeda, dan itu tidak mengapa.

Hidup adalah proses memulihkan diri. Hidup adalah proses kita menutup luka-luka. Bekas akan tetap ada, tapi bekas itulah yang membuat kita mengingat bahwa kita adalah manusia-manusia yang berhasil bertahan sejauh ini.

Sudah puluhan, ratusan, ribuan luka. Kita sudah lelah. Tapi, kita bisa memulihkan diri. Suatu saat jika luka itu kembali, tarik napas dalam-dalam dan katakan pada tubuh kita bahwa luka ini memang sakit, memang lelah, memang perih, tapi tidak mengapa. Kita akan belajar untuk pulih. Tidak usah menghina diri yang terlalu lambat pulih karena melihat orang lain begitu cepat kembali pulih dan berlari. Diri kita akan pulih dengan cara kita sendiri, dengan terpincang-pincang, dengan menyeret diri untuk dibawa berlari.

"Tapi sulit" otak kita yang sudah lelah berbisik.

Karena sulitnya, kita akan belajar untuk pulih. Kita tidak tahu caranya pulih, tapi kita akan belajar. Kita ditemani oleh waktu yang akan meneteskan obat merah sedikit-sedikit pada luka-luka di sekujur tubuh. Waktu akan mempertemukan kita dengan bahagia, dengan manusia-manusia lainnya, dan tentunya suatu saat ia akan membawa kita pada masalah yang menjegal di persimpangan. Tapi, tak mengapa. Kita akan siap untuk dibanting dan dihancurkan. Kemudian, kita sudah terbiasa untuk memulihkan diri. Kita akan belajar pulih lagi terus menerus, hingga kita benar-benar berpulang.

Mari kita bersepakat untuk meyakinkan diri bahwa kita lahir bukan hanya terlatih untuk patah hati, tapi juga terlatih untuk memulihkan diri.





Friday, 8 September 2017

Palsu

Palsu

Pada dunia yang menilai kebaikan sebagai palsu, yang menyindir kala senyuman dibalik luka adalah palsu, pada tingkah sopan yang dikatakan sebagai hal palsu, pada yang ingin menjadi baik sebagai manusia-manusia palsu, pada dunia yang menilai orang-orang yang mencoba peduli sebagai palsu. Tak heran, ketika orang lebih memilih hati yang beku. Karena menjadi baik dan lebih baik hanya akan dilabeli palsu dan munafik. Banyak yang akhirnya menyingkir dan memilih jalan untuk memuntahkan kata-kata menyakitkan sebagai kejujuran yang mereka sebut sebagai obat kepalsuan. Menghukum setiap orang yang terluka oleh ‘kejujuran’ tersebut dengan sebutan manusia ‘lemah’ dan tak patut ditangisi kematiannya.
Kebaikan sudah dijajakan dan diobral murah, tapi mereka selalu memandang jijik pada kebaikan-kebaikan di emperan. Di katakanlah, lebih baik tidak bermoral daripada harus memilih kebaikan yang menurut mereka menjijikkan.
Jika dunia sudah jadi sekejam ini, lantas dimana orang-orang yang dikatakan palsu itu berkumpul? apakah mereka berada dalam ruangan penuh dengan orang patah hati namun tetap ingin tersenyum untuk membuat dunia sekitarnya lebih baik? apakah mereka berkumpul dengan orang-orang yang ingin mencintai namun selalu berakhir makan hati? apakah manusia-manusia palsu yang katanya bertopeng itu tidak boleh menampakkan keindahan sisi hati mereka yang pulih dan mengobati sisi hati mereka yang borok dengan simpuh panjang di depan wajah Tuhan tanpa harus dikoar-koar?
Apakah setiap orang yang berusaha memberikan hati dengan hati-hati harus bebas dan bersih dari berbagai jenis patah hati, kekurangan, kesalahan, kebodohan, kesialan, ketidakmampuan, kekesalan, kesedihan, dan kemarahan agar tidak dikatakan palsu?
Padahal tiap-tiap manusia memiliki banyak sisi. dan setiap manusia pasti mengecap setiap emosi yang entah baik entah buruk, dan tiap-tiap jiwa berhak memilih apakah mereka akan belajar dan akan membagikan hal-hal baik atau hal-hal yang menyakiti pada orang di luar diri mereka.
Siapa yang berhak menilai perilaku tiap-tiap jiwa adalah palsu? bukankah tiada yang tahu setiap desiran hati manusia melainkan pemiliknya? Lantas mengapa ada yang siap menyaingi Sang Pemilik Hati untuk meramal dan mengoarkan kata-kata palsu dengan begitu garangnya pada orang yang tengah mengulurkan tangannya meski penuh luka?
Ah, dunia yang gegap gempita, akankah kebaikan masih menjadi pilihan yang memesona banyak orang?
Sunday, 6 August 2017

Memanusiakan Manusia (Bagian Dua)


Sudah mulai bisa melihat sisi-sisi manusia banyak orang? Sip, syukurlah.

Yap, selain orang-orang lain, nampaknya kadang kita luput untuk memanusiakan orang-orang terdekat kita seperti keluarga, sahabat, atau mungkin pasangan kita.
Misal, kita merasa ibu kita sudah biasa dengan sikap kita yang menyebalkan jadi tidak apa-apa kalau sekali-kali (atau sering) meninggikan suara, toh sudah biasa. Kita lupa bahwa ibu kita punya hati, yang tergores bahkan terhujam berkali-kali atas setiap kata menyakitkan yang kita keluarkan. 

Kita punya orang yang kita kagumi, kita menyukai banyak hal darinya. Kalau dilihat dari jauh dan belum kenal dekat, rasanya orang itu hebat luar biasa. Kita lupa bahwa orang itu juga ya 'orang' pada umumnya. Kalau sudah kenal dekat, pasti ada kekurangannya. Atau misalnya ada orang yang hidupnya 'terlihat' lancar-lancar aja, medsosnya isinya traveling sana-sini, makanannya enak-enak, bakatnya banyak, follower-nya banyak, hidupnya terlihat enak. Kita lupa, bahwa Ia juga seperti kita yang harus kerja keras untuk mencapai banyak hal, yang harus menabung sedikit demi sedikit, yang juga punya masalah besar dalam hidupnya yang tidak kita tahu. 

Kita merasa bahagia dengan sahabat kita yang mengerti kita apa adanya dan berbagai deretan kelebihan lainnya, tapi setelah kita dikecewakan oleh tingkahnya, kita sakit hati dan lari. Kita lupa bahwa sahabat kita pun bertahan dengan kita sejauh ini mungkin dengan perban disana sini di hatinya atas candaan yang tidak disengaja namun menyakitkan, atau hal-hal lainnya. Kita lupa bahwa sahabat kita juga punya kekurangan yang harus kita pahami, terima, dan kemudian sama-sama saling mengingatkan dan memperbaiki.

Kita terbuai dengan memiliki pasangan yang sempurna, misalnya ingin pasangan seperti ‘ikemen’ jepang atau ‘oppa’ korea yang super romantis, ganteng pula, padahal kita biasa aja. Setidaknya kalaupun tidak seganteng mereka, harus peka oleh berbagai kode kita. Atau ingin pasangan seperti Oki setiana Dewi atau Raisa, yang cantik, anggun, lucu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata, pasangan kita jauh dari ekspektasi-ekspektasi kita, kecewa jadinya dan membanding-bandingkan. Inginnya mereka mengerti apa yang kita mau plus menerima kekurangan. Kita lupa mereka punya kekurangan yang mungkin tiap tahun kebersamaan akan semakin bertambah sikap menyebalkannya.

Kita lupa bahwa mereka semua adalah manusia. Kita ingin dimanusiakan tanpa ingin memanusiakan. Ups, mungkin bukan kita. Mungkin saya. Mungkin kamu sudah selesai dengan urusan seperti ini. Maka saya masih harus banyak belajar dari kamu. Masih harus banyak diingatkan. Eh ya, tapi ini bukan berarti kita bisa seenaknya terus-menerus bilang "Aku kan manusia!" sebagai tameng atas kesalahan dan kekeliruan yang disengaja. Untuk diri sendiri, sebagai manusia yang memiliki fitrah baik sejak kita lahir, tidak ada salahnya kita terus memperbaiki diri untuk jadi 'manusia' yang lebih baik, untuk memandang orang sekitar kita, pandanglah dengan kacamata kemanusiaan supaya bisa menerima sekaligus sisi cahaya dan gelapnya. 

Terakhir, saya hanya ingin berterima kasih pada orang-orang yang masih ingin menemani saya hingga saat ini, meski tahu bahwa saya punya segudang kekurangan plus menyebalkan. 



Terimakasih sudah memanusiakan aku. ;)

Memanusiakan Manusia



“Rocker juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati”

Familiar dengan lagu itu? Selamat anda ternyata sudah berumur. Haha. Lagu jadul tersebut mencoba untuk mengajak kita sama-sama sadar, rocker yang kelihatan garang saja, masih punya rasa dan hati loh. Punya emosi sedih, senang, bahkan galau!

Dan ternyata, tidak hanya rocker saja loh yang ingin diperhatikan sebagai manusia. Ada artis yang juga harus mengingatkan penggemarnya, “Seleb juga manusia, loh!” atau profesi-profesi lainnya sekalipun, seperti misalnya ketika ada dokter yang jatuh sakit, 

“Lah, dokter kok sakit?”
Kemudian, kembali muncul pernyataan, “Dokter juga manusia”
Atau
“Guru kok gitu sih!”
“Guru juga manusia tau!”
Atau
“Oooh kamu ternyata suka main juga ya. Aku kira kamu sukanya belajar doang, hehe”
“Yeee, aku juga manusia kali”
Dan mungkin bertambah lagi daftar ‘ingin-diakui-manusia’

Kita bisa jadi berada pada dua posisi itu, merasa heran dengan orang lain yang ‘kok dia bisa gitu sih?” ketika ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadi kita tentang orang lain dan di sisi lain juga berkata lantang “Gini-gini, aku juga manusia, loh”

Lama-lama, aku mulai bertanya-tanya sendiri, kenapa bisa ada istilah itu, ya? Istilah ingin diakui sebagai manusia, sampai harus ada penekanan, “Aku juga manusia (sama kayak kamu)”
Berdasarkan perbincangan dengan orang-orang kecil di kepala saya, Mungkin ini karena kita selalu berekspektasi tinggi pada orang-orang di sekitar kita, tapi di sisi lain kita ingin diri kita dimengerti oleh orang sekitar kita dengan berbagai kekurangan kita atau sisi lain kita yang tidak dipahami orang lain. Kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya banyak sisi, sebagaimana manusia lainnya. Tapi, kadang, kita lupa untuk ‘memanusiakan manusia’ lainnya.

Memanusiakan manusia?

Maksud memanusiakan manusia disini (setidaknya versi yang aku punya) adalah menyadari bahwa manusia itu punya begitu banyak sisi. Tidak hanya dua warna: hitam atau putih. Ya kalau enggak jadi orang baik, ya dia pasti orang jahat. Kita lupa, kalau orang yang ‘baik’ itu punya sisi-sisi lain, punya kekurangan dan kesalahan. Kita lupa, kalau orang yang kelihatannya ‘jahat’ punya sisi baik yang tidak terduga. Ya padahal namanya manusia itu punya sisi lebih dan kurang. Seperti halnya aku, dan seperti halnya kamu. 

Kita mungkin terlalu terbuai dengan dongeng-dongeng hitam vs putih yang selama ini meninabobokan kita. Misalnya, kisah Cinderella. Cinderela yang cantik, baik hati, patuh pada orang tua tersiksa oleh ibu tirinya dan kedua kakak tirinya yang super duper menyebalkan. Terlihat orang baik pasti baik, orang jahat pasti jahat. Padahal itu Cinderella anak bandel juga loh, dilarang sama orang tua pergi ke pesta malam-malam, malah kabur mau ketemu ‘gebetan’ plus meminta pertolongan ‘makhluk gaib’. Hadeeeh. Hahaha

Ibu tirinya sendiri yang super nyebelin itu meski menyebalkan, mencintai kedua anak kandungnya tanpa tapi. Rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Kakak Cinderella bersikap jahat mungkin hasil dari lingkungannya sejak dulu yang membanding-bandingkan mereka dengan gadis cantik lainnya, yang membuat mereka merasa ‘tidak cukup cantik’, pasti ada sisi-sisi kedua kakak tiri Cinderella ini sedih dan galau, namun di depan terlihat ‘setrong’ dan galak. Yah, sama lah kayak kisah bawang merah putih, atau sinetron 90an ‘Bidadari’ atau bahkan sinetron sekarang juga tipenya masih sama ya?

Aku sama sekali tidak bilang kisah Cinderella itu sebenarnya begitu ya, itu hanya imajinasi liar saya yang mencoba mencari bahwa manusia itu memiliki begitu banyak sisi. Bisa jadi satu sisi membuat bahagia, satu sisi membuat kesal. Sayangnya banyak dari kita ingin bertahan dengan sikap bahagia, tapi enggan menerima kekurangan yang membuat kesal. Ya kalau tidak ingin kecewa, berharap sama Pencipta saja. Kalau sama manusia pasti ada kecewa, lah karena mereka ‘manusia’ kan?

Kita juga.

(Lanjut ke Memanusiakan manusia Bagian 2)
Monday, 31 July 2017

Bercengkerama dengan Kematian dalam 'Meja Bundar'

Kita bisa sama-sama setuju kalau kematian adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, jika kamu tidak merasa begitu, mungkin setidaknya lingkungan sekitar kita yang merasa hal itu tabu. 
"Ih, apaan sih ngomongin mati. Udah ah, jangan ngomongin gituan"
Itu adalah salah satu respon temanku saat berbicara tentang kematian di tengah perbincangan yang campur aduk. Atau kalaupun memang jadinya dibicarakan berakhir dengan hening, setiap sosok kemudian tenggelam dengan kepala sendiri memikirkan kematian versi masing-masing. 

Akhir-akhir ini saya sedang mendengarkan kembali lagu-lagunya 30 seconds to Mars, khususnya 'The Kill" yang membuat saya malah kepikiran kematian. Tapi ya memikirkannya saja saya sudah merinding. Kemudian, munculah buku meja bundar ini di hadapan saya, buku yang berani-beraninya membawa tema kematian ke hadapan kita. Judulnya "Meja bundar", penulisnya Hendra Purnama & Latree Manohara, penerbitnya Bitread. Buku macam apa ini?

Mulai dari mana ya. Saya coba untuk menggambarkan dengan tidak memberikan 'spoiler' ya. Tapi kalau kelepasan, ya maapin, okeh? Tapi tenang aja, soalnya saya juga tidak suka spoiler.


Awal mula saya lihat covernya saya langsung berpikir, "Yaah, jangan-jangan ini cerita macam jumanji, atau Zathura, bosen", terus saya balik ke belakang covernya, "Jika kematian adalah sebuah solusi, akankah kamu memilihnya?" Hayoloh, tulisan di belakang malah provokatif plus serem-serem gimana gitu. Eh, saya masih suudzan gitu, "Jangan-jangan Jumanji disatuin sama Hunger games" Bagus sih kayaknya, tapi kalau cerita kayak gitu lagi, bosen juga. Tapi, kemudian saya lihat lagi pada nama penulis, terlebih Hendra Purnama atau nama bekennya Hendra Veejay ini sudah malang melintang di dunia kepenulisan dengan konsumsi buku yang bejibun, terlebih beliau aktif di dunia perfilman yang pasti sudah hapal betul storytelling yang bagus itu kayak gimana. Apalagi ditambah dengan kehadiran Latree Manohara sebagai penulis yang aktif menulis juga. Saya jadi semakin tertarik, cerita macam apa yang akan disodorkan oleh duet penulis ini kepada pembaca. 

Jadi gini, cerita ini menceritakan tentang tiga sekawan bernama Azzuhri, Elias, dan Kirani. Mereka sudah 10 tahun tidak pernah berjumpa, dan memang dulu mereka bertiga sudah membuat perjanjian bahwa dalam sepuluh tahun lagi mereka akan bertemu hanya bertiga. Reuni yang biasanya hanya berisi basa basi tentang kabar, keluarga, dan pekerjaan di atur sedemikian rupa oleh Elias yang mengusulkan untuk memainkan sebuah permainan bernama "Sincerity". Duh saya masih bergidik sendiri kalau menyebutkan nama permainan ini. 

Jadi, permainan ini sebenarnya sangat sederhana, tentang menebak sebuah pernyataan masuk dalam kategori "Jujur" atau "Bohong". Tapi, disinilah letak hebatnya penulis buku ini. Sebuah hal sederhana seperti permainan seperti itu saja bisa mengantarkan pembacanya pada perenungan dalam tentang sebuah filsafat kematian dan tentunya tentang hidup itu sendiri. Kisah reuni mereka ini hanya berlangsung dalam 18 jam yang terangkum dalam 305 halaman. Bayangkan satu buku hanya 18 jam. Ini menjadi sebuah tantangan sendiri bagi penulisnya, karena biasanya kebanyakan novel berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Dan yang lebih memesona saya adalah, dalam kisah yang hanya 18 jam, penulis bisa memasukkan kisah ketiga tokoh, berbicara tentang filsafat kematian, teori ini itu, perbincangan ringan, hingga mengaduk-ngaduk emosi pembaca tanpa terasa terlalu terburu-buru. Dan ending-nya sodara, sodara: bikin otak gatal!

Dan tahukah? Ternyata penulis menuliskan kisah 18 jam ini dalam jangka waktu 5 tahun plus Kang Hendra Veejay ini sampai sempat mengambil kelas filsafat kematian. Yang ada dalam benaknya saat akan menuliskan kisah ini adalah
Jika kematian bukan lagi takdir yang diterima dengan pasrah, tapi adalah sebuah solusi dari masalah yang sedang kita hadapi, maka beranikah kita menempuhnya?
Semua ini ada dalam kata pengantar buku ini dan bisa kita baca di "Kematian dan Postmodern Jukebox" 

Saya baca buku ini sehari aja, karena sulit menyimpan buku ini dengan rasa penasaran yang kian memuncak setiap lembarnya. Saya bahkan baca beberapa bagian sampai berkali-kali. Karena ya saya ingin lebih memahami setiap remah katanya, karena setiap bagian itu saling berkaitan dan membuat otak saya gatal tapi tidak bisa digaruk, serius! Sama seperti saya nonton predestination dan shutter island. Meski kalau cerita beda jauh dan tidak berkaitan sama sekali, tapi perasaan saya setelah membaca ini sama seperti perasaan saya menonton film tersebut. 

Oh iya, novel dewasa ini masuk ke kategori drama, thriller, mystery ya. Buat kamu pecinta novel genre yang sama, ini cocok. Pesan saya saat membaca buku ini, jangan diloncat-loncat, kamu bisa saja loncat ke bagian ending seenaknya, tapi kamu enggak bisa dapat apa-apa. Baca buku ini harus perlahan dan sistematis setiap lembarnya, dan nikmati sensasinya. Kalau nanti kamu sudah baca buku ini, hayu kita ngobrol bareng membahas banyak hal yang tidak bisa saya bahas di sini karena khawatir spoiler. Sekalian kita undang penulisnya untuk menjelaskan banyak hal yang membuat otak kita gatal! 

Tuesday, 11 July 2017

Gerakan Fiksi Mini

DONOR: Ketika anaknya dikabarkan membutuhkan donor jantung sesegera mungkin, seorang Ibu berdiri dengan jantung di tangan kanannya dan dengan dada kiri yang berlubang.

Kisah berjudul "Donor" di pembukaan tulisan ini adalah salah satu contoh fiksi mini yang aku buat. Bisa jadi kita sudah begitu familiar dengan kata fiksi mini. Atau kalaupun bukan dengan nama fiksi mini, ada yang mengenalnya dengan kata flash fiction, micro fiction, fiksi singkat, 6-words fiction, atau "ooooh, cerita yang singkat itu yaa..."

Dengan kemajuan jejaring sosial, fiksi mini yang diprakarsai oleh Ernest Hemingway ini (setidaknya itu sepengetahuan saya, kalau ada yang tahu penulis lain yang ternyata mengawali ini kabar-kabari ya) mulai menyebar di twitter, instagram, dan blog-blog. 

Ernest Hemingway dulu konon ditantang oleh seseorang yang intinya begini: "Eh, lu kan udah jago nulis novel panjang. Gue tantang Lu nulis novel terpendek di dunia" Yakali, novel pendek kayak gimana. Akhirnya Hemingway pun menulis novel pendeknya: "For sale: baby shoes, never worn."

Nah yang unik dari fiksi mini adalah satu baris flash fiction atau sudden fiction tersebut adalah meski sebaris, tapi pembaca bebas melangitkan imajinasi setinggi-tingginya sesuai dengan kata-kata itu:
Sepatu bayinya dijual dan masih belum dipakai. Apakah itu di jual di toko biasa? atau seseorang menjualnya karena ternyata bayinya yang diimpi-impikan tidak pernah lahir alias keguguran sehingga ia harus menjual sepatu bayi yang belum pernah dipakai supaya kesedihannya akan bayinya juga hilang, atau bayinya hilang atau kemungkinan-kemungkinan lain.


Nah, sekarang coba perhatikan contoh fiksi mini lainnya dari berbagai sumber:

 KARAM. Pertolongan akhirnya datang. Kami melambaikan tangan dari dasar laut. – @fiksimini
SEHABIS NONTON PERTUNJUKAN SULAP “Ma, lihat aku bisa menghilangkan kelingkingku seperti pesulap tadi” jawabnya sambil menggenggam pisau. @AndyTantono
MENDINGIN: Setiap kali kau mulai merasakan dingin di ujung kakimu, saat itulah mereka menyentuhmu mencoba merasuki tubuhmu. @fiksiminikengkawan @nugragente
Nah, kemudian fiksi mini mulai merambah dan berbagai bentuk fiksi mini hadir, ada gerakan @fiksimini di twitter yang menulis fiksi mini dengan hanya 140 karakter, ada yang menulis di instagram, ada yang menulis kumpulan fiksi mini di blog. Intinya fiksi mini itu biasanya punya sifat menghentak pembacanya meski hanya dengan sedikit kata-kata. Pembaca bisa kaget, takut, jatuh cinta hanya dengan sedikit kata.

Terus kalau kita nulis fiksi mini harus sedikit banget kayak contoh di atas?

Sebenernya batasan fiksi mini tidak jelas sih. Dibawa nyantai aja. karena kalaupun kamu mau buat satu paragraf, dua paragraf, satu baris, dua baris, tidak masalah. asal jangan kepanjangan kayak cerpen.

Mau baca-baca lagi yang lainnya? mari mampir ke www.medium.com/3-kengkawan atau kalau yang mainnya di wattpad ada kumpulan fiksi mini horror/thriller saya yang sudah dibundel.


Tapi disitu terbatas genrenya, kalau mau lebih bervariasi mampir ke Fiksi Mini Kengkawan aja ya.

Eh tapi, inti tulisan ini bukan cuma mau promosi rumah sebelah saya, loh. Semoga tulisan ini bisa membuatmu semangat menulis meski hanya sedikit, saya kadang suka terinspirasi dari fiksi mini untuk membuat tulisan panjang saya yang lain loh.

Eh ya, mau coba main fiksi mini berantai di kolom komentar? Kalau ada yang mau, hayu!


Follow my blog with Bloglovin

Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza