Kata Sara Fiza

Wandering & Wondering

Saturday, 22 June 2019

Kau Tidak Bisa Mencintai Orang Lain, Sebelum Kau Mencintai Dirimu Sendiri, Kata Mereka.


Entah di mana aku pertama kali menemukan kalimat itu. Kalimat yang rasa-rasanya sulit untuk kutelan utuh. Karena, bagaimana bisa aku menyayangi orang lain? Sedangkan mencintai diriku adalah hal yang kurasa paling sulit kulakukan sejak dulu.

Seseorang pernah bertanya padaku tentang apa yang kucintai dari diriku, kelebihan apa yang aku miliki menurutku. Tapi aku bergeming. Aku berusaha mencari-cari kata-kata baik untuk menggambarkan diriku, tapi tidak pernah bisa aku temukan. Dan semua kata-kata yang orang lain susun tentang hal-hal apa yang mesti aku cintai dari diriku terasa asing di dalam telingaku sendiri.

Jika kita kembali pada kalimat bijak kata mereka tentang ketidakbisaan untuk mencintai orang lain, sebelum mencintai diri sendiri, maka kesimpulannya adalah aku tidak pernah bisa mencintai orang lain. Begitu, kan?

But, guess what?

I did it anyway. And I hope I’ll do it again over and over.

Dalam ketidakbisaanku mencintai diri sendiri, aku menemukan cinta pada wajah teman-temanku; atas kebaikan apapun yang mereka lakukan, terlebih sahabat-sahabat yang bertahan berada di sisiku hingga sekarang. Mereka yang secara tiba-tiba memberi kejutan-kejutan kecil yang membahagiakan, yang mendoakan, yang menyemangati, atau yang berbagi perhatian dengan berbagai bentuk berbeda. God, I love them so much!

Melanjutkan pendidikan ke dunia pendidikan pun membawaku untuk sukarela memberikan hatiku pada tiap jiwa yang ada di dalam kelas. Pada setiap anak yang kutemui di dalam atau di luar kelas, pada setiap anak yang menyeretku ke sudut lain di sekolah untuk mereka bagikan sedikit kisah tentang hidup mereka, pada setiap anak yang bahkan tidak suka dengan pelajaran yang aku bawa ke hadapan mereka. Tapi ujungnya, aku memutuskan mundur seutuhnya saja dari dunia pendidikan itu, karena aku tidak bisa mengendalikan rasa sayang yang terlalu berlebihan ini. Tapi tetap saja, doa untuk mereka selalu aku sematkan.

Dan tidak perlu waktu lama bagiku untuk terharu dan berkaca-kaca setiap kata tentang keluarga muncul ke permukaan. Betapa aku harap mereka memiliki seluruh kebahagiaan di dunia.

Belum lagi guru, dosen, senior-senior yang mau membimbingku hingga saat ini. Bagaimana aku tidak mencintai mereka? Mereka adalah orang-orang yang berilmu yang ketika ilmunya semakin bertambah, justru semakin tercemin perilaku yang rendah hati.

Bagaimana bisa aku tidak mencintai mereka, meski aku belum bisa mencintai diriku secara utuh?

Dalam perjalanan panjang hidup ini, akhirnya aku menemukan cara untuk mencintai diriku sendiri, bersamaan dengan perjalanan aku mencintai orang lain. Sekarang akhirnya aku menyadari bahwa Yang Maha Menguasai Semesta saja begitu mencintai diriku dengan mengirimkan orang-orang baik dalam hidupku, kenapa aku yang tidak memiliki apa-apa ini dan bukan siapa-siapa ini begitu angkuh untuk tidak memaafkan dan tidak mencintai diriku sendiri? Kenapa aku seangkuh itu ya dulu?

Gelombang kesyukuran itu membasuh tubuhku seutuhnya. Aku belajar mencintai diriku sebagai bukti aku begitu mencintai Pencipta yang menciptakanku.

Aku berterima kasih juga pada diriku yang dulu atas tindakan berani untuk mencintai orang lain, meski di saat aku kesulitan mencintai diriku sendiri. Banyak yang menunggu untuk dicintai, namun tidak semua orang cukup berani dan cukup kuat untuk berusaha mencintai orang lain. Kini, yang aku lakukan adalah untuk tidak lagi membeda-bedakan cinta mana yang untuk orang lain, cinta yang mana untuk diriku sendiri. Kini aku belajar melakukan keduanya, seutuhnya.

Jika kau masih belum mencintai dirimu sendiri, tidak ada salahnya tetap menebar kasih dan sayang pada sesama, kan? Tidak ada salahnya berbuat baik, meski kau rasa dirimu belum baik. Tidak ada salahnya untuk tersenyum, meski hatimu masih terluka. Tidak ada salahnya menyalakan cahaya bahagia pada diri orang lain, meski kau rasa bahagiamu sendiri saja belum utuh adanya. Tidak ada salahnya melakukan urutan-urutan kehidupan berbeda dengan orang lain. Tidak ada salahnya.
Sunday, 30 December 2018

Anyer, Suatu Hari


Suatu hari, 2 tahun lalu, saya mengunjungi dua sahabat baik saya di Banten. Menengok satu orang di Serang--namanya Syifa--kemudian "menculiknya" ke Anyer untuk menemui satu orang lagi yaitu Aam. Perjalanan dari Serang ke Anyer butuh waktu tidak cukup lama, sepertinya kurang dari satu jam dengan mengendarai sepeda motor. Aam mengajak seorang saudaranya untuk bergabung dengan perjalanan kami. Saya saat itu ingin pergi ke Pantai Karang Bolong, dan ketiga orang Banten itu mengiyakan keinginan saya. Beruntung sekali punya mereka.

Ketika kami sampai di tempat parkiran motor Pantai Karang Bolong, kami kaget dengan biaya parkir yang mahal, kalau tidak salah 15ribu rupiah atau lebih ya. Saya lupa. Belum lagi biaya masuk pantai Karang Bolong yang juga mahal (Lagi-lagi saya lupa berapa harganya). Lumayan itu ongkosnya bisa dipakai jajan saya selama berkunjung di sana. Hehe. Akhirnya setelah masuk ke parkiran dan menanyakan harga parkir, kami pergi dari parkiran tersebut dan tidak jadi parkir. Haha. Sekere itu saya.

Teman saya yang bahkan orang Anyer juga tidak bisa menawar cantik, jadilah kami pergi ke pantai lain di sebelah pantai Karang Bolong, yang tidak banyak dikunjungi orang. Bahkan lebih tepatnya, tidak ada yang mengunjungi. Di pantai itu, ada satu warung dan dermaga yang belum jadi. Kamipun memutuskan untuk menghabiskan waktu di pantai gratis dan sepi itu. Yang penting saya bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman saya, pemandangan indah ya bonus.

Ketika kami sampai di pantai itu, saya melihat anak-anak bergelantungan di atas pohon. Saya berteriak ke arah mereka, "Nujuuu naooon?" ("Lagi ngapain?")
"Biasa teh! Ulin!" (Biasa aja, Teh. Main.)
Ketika saya mengarahkan kamera ke arah mereka, mereka semakin cari perhatian dan heboh.



Tidak lama kemudian, mereka turun dari pohon. Masih cekakak-cekikik. Saya masih terus mengajak mereka mengobrol dan mereka semakin bersemangat. Akhirnya mereka melepas baju mereka seluruhnya (Ya! Seluruuuuhnya!) dan melompat ke dalam air laut.

"Teh, poto atuh teeeeh!" (Teh, poto dong teh!)

Mereka semakin heboh menunjukkan atraksi-atraksi di dalam air. Tapi, tidak bisa saya tampilkan semua. Karena tidak lulus sensor. Hahahaha. Lalu saya izin untuk berfoto di tempat lain, dan mereka masih melanjutkan renang asyik mereka.


Sebuah Jalan Pintas

Ada beberapa spot foto menarik di pantai sepi itu. Kami berfoto sana-sini. Lalu, karena masih penasaran dengan pantai Karang Bolong yang mahal itu, saya bertanya pada anak-anak itu ada tidak jalan pintas ke Karang Bolong tanpa harus bayar.

"Ayaaaa, teh!" (Ada, Teh!)

Kemudian, mereka memakai baju mereka dengan badan yang masih basah, satu orang membawa sebuah bola dan berkata, "Asal engke kudu maen bola" (Asal nanti harus main bola)

"Ah, gampang eta mah" kataku

Kemudian mereka mengajak kami berjalan dan melewati suatu jalan rahasia yang sepertinya tidak boleh saya sampaikan di sini. Karena itu rahasia kami. Haha Semoga kenekatan ini diampuni dan dimaafkan. Ketahuan kan jadinya kami ini penyelundup kere (Diposting pula di Internet, Sar!)

Setelah kami tiba di pantai Karang Bolong dengan selamat dan tidak ketahuan petugas setempat, kami berfoto sana-sini. Sepanjang bermain dan berfoto di area Pantai Karang Bolong, anak-anak pemandu itu terus meminta kami untuk bermain bola. Ya, mereka mengingat janji saya sejak awal. Janji bermain bola itu yang membuat mereka mau menunjukkan jalan pintas nan berbahaya ke dalam pantai Karang Bolong. Akhirnya saya dan teman-teman saya menyanggupi. Permainan bola di pinggir pantai itu adalah permainan bola paling epik. Bukan karena tim saya dan teman-teman lain kalah, tapi juga karena saya tidak menyangka, bermain bola dengan kami saja sudah membuat mereka sebahagia itu.

Iya, senyuman mereka secandu itu!

Candu senyuman itu yang membuat saya selalu berusaha mencari anak-anak di setiap perjalanan. Selalu ada keajaiban-keajaiban kecil yang membuat perjalanan saya menjadi menarik jika mengikuti anak-anak.





Tsunami Selat Sunda pada Desember 2018

Ketika berita tentang tsunami menghantam Anyer, saya langsung teringat dengan teman-teman saya di sana. Syukurlah mereka aman, karena memang rumah mereka jauh dari pantai dan berada di dataran tinggi. Lalu, saya juga teringat pada anak-anak itu. Dua tahun memang sudah berlalu, saya juga sudah lupa dengan nama-nama anak itu, tapi kebahagian saya hari itu nampaknya tidak juga meluruh. Kebahagiaan dari kenangan itu kemudian berbuah kekhawatiran akan kondisi mereka.

Saya juga membayangkan begitu banyak anak-anak yang bahagianya mungkin terenggut seketika, orang tua-orang tua yang kehilangan anaknya, atau anak-anak yang kehilangan orang tuanya, atau masyarakat lain yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Saya melayangkan doa banyak-banyak untuk mereka, juga untuk seluruh masyarakat yang terkena bencana tsunami, baik di Anyer maupun Lampung. Saya berharap mereka dalam keadaan yang baik, jikapun ternyata kemalangan menghampiri mereka, saya berharap mereka diberi kekuatan untuk melalui bencana ini dengan ikhlas. Dan saya harap menemui senyum mereka lagi, antusias mereka lagi, semangat mereka lagi, kebahagiaan mereka lagi.

Stay Strong, Anyer dan Lampung.
Thursday, 4 October 2018

Cinta yang Cukup


Hati-hati berbagai bentuk lewat dibawah badai. Wajahnya rupa-rupa, senyum, murung, penuh amarah tapi berhati hujan atau pada sudut-sudut dan ruang tersembunyi penuh badai tiada yang tahu.

Dengan hati yang juga sama-sama hujan, aku menyurati Sang Pemilik Semua Hati, meminta untuk diberikan cinta yang cukup untuk setiap wajah-wajah berbagai bentuk dan hati yang sama-sama hujan.

Tangan selemah aku tak akan sanggup menahan semua beban dan tak akan sanggup memayungi semua hati satu satu agar hujan tak lagi mengenai mereka. Hati yang juga kecil dan rapuh ini tak cukup untuk dibagikan untuk menambal semua hati yang robek sana-sini, maka apa yang bisa aku lakukan selain menulis surat pada Sang Pemilik Cinta untuk memberikan cinta yang cukup pada mereka.

Cinta yang cukup untuk menemani mereka berteduh sekali-kali, dan menemani menari kala hujan tak kunjung usai. Cinta yang cukup untuk menambal celah-celah hati mereka agar kembali utuh, meski hidup akan meluluhlantakannya lagi. Cinta yang cukup untuk mereka dan cukup untuk mereka bagikan pada tubuh-tubuh lainnya. Cinta yang cukup untuk mereka mencintai-Mu, Wahai Maha Cinta.

Berikan aku cukup cinta, agar yang keluar dari mulutku adalah cinta bukan caci. Meski mungkin aku bisa lupa dan malah menyakiti, maka berikanlah aku cukup cinta untuk mampu menyembuhkan yang tersakiti oleh tubuh yang ringkih ini.

Beri aku cinta yang cukup, untuk mencintai-Mu dan membagikan cinta karena-Mu.


Friday, 6 July 2018

Ngobrol Film: Tabula Rasa (2014)

Sumber gambar: https://www.behance.net


Tabula Rasa (2014) merupakan film Indonesia yang menghadirkan masakan-masakan khas rumah makan Padang sebagai benang merah cerita. Film ini disebut-sebut sebagai food film pertama di Indonesia. Meski berlatar di sebuah rumah makan padang, tokoh utamanya adalah Hans, pemuda dari Papua. Menarik, bukan? Indonesia Barat dan Timur bertemu di Ibu kota, di sebuah rumah makan Padang.

Obrolan film kali ini sepertinya akan sangat subjektif (Padahal sepertinya postingan tentang ngobrol film akan selalu subjektif, haha). Karena, sumpah saya sangat suka film ini!

Baiklah, kita mulai dari sinopsis cerita dulu saja. Film ini menceritakan tentang seorang lelaki dari Serui, Papua, yang bernama Hans. Hans yang tinggal di Panti Asuhan di Papua ini diundang untuk bergabung dengan klub Sepak Bola di Jakarta. Sayangnya, ketika sudah meninggalkan Papua, ia harus menelan pil pahit. Kakinya cedera dan ia didepak dari klubnya, sehingga ia hidup menggelandang di Ibu kota. Nasibnya berubah arah ketika ia bertemu dengan Mak, seorang pemilik rumah makan padang. Mak berbaik hati mengajak Hans ke Rumah makan padangnya. Kehadiran Hans dalam rumah makan padang yang sepi pelanggan itu menimbulkan konflik-konflik dengan Natsir dan Parmanto (Saudara Mak yang sama-sama bekerja di Rumah Makan Padang). Cerita berlanjut dengan Hans yang nantinya belajar cara memasak masakan padang dari Mak.

Film bergenre drama keluarga ini seriusan bagus! Bagus banget! (Lebay haha). Saya merasa menyesal baru menontonnya tahun ini (Andai saja film ini bisa tayang ulang di bioskop lagi, saya mau nonton! wajib!). Pertama kali saya tahu tentang film ini adalah ketika saya mengikuti kelas filmmaker di Salman Academy pada tahun 2015, saat itu kami hanya menonton sekilas behind the scene dari Tabula Rasa untuk mempelajari penataan artistik dari film. Saat itu kami dibuat takjub dengan bagaimana kru film merancang set film yang sangat realistis dari sebuah rumah makan padang dan dapurnya. Tidak hanya itu, aktor-aktor dalam film ini juga belajar bagaimana berbahasa minang dengan baik, sehingga bahasa minang yang menjadi bahasa utama dalam film bukan bahasa Indonesia yang 'diminang-minangkan'. Saya kadang suka kesal kalau lihat bagaimana film-film, FTV, dan sinetron di Indonesia menampilkan suatu bahasa dan budaya setengah-setengah, kadang aktor yang berbahasa sunda hanya berupa bahasa Indonesia yang disunda-sundakan, yang sebenarnya kalau orang sunda asli tidak begitu-begitu amat. Atau misalnya kalau menghadirkan orang jawa, cuman asal 'medok' saja. Aish... (Oke, ini cuman curcol sekilas saja, haha). Dalam film ini, kru film yang mendapatkan direksi dari sutradara Adriyanto Dewo ini, menghadirkan film yang terasa dekat dengan penonton Indonesia pada umumnya yang terbiasa melihat rumah makan padang di mana-mana. Ketika itu saja, saya sudah sangat penasaran dengan filmnya, dan baru kesampean tahun 2018 ini. Kini, setelah saya menonton film ini, saya melihat rumah makan padang dengan rasa yang berbeda (Hazeeek....).

Film ini bukan sekedar film masak memasak, lebih dari itu film ini menyampaikan begitu banyak pesan kebaikan. Premis film tentang seorang pesepak bola yang menjadi gelandangan dan diselamatkan oleh sebuah keluarga yang memiliki rumah makan padang tentunya unik dan menarik. Bagaimana Hans melanjutkan hidup dengan impiannya yang kandas di tengah jalan? Bagaimana Mak bisa bertahan untuk 'menyelamatkan' Hans sedangkan ia dan keluarganya saja perlu mati-matian menghidupkan rumah makan padang yang sepi pengunjung? Pertanyaan-pertanyaan itu yang berputar di kepala saya dan membuat saya penasaran dengan ending film. Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat saya menikmati setiap scene-scene film yang berisi drama konflik manusia lengkap dengan shoot-shoot cara membuat masakan padang yang menggiurkan.

Film yang menghadirkan budaya Indonesia barat dan timur ini juga menampilkan bagaimana tokoh-tokoh yang berbeda budaya dan agama bisa berdampingan. Film ini mengajarkan bagaimana niat dan perbuatan baik kita sebagai manusia akan dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik, bagaimana kita bisa bertahan dengan kehidupan yang bisa meninggikan kita dan menjatuhkan di detik selanjutnya, bagaimana makna sebuah keluarga, bagaimana perbuatan baik itu adalah hal sulit yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang kuat, karena perbuatan baik selalu akan menemukan halangan yang memaksa kita untuk berhenti memikirkan orang lain, dan pesan-pesan lainnya. Oh iya, di sela-sela skenario yang apik, diselipkan juga fakta-fakta kuliner di Indonesia loh. Pokoknya sangat menarik sekali.

Dari berbagai stereotip negatif tentang Indonesia, film ini bagi saya menghidupkan lagi makna Indonesia sebagai sebuah negara dengan bangsa yang ramah dan baik hati, bangsa yang berbeda-beda namun saling toleransi, dan tentunya bangsa dengan kekayaan kuliner dengan cita rasa tinggi. Bagi saya, Tabula Rasa adalah Indonesia.


***

Catatan:
Berikut trailer dari film Tabula Rasa, silakan tonton.
Ah ya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada seluruh kru film Tabula Rasa telah menghadirkan film yang baik dan apik dalam layar kaca Indonesia. Maaf saya tidak menonton langsung (Telat tahunya, hiks).Cukup sedih juga jadinya, karena film-film baik seperti ini kurang terdengar gaungnya dibandingkan film-film yang 'asal laku' lainnya.
Selanjutnya, saya akan lebih memperhatikan film-film Indonesia dan mendukung film-film Indonesia yang berkualitas baik. Film-film yang 'bagus' harus juga terkenal dan mengemuka, agar masyarakat tahu bahwa film-film Indonesia juga ada yang memiliki cerita yang menarik, eksekusinya baik dan tidak kalah dari film-film luar negeri lainnya. Hidup perfilman Indonesia!


Tuesday, 26 December 2017

Alergi Kebaikan Kah Kita?



Perbincangan yang lalu-lalang dalam perjalanan kita sehari-sehari penuh dengan berbagai masalah-masalah yang terasa menyesakkan, jangan ditanya lagi apa yang ada di media sosial. Berita-berita bertebaran yang meresahkan dan membuat dada menjadi tak enak. Sayangnya hal itu terasa biasa dan telah menjadi makanan sehari-hari, tak bisa rasanya jika tidak menyerang pendapat yang berbeda dengan kita. Dahi kita telah terbiasa berkerut dan mulut kita terbiasa mengerucut. Meme dijadikan alat untuk menyindir dan kita tersenyum ketika melihat sindiran berbalut gambar. Komentar berisi saling serang dan kita sudah biasa. Benarkah kita sudah biasa dengan kekalutan yang tersebar? Apakah hal-hal baik sudah jadi hal asing?

***

Kita beralih sebentar pada curhatan saya. Saya baru saja menonton film Ayat-Ayat Cinta 2, sebenarnya saya belum membaca novelnya yang kedua, terakhir saya baca Ayat-Ayat Cinta yang pertama adalah ketika saya SMP dan saya suka. Kemudian, AAC tiba-tiba meledak dan begitu banyak novel yang mengikuti dengan kata 'cinta' dan sampul novel yang serupa. Bahkan, isi tokohnya terkesan selalu sama, seorang lelaki serba sempurna yang diincar oleh banyak wanita. Akhirnya saya jadi muak sendiri. Tapi, saya tetap saja menonton Ayat-Ayat Cinta 2 karena saya penasaran juga apa yang akan diangkat oleh kisah kali ini. 

Ketika saya mengikuti jalan filmnya, saya sudah siap-siap untuk 'menghakimi' tokoh Fahri, mencari kesempurnaan apa lagi yang ditampilkan dan seberapa banyaknya wanita yang mengejar sosoknya. Dan benar saja hal itu terjadi (Spoiler Alert telat). Tapi, ketika saya sampai pada pertengahan film, saya melihat begitu banyak pesan yang disampaikan tentang toleransi, keberagaman, memilih berbuat baik pada berbagai situasi, tentang ikhlas, tentang kerja keras terlepas dari sosok Fahri yang 'terlalu' sempurna menurut saya. Saya akhirnya bertanya-tanya sendiri, apakah semua kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam film tersebut begitu buram di mata saya hanya karena saya tidak 'sreg' dengan tokohnya? Apakah pikiran saya begitu tertutup sehingga tidak menerima pesan-pesan kebaikan universal hanya karena menurut saya kisahnya dapat ditebak begitu saja? 

Terhentak, saya jadi malu sendiri. Sebegitukah alerginya saya pada kebaikan hanya karena pikiran-pikiran menghakimi?

Saya kemudian melihat ke penonton lain yang sedang menonton film tersebut, banyak dari mereka yang berkaca-kaca, mengusap matanya berkali-kali, tersenyum, atau menutupi kesedihan dengan berlindung dari telapak tangan mereka yang menutupi wajah. Ah, film ini sudah berbuat banyak. Film ini telah menyentuh banyak orang dan siapa tahu ketika keluar dari studio ada yang terinspirasi untuk berbuat kebaikan yang sama. Urusan plot dan tokoh biarkan masuk pada ranah kritik sisi lain tanpa harus menolak kebaikannya. Toh, saya yang hanya bisa menghakimi ini, bisa apa? punya karya pun tidak. Jangankan menginspirasi, urusan dengan diri saja rasanya belum tuntas. 

Saya jadi teringat, dulu saya pernah bilang bahwa saya tidak suka seorang penceramah karena gaya berceramahnya terlalu keras dan tidak lembut. Saya berpikiran bahwa ceramah harus disampaikan dengan penuh kelembutan dan menyentuh. Tapi, hal itu justru membuat saya menutup pesan-pesan kebaikan yang ingin disampaikan, hanya karena penceramahnya tidak sesuai dengan saya. Siapa lu, Sar? 

Sungguh saya malu. 

Alergi kah saya dengan kebaikan?

Atau mungkin orang lain juga? apalagi alasan dari munculnya kata-kata yang terkenal, "Kamu terlalu baik untuk aku" haha, meski sebenarnya itu hanya kata-kata akal-akalan. Tapi, ya kalau seseorang terlalu baik justru pantas dijauhi, terus yang didekati ingin seperti apa? Yang tidak membawa kebaikan? sebegitukah kita alergi dengan kebaikan? 

Orang yang berbuat baik dikatakan palsu dan munafik. Biarlah soal palsu dan asli itu urusan niat yang melakukan, urusan kita bukanlah menghakimi niatnya seolah kita paling tahu, kan? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga setiap melihat kebaikan kita sindir sebagai sesuatu hal yang sok suci? Alergi kah kita dengan kebaikan, sehingga kita lebih baik memilih menyakiti dan menyebar rasa sakit?

Dalam perenungan, saya mencoba membuka pikiran saya seluas-luasnya. Pesan-pesan kebaikan bisa jadi bertebaran di sekeliling saya, dari seorang anak kecil, dari teman-teman yang berbeda pendapat dengan saya, dari orang-orang berbagai karakter yang lembut hingga yang tegas, dari media apapun. Dan bisa jadi saya melewatkan semua itu. Ah, akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa pesan-pesan kebaikan bisa jadi hadir dari arah yang tidak disangka-sangka sekalipun dari orang-orang yang tidak kita suka, atau menurut kita belum berkapasitas untuk menyampaikan kebaikan itu karena usia atau faktor lainnya, dan apabila kita tidak membuka pikiran dan hati kita, bagaimana cahaya kebaikan itu bisa masuk ke dalam jiwa kita? 

Saya tidak ingin jadi seseorang yang alergi kebaikan. Saya ingin merengkuh kebaikan-kebaikan yang bertebaran di tengah dunia dan semoga saja saya bisa melihat pesan kebaikan itu dari kebaikan itu sendiri, melepaskan segala atribut orang yang menyampaikannya terlebih dulu dan fokus pada kebaikannya. 

Dalam dunia yang di mana berita buruk bertebaran, perdebatan ditumbuh suburkan, saling sindir jadi pilihan, maukah kita sama-sama bersepakat untuk berhenti sejenak dari segala keriuhan dan sama-sama mengobati diri kita dari berbagai jenis alergi, termasuk alergi kebaikan? Saya percaya manusia pada dasarnya semua baik dan ingin menjadi lebih baik. Maka, mari kita sama-sama mengecap secangkir cahaya-cahaya kebaikan. Semoga saja kita tidak alergi kebaikan lagi lantaran sudah terlalu lama hidup dalam dunia penuh caci maki.



Friday, 1 December 2017

Titik Nol



Pesawat mengudara dan melayang menghiasi langit dini hari di Bandara Soekarno-Hatta yang mendung itu. Pada raga yang masih menempel di kursi pesawat, saya menghela napas-napas kesyukuran. Betapa, saya yang kampungan dan baru pertama kali naik pesawat ini bisa berada di udara. 

Hari itu saya berangkat ke Aceh dan segera menuju pulau Weh. Sebuah pulau paling barat Indonesia. Saya tak menyangka betapa harapan kecil saya dipeluk oleh semesta dan dikabulkan oleh Pemilik Semesta itu sendiri. 

Bagi banyak orang, naik pesawat dan pergi ke pulau ini adalah suatu hal yang biasa. Ah, jangankan pulau ini, belahan dunia lain pun mungkin telah disambangi. Namun, betapa bagi saya yang belum banyak kemana-kemana dan belum punya pengalaman menaiki burung besi ini menjadi sebuah pengalaman yang menjadi ramai dalam kepala saya.

 Dada saya tidak hanya sesak oleh rasa bahagia. Tapi, ada rasa lain yang menyelinap perlahan sepanjang perjalanan. Sebuah rasa yang menjadikan saya kerdil sekerdil-kerdilnya. Bagaimana tidak? Setelah saya melihat rumah dan gedung di bawah saya yang semakin lama semakin mengecil, saya tidak hanya membayangkan manusia lain dengan sosok hebatnya, hartanya, gedung-gedung yang dibangunnya juga menjadi sesuatu yang kecil. Tapi, saya sendiri yang mengangkasa ini adalah sosok yang juga kecil dalam pandangan mereka yang menjejak di bumi. Betapa pesawat yang saya dulu idam-idamkan untuk dinaiki hanyalah suatu benda lewat di udara, dan manusia yang berada di dalamnya seperti saya bahkan lebih kecil dari titik itu sendiri. Keberuntungan saya mendapat hadiah perjalanan ini, ilmu yang saya punya, uang, dan berbagai hal yang melekat pada diri saya sebagai--yang katanya--milik saya adalah suatu hal yang tidak tampak dan bukanlah apapun sama sekali. Bahkan bukan setitik debu sekalipun.

Perjalanan ini tidak hanya mengantarkan saya untuk menyelami laut di Iboih, berfoto di berbagai tempat indah, memakan berbagai hidangan khas Aceh, dan tidak hanya mengantarkan saya pada monumen kilometer nol Indonesia. Tapi, perjalanan ini juga mengantarkan saya pada titik nol. Sebuah penyadaran bahwa Jika Sang Pemilik Semesta ini mau, Dia bisa memindahkan diri saya ke manapun dan merasakan keindahan apapun. Dia bisa membolak-balikan hati saya sesuai kehendak. Lantas, saya ini patut membanggakan apa dari nolnya diri saya? manusia yang hakikatnya nol. Berasal dari titik nol, selalu berada dalam kondisi titik nol, dan berakhir kelak pada titik nol pula. 
Dan jika Sang Pencipta Semesta ini mau, maka ketidakmungkinan dapat diubah menjadi kemungkinan, begitu pun dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat Dia ubah menjadi ketidakmungkinan. Maka, kegelisahan dan kekhawatiran saya selama ini hanyalah buah dari saya yang kurang yakin dengan itu semua dan saya tidak ingin tidak meyakini ini semua. Saya yang nol ini ingin sepenuhnya yakin bahwa semua hal akan baik-baik saja selama kita punya cinta dari Sang Pencipta. 


Sara Fiza, 13 November 2017.
Dalam perjalanan udara melewati pulau Sumatera.

Wednesday, 13 September 2017

Proses Memulihkan Diri


Hidup adalah rangkaian ujian. Kita sangat mengenal kata-kata itu, bukan? dan tentu kita sudah sangat mengenal kata "Masalah" dan "Ujian". Oh, Tidak hanya mengenal, dua kata itulah yang menemani kita bercengkerama. Merekalah teman hidup kita yang menguntit dan memeluk kita kemudian membanting kita tanpa ampun.

Pernah kita pikir bahwa kata-kata itu telah pergi dengan tenaga habis terkuras. Lemah. Selemah-lemahnya. Tapi, kemudian mereka datang lagi, jauh lebih kuat dari terakhir kita melihatnya. Mereka tidak mengucap salam, terlebih menanyakan kabar. Mereka langsung menghantam tubuh kita hingga kita terpelanting dan patah-patah. Seketika. Kita bahkan belum menyiapkan pelindung terbaik kita.
Hancurlah kita. Sehancur-hancurnya.

Memang begitulah hidup. Kalau mau mencari bahagia selama-lamanya, nampaknya kita salah tempat. Bukan dalam dunia ini dan bukan dalam kehidupan satu ini. Meski hal itu sudah kita telan bagai pil pahit, tapi kita tak pernah benar-benar siap dengan masalah yang datang tanpa permisi dan membawa teman-temannya bernama kehilangan, kesepian, keterputusasaan, ketakutan, kekecewaan, keresahan, kemalangan, dan kematian. Kita tak pernah benar-benar siap dikeroyok oleh rasa-rasa yang memuakkan dan membuat bernapas jadi satu satu.

Tubuh kita--Ya, tubuhku, tubuhmu, tubuh mereka, bukan tubuhmu saja, atau tubuhku saja--sudah patah-patah, memar-memar, atau hancur sehancur-hancurnya. Dengan seluruh rasa yang menyesakkan dada, membuat kita lupa bernapas, mengaduk-aduk isi perut kita, membuat mata air air mata kita meluap dan tumpah hingga bukan lagi berupa mata air, namun air terjun yang tak berkesudahan. Atau bagi sebagian orang, air mata itu kering sekering-keringnya, menyerap kebagian lain dan menghujani hati hingga lapuk. Tidak meluap. Tidak terlihat oleh banyak orang, tapi diri mereka menjadi semakin rapuh. Lantas apa yang kita lakukan? Kita bertahan.

Tidak mudah. Tidak pernah mudah sejak dulu. Tapi, kita masih bisa berlari dengan tubuh yang telah kita rekatkan seadanya. Kita dengan berbagai cara yang berbeda-beda belajar untuk pulih. Kita mengambil perban seadanya. Tapi, kita benar-benar memulihkan diri. Sebagian berkata karena orang tercinta, sebagian hanya butuh waktu. Tapi, sebenarnya kitalah yang berani memulihkan diri kita sendiri. Atas bimbingan Tuhan tentunya. Ia tidak akan mengubah kita langsung pulih, Ia menyerahkan pada kita, apakah kita ingin berubah atau tidak, kita ingin pulih atau tidak. Kemudian saat kita memilih untuk memulihkan diri, Ia mendekap kita erat-erat. Kemudian, kita belajar untuk kembali berjalan. Kali ini berjalan dengan arti buat sesiapa yang mengerti makna dari hadirnya setiap masalah.

Hidup adalah rentetan masalah. Setelah yang satu, muncul yang lain. Tapi, tidak ada cara lain selain untuk memulihkan diri kita sendiri. Maka, hidup adalah sehat-sakit-pulih-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih-pulang.

Jika kita sadar bahwa hidup adalah sarangnya kesakitan dan hanya kesakitan. Maka kita akan jatuh dalam jurang keputusasaan dan bertanya-tanya untuk apa hidup, sedang kita lelah dan tak mampu lagi menahan segala jerih dan perih.

Jadi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan. Bahwa selain hidup ini rangkaian sakit, ia juga adalah rangkaian proses kita memulihkan diri. Dan tentu harus kita yakini bahwa meminum obat sakit kepala saat kepala kita berdenyut, tak seperti abrakadabra. Butuh waktu obat itu masuk ke dalam pencernaan, butuh waktu kita istirahat memejamkan mata, kemudian kita pulih. Dan kita harus yakini ketika kita terjatuh, obat merah, kassa, perban, dan plester tak membuat sakit kita hilang seketika tanpa luka. Butuh waktu sel baru tumbuh, dan bekas luka jatuh kita sulit hilang. Tapi kita akan pulih dan bisa berjalan kembali. Maka kemudian, kita sadar bahwa luka hidup kita pun butuh proses. Setiap orang memiliki proses yang berbeda, dan itu tidak mengapa.

Hidup adalah proses memulihkan diri. Hidup adalah proses kita menutup luka-luka. Bekas akan tetap ada, tapi bekas itulah yang membuat kita mengingat bahwa kita adalah manusia-manusia yang berhasil bertahan sejauh ini.

Sudah puluhan, ratusan, ribuan luka. Kita sudah lelah. Tapi, kita bisa memulihkan diri. Suatu saat jika luka itu kembali, tarik napas dalam-dalam dan katakan pada tubuh kita bahwa luka ini memang sakit, memang lelah, memang perih, tapi tidak mengapa. Kita akan belajar untuk pulih. Tidak usah menghina diri yang terlalu lambat pulih karena melihat orang lain begitu cepat kembali pulih dan berlari. Diri kita akan pulih dengan cara kita sendiri, dengan terpincang-pincang, dengan menyeret diri untuk dibawa berlari.

"Tapi sulit" otak kita yang sudah lelah berbisik.

Karena sulitnya, kita akan belajar untuk pulih. Kita tidak tahu caranya pulih, tapi kita akan belajar. Kita ditemani oleh waktu yang akan meneteskan obat merah sedikit-sedikit pada luka-luka di sekujur tubuh. Waktu akan mempertemukan kita dengan bahagia, dengan manusia-manusia lainnya, dan tentunya suatu saat ia akan membawa kita pada masalah yang menjegal di persimpangan. Tapi, tak mengapa. Kita akan siap untuk dibanting dan dihancurkan. Kemudian, kita sudah terbiasa untuk memulihkan diri. Kita akan belajar pulih lagi terus menerus, hingga kita benar-benar berpulang.

Mari kita bersepakat untuk meyakinkan diri bahwa kita lahir bukan hanya terlatih untuk patah hati, tapi juga terlatih untuk memulihkan diri.





Post Signature

Post Signature
Pembaca hidup dan buku yang ada karena 'udunan' kebaikan dari banyak orang. Silakan kunjungi rumah sebelah di www.medium.com/@sarafiza